Showing posts with label mc-update news-more.... Show all posts
Showing posts with label mc-update news-more.... Show all posts

March 02, 2013

Series Guide#TOEFL iBT Reading (1)

Hai Yang lagi sibuk persiapkan TOEFL, bagaiman persiapan kamu sejauh ini? sudah mantap? nilai TOEFLnya sudah mencapai angka minimal gak tuk daftar beasiswa? semoga terus meningkat ya..Keep Persevering ya...

Baik...Sekarang Dr. English dari Lembaga Kursus Plus Institute akan menuliskan beberapa hal berkaitan dengan TOEFL iBT, khususnya untuk bagian Reading. anyway, udah tau kan iBT stands for Internet Based Test atau tes TOEFL yang menggunakan media internet.
  1. Untuk TOEFL iBT, ada 10 model pertanyaan yang terdapat pada bagian reading.
    Masing-masing model akan doctor paparkan pada postingan selanjutnya..sabar ya!!!
  2. Pada umumnya bacaan-bacaan atau excerpts atau passage yang disajikan pada tes reading itu berasal dari buku-buku tek yang berhubungan dengan dunia akademik. jadi bukan bacaan di koran, majalah, atau publikasi-publikasi harian yang jauh dari nuansa akademis ya.
  3. Meskipun demikian, kita tidak perlu khawati kalau kita tidak familiar dengan topik-topik yang muncul di dalam tes reading, karena pada umumnya semua informasi yang kita butuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ada di dalam teks. 
  4. Model passage excerpts yang ada pada bagian reading dapat di kelompokkan kedalam tiga model yaitu;
    [1] Teks yang berbentuk eksposisi
    [2] Teks yang berbentuk Argumentasi
    [3] Teks yang berbentuk Hestoris
    Penjelasan untuk masing-masing bentuk di atas, akan Doctor English Jelaskan pada posting selanjutnya ya...Sabar Bos.....
  5. Yang perlu test-takers ingat adalah...penyajian teks di bagian Reading biasanya menggunakan pendekatan yang berbeda (more than perspective or point of view).
  6. Pernah dengar <<<<< Classification | Comparison/Contrast | Cause/Effect | Problem/Solution >>>>>???
    Nah, passage excerpt yang muncul di dalam reading pada umumnya mengikuti pola-pola tersebut.
    Ada teks yang sifatnya mengklasifikasikan atau menggelompokkan tentang sesuatu.
    Ada teks yang sifatnya membandingkan (compare) dan membedakan (contrast).
    Ada teks yang sifatnya Sebab (Cause) dan Akibar (Effect). dan
    Ada juga teks yang sifatnya Masalah (Problem), kemudian ada jalan keluarnya (Solution).
  7. Terakhir untuk seri pertama ini yang perlu test-takers ketahui yaitu panjang teks. Pada umumnya bacaan-bacaan yang disajikan berjumlah sekitar 700 kata per teks. Meskipun demikian, terkadang kurang dari 700 atau sebaliknya lebih dari 700 kata. 

    Itu dulu untuk episode pertama, tunggu guide selanjutnya tentang Jenis dan Jumlah pertanyaan pada setiap jenis-jenis teks.
    Semoga bermanfaat ya!!!

    >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
    Informasi di atas diambil dari berbagai sumber, terutama dari Buku TOEFL IBT edisi ketiga yang dipublikasi oleh ETS.

December 08, 2012

Repost #Penduduk Aceh Capai 5 Juta

BANDA ACEH - Berdasarkan Data Agregat Kependudukan Per Kecamatan (DAK2) dan Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang diterbitkan Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Aceh telah mencapai 5.015.234 orang.

“DAK2 itu diserahkan hari ini kepada Ketua KIP Aceh sebagai bahan bagi KIP Aceh dalam menyusun daerah pemilihan DPRA dan DPRK serta sebagai bahan untuk menyusun daftar pemilih sementara,” kata Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah kepada wartawan seusai acara penyerahan dokumen tersebut kepada Ketua KIP Aceh, Drs Abdul Salam Poroh di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur, Kamis (6/12).
photo from blog.kevinthom.com

Didampingi Kadis Registrasi Penduduk Aceh, Ismarisiska, dan Staf Gubernur Bidang Pemerintahan, Drs HM Ali Basyah MSi, Gubernur Zaini Abdullah menjelaskan, DAK2 dan DP 4 yang diserahkan kepada Ketua KIP Aceh itu bersumber dari pangkalan data (database) kependudukan sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK) yang diintegrasikan dengan data hasil perekaman e-KTP.

DAK2 itu, kata Gubernur Zaini, harus diserahkan oleh pemerintah daerah kepada ketua KIP provinsi dan kabupaten/kota secara serentak pada 6 Desember 2012 dalam bentuk CD dan DVD. Sedangkan untuk DP4-nya diserahkah pada 7 Februari 2013.

Penyerahan DAK2 itu, kata Gubernur Zaii, memberikan arti bahwa tahapan pelaksanaan pemilihan anggota legislatif untuk periode 2014-2019, telah dimulai.

KIP selaku penyelenggara pemilihan anggota legislatif harus menindaklanjuti tahapan pemilihan anggota legislatif tersebut sesuai tahapan yang telah dijadwalkan oleh Mendagri dan KPU Pusat.

Harapan Pemerintah Aceh setelah DAK2 ini diserahkan kepada KIP, kata Zaini, adalah KIP segera menyusun program dan jadwal kerjanya untuk pelaksanaan pendataran pemilih sementara. “Jangan ada, penduduk Aceh yang sudah layak memilih tidak terdaftar dalam daftar pemilih sementara. Sebaliknya, jangan ada yang terdaftar ganda. KIP harus bekerja saksama, sehingga tidak merugikan masyarakat,” kata Gubernur Zaini Abdullah.

Ketua KIP Aceh, Drs Abdul Salam Poroh mengatakan, setelah pihaknya menerima DAK2 dari Pemerintah Aceh, langkah berikutnya adalah menyusun program dan jadwal pembuatan daftar pemilih sementara. DAK2 yang diserahkan gubernur kepadanya, akan diteruskan kepada KIP kabupaten/kota untuk menyusun program dan jadwal pendaftaran pemilih sementara.

Menurut jadwal sementara, pemilihan anggota legislatif akan dilaksanakan 9 April 2014. Tapi, tahapan pelaksanaan pendaftaran pemilihnya harus sudah dimulai dari sekarang, agar pada pelaksanaannya nanti, semua penduduk yang telah berhak memilih, yaitu telah berumur 17 tahun atau sudah menikah, semua terdaftar dalam daftar pemilih sementara maupun pemilih tetap.

Menurut Salam Poroh, jumlah penduduk Aceh telah mencapai 5.015.234 orang. Penduduk terbanyak, masih didominasi Aceh Utara, mencapai 558.295 orang, kedua Pidie 422.564 orang, dan ketiga Aceh Timur 403.417 orang.

Sedangkan penduduk yang paling sedikit adalah Kota Sabang (35.982 orang), kedua Subulussalam 75.959 orang, dan ketiga Aceh Jaya, 83.211 orang. Adapun Banda Aceh, sebagai ibu kota provinsi, jumlah penduduknya baru 255.243 orang, lebih rendah dari tetangganya Aceh Besar yang mencapai 375.494 orang. (her)

Sumber: Serambi Indonesia

September 27, 2012

#Competition : We Give, We Exist

Bob, Me, and Sonia are going to sightseeing around Kentucky. May 2010 in USA.
Humble, simple, noble, respectful, helpful are only little words could describe my homestay-parent. It was just 2 days, yet it totally impressed me years. What’s more, two days with them, I felt as excited as at my own home with my own parent. Wow...imaging the moment, I wish to return to state soon.
It was 2 years since my first visit to United State of America (USA). I granted a competitive scholarship from the Institute of International Education (IIE) in collaboration with the Indonesian International Education Foundation (IIEF). The program was funded by US Department of State. The program aimed to prepare a chance to participants to gain English skill for academic purpose at a prestigious university in USA for 8 weeks. Among 800 applicants, 21 of 61 selected undergraduate students all over archipelagoes were placed at Ohio University, USA.
We were very lucky to visit Ohio in spring which gave us an opportunity to spend a weekend through homestay program. I and a friend of mine were deployed at a lansia’s house (far advanced in life). Bob Derge, my father, was about 67, and Sonia, my mother, was about 59 years old in 2010. They based in Kentucky State in which neighbourhood of Ohio. Nevertheless my homestay-parent was too old to host the international students, but they were totally friendly and helpful. The ways they served us was completely opened my mind and taught me many lessons in term of attitude, culture, and religion.

My first lesson-learn was about attitude. The way Bob’s family served us was no word to explain. They were absolutely friendly, helpful, respectful, and humble. At first we stepped on their house, they welcomed us with a cup of tea prior to show us where to sleep. Then, they guided us to around the big-house. They showed where to cook, to take bath, to sleep, to wash, to play, and to browse. Each room we saw, they friendly informed us the functions of each room, sometime they inserted with the history of the house. No matter it was necessary or useless; they kept telling us every single space and thing both inside and outside the house.

Me, Bob, and Sonia inside the house. May 2010 in Kentucky, USA.
At night, they prepared us a thick blanket, because they understood about the different weather between Indonesian and state. In the morning, they heated the water for us to make a cup of tea or coffee. Before cooking, Sonia asked us what kind of American food we want to taste. In addition, as part of treatment, with complete information in printed-papers, they gave us the full rights to decide which tourist destinations we want to visit. Wow...it was the most unforgettable moment in my life.

Regarding to culture value, I learnt about the real self-independence within my homestay. Bob has two boys who married already and lived quite far from him. Bob is currently living with his wife, Sonia plus his “eternal kid”, Bob and Sonia considered the dog as the eternal kid, because unlike their own sons, it won’t be married or marries and able to accompanied them for long-life ever.

Despite Bob’s only lives with his wife, and they were both retired already due to their old age, they didn’t act as the spoilt children. They didn’t rely their needs on their sons. They didn’t pay any maid to serve them. Sonia cooked together with Bob to prepare for breakfast, lunch, and dinner. They scheduled themselves to water the flowers in the front yard. Sonia has not any driver to take her to and at market. They did all thing together alone without any help from maid or home-servant.

What’s a contrast culture performed in Indonesia in many ways by many of us. A businessman has different driver for her wife, kids, and his own needs. An actress has a special maid to cook, a maid to wash, a servant to look after the kids, and any other maids depend on needs. A government also shows the same terrible culture, he/she has a single assistant for driver, a single assistant in the office, and a single assistant at home. Oh my god, how poor we are in term of independence and maturity.

In relation with religion value, a weekend homestay taught me how beautiful and peaceful the religion in America is. Bob and Sonia are Christians, but they served us totally no discrimination at all. Bob read our background information already prior to host us; he prepared us the prayer mats to do five-time prayers. Sonia made sure us to cook halal foods. Furthermore, they also kept away their big-black-dog from us, because they knew that Muslim is forbidden to be in touched with the dog. In short, for religion reason, there was nothing to worry to worship as my own belief. In fact, the real tolerance was performed by Bob’s family. Now I know what the real tolerance means for me is.

Before I said good-bye to Bob’s family, I gave them a couple of gifts which I brought from Indonesia. To be honest, giving gift is a good thing from Indonesia when we go abroad. Finally, on the way to meeting point, I pretended to be brave to ask Bob and Sonia a question stucked in my heart since first day of homestay program, “Are you paid for this homestay?”.  With big smile, Sonia answered, “That is the common question asked by every international students we host, and to be honest we are paid for nothing for homestay; on the contrary, we paid some fees to join with voluntary organization”. Surprisingly, I asked her again “Why?”, with his own style, Bob said “We fell happy when we can give something for someone”, then Sonia ended up the conversation “We give, We exist”.

Me and Sonia inside the house, Kentucky May 2010.


September 13, 2012

#Repost: The Death of Samurai

Artikel ini saya ambil dari Milis Forum Peniliti Aceh, karena sangat menarik bagi saya, makanya reposting di sini.
***


The Death of Samurai
Written by Yodhia Antariksa

Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.

Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya ke perusahaan China. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).


Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.


Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.


What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.


Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.


Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.


Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).


Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.


Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.


Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.


Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.


Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.


Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.


Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.


Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.


Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.


Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.


Note: Semoga Bermanfaat...Lesson-Learned bagi kita adalah pentingnya semangat dan kesadaran untuk berinovasi.

August 27, 2012

#Award: CNN Television Journalist Award 2012


The CNN Television Journalist Award in association with Indovision, seek to encourage, promote and recognize excellence in Indonesian television journalism, and to reinforce the role journalists have played in Indonesia's development.
There are four award categories which are designed to encourage submissions on a broad range of topics of public interest to Indonesia: news, features, business and education.
The CNN Television Journalist Award winner will receive an all expenses paid three week placement on a professional journalist training program - the "CNN Journalism Fellowship" held at CNN's headquarters in Atlanta, USA. The only program of its kind in the world, the winner will have an opportunity to learn and participate in international newsgathering during one of the most exciting times in the international news calendar, the U.S. Presidential Elections. Each category winner also receives a laptop computer.
The competition is open to all professional television journalists. All television entries must have aired between January 2011 to June 2012 on an Indonesian-owned broadcast channel.

Further Information, click HERE

August 25, 2012

#ScholarshipInfo: Reagan-Fascell Democracy Fellows Program


Scholarship / Financial aid: a monthly stipend for living expenses+health insurance+reimbursement for travel

Date: 5 months

Deadline: October 15, 2012

Open to: democratic activists, human rights advocates, journalists scholars from around the world




Announcement follows

Named in honor of NED’s principal founders, former president Ronald Reagan and the late congressman Dante Fascell, the Reagan-Fascell Democracy Fellows Program was established in 2001 with funding from the U.S. Congress to enable democratic practitioners, scholars, and journalists from around the world to deepen their understanding of democracy and enhance their ability to promote democratic change.

Reagan-Fascell Democracy Fellows maintain full-time residence at the International Forum for Democratic Studies, NED’s research arm located in Washington, D.C.
Dedicated to international exchange, the program offers a collegial environment for fellows to reflect on their experiences and consider lessons learned; conduct research and writing; develop contacts and exchange ideas with counterparts in Washington, D.C.; and build ties that contribute to the development of a global network of democracy advocates.

The Forum hosts 16 to 20 Reagan-Fascell Fellows per year, divided into two five-month sessions:

Fall Session: October 1 – February 28
Spring Session: March 1 – July 31
The program offers two tracks, a practitioner track and a scholarly track.

The Practitioner Track

The Reagan-Fascell program was established primarily to support democratic activists, human rights advocates, journalists, and others who work on the front lines of democracy promotion in emerging and aspiring democracies. The program seeks to provide experienced activists with an opportunity to reflect on their work, learn from counterparts in the United States, and reevaluate techniques for building democracy in their country of origin. Fellowships on the practitioner track typically culminate in a strategy memorandum, short article or op-ed, and a formal presentation of the fellow’s analysis and ideas.

The Scholarly Track

Recognizing the importance of intellectual contributions to the theory and practice of democracy, the program offers a scholarly track principally for professors and researchers from emerging and aspiring democracies. Accomplished scholars from established democracies are also eligible to apply. Applicants are expected to possess a Ph.D., or academic equivalent, at the time of application, and to have developed a rigorous research outline. During their stay at the Forum, scholars make at least one formal presentation and complete a substantial piece of writing (a monograph or book) for publication.

Facilities and Services

Each fellow receives a monthly stipend for living expenses, plus health insurance and reimbursement for travel to and from Washington, D.C., at the beginning and end of the fellowship period
. Fellows also receive a fully equipped office and research support through the Forum’s Democracy Resource Center and the Research Associates Program.

While in residence at the Forum, fellows have the opportunity to interact with staff and other visiting scholars and activists in the collegial environment at NED, and with the policy, media, and academic communities in Washington, D.C. Fellows are encouraged to consult with counterparts in the United States, and to participate in the many conferences and seminars held at NED and at the various universities, think tanks, and nongovernmental organizations in the metropolitan area.

July 07, 2012

[Episode 8_Note for MEP Australia]_“Kantin Kejujuran” di Mesjid Melbourne

Written in:
Melbourne, 12 Juni 2012 // 23.15 Melbourne Time

Catatan:
Artikel di bawah ini awalnya saya kirimkan untuk Citizen Reporter ke Media Serambi Indonesia. Namun yang dimuat malah laporan saya berjudul "Merakyatnya DPR Australia" edisi 24 Juni 2012.
Lokasi photo ini di depan Darling Tower, Kota Melbourne, tempat kami nginap.
Photo diambil oleh Neng Elis pada tanggal 14 Juni 2012.


“Advanced Country does not need police”. Begitu salah satu ucapan Eeqbal Hassim, Ph. D dalam proses dialog di Islamic Victoria of Council (ICV) yang terletak di  sebelah barat Melbourne, Australia. 

Saya bersama empat delegasi lainnya dari seluruh Indonesia mendapat kesempatan untuk mengunjungi Australia dalam program Pertukaran Tokoh Muda Muslim antara Indonesia dan Australia (Muslim Exchange Program). Program yang didanai oleh Autralia Indonesia Institute (AII) ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkunjung ke Australia selama 14 hari.

Kami mempunyai kesempatan untuk mengunjungi beberapa organisasi Islam, Perguruan Tinggi, Akademisi, NGO, Peniliti, Guru Besar, aktivis, dan bahkan organsisasi atau komuntias non-muslim di 4 kota Australia yaitu Melbourne, Shepparton, Canberra, dan Sydney mulai tanggal 11-24 Juni 2012.

Pada hari pertama kemarin tanggal 11 Juni 2012, kami mengikuti diskusi singkat dengan Dr.Eeqbal Hassim di salah satu Mesjid yang ada di Kota Melbourne. Dr. Eeqbal sehari-hari mengajar di Universitas Melbourne untuk bidang Asian Studies. Disamping itu, pria yang kelahiran Singapura ini juga sebagai salah satu pengurus Mesjid Islamic Council of Victoria (ICV).

Ada yang langsung menarik perhatian kami ketika memasuki ICV di ruang utama yaitu adanya minuman dan makanan yang berada persis di samping pintu masuk. Awalnya saya pikir, itu minuman buat tamu-tamu yang berkunjung. Kemudian Dr. Eeqbal menjelaskan kalau makanan dan minuman tersebut untuk dijual.

Menariknya tidak ada penjualnya yang berdiri dekat kulkas dan rak makanannya, jadi kalau kita mau membeli, silakan meletakkan uang di atas meja yang sudah disediakan. Untuk anda ketahui, tempat minuman tersebut tidak sama seperti minuman-minuman yang dijual di Bandara yang dikunci rapi memakai serta camera CCTV dan anda harus memasukkan koin untuk bisa mengambil minumannya. dan sebelum meninggalkan Melbourne, Saya sempat diajak sama Mas Reza ke Mesjid,namanya Melbourne Madinah. Reza menjadi relawan di Cumminity Center pada devisi Mercy Mission Madinah, dan you know waht ???ternyata mereka juga punyan layanan sejenis itu. (Edit ketika posting).

Photo tersebut diambil oleh Mas Zainal di ICV.

Dr. Eeqbal menyebutnya dengan Istilah “Honesty Canteen” atau kalau di Indonesia kita sering mengatakan Kantin Kejujuran. Ketika Indonesia demam dengan kantin kejujuran, banyak sekolah-sekolah di Aceh juga ikut membuat kantin dengan konsep yang sama. Ada sekolah yang melakukannya dengan sangat serius, ada juga hanya karena tidak ingin dikatangan enggak ikut zaman atau hanya sekedar ikut-ikutan. Akibatnya banyak kantin kejujuran tersebut tidak bertahan lama, bahkan tidak sedikit yang sudah gulung tikar.

Ketika kami bertanya kenapa kantin tersebut bisa bertahan lama?. Eeqbal menceritakan banyak hal berkenaan tentang kejujuran yang bisa kita ambil pelajarannya. Alumnus Universitas Melbourne tersebut menjelaskan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, saling menghargai, dan sebagainya sudah tertransfer kedalam perilaku setiap orang di Australia, dan bahkan sudah menjadi budaya. Artinya tidak lagi sebatas tiori yang dipelajari dari buku atau guru agama di sekolah formal, tapi sudah masuk ketahap praktek dan menjadi sikap.

Sebagai salah satu contoh, Eeqbal menyebutkan di persimpangan jalan raya. Di jalan-jalan raya yang banyak pernyeberangannya seperti simpang 4, 5, bahkan lebih, anda tidak akan melihat adanya polisi lalu lintas. Para pengendara mobil pasti tidak akan menerobos jalan atau melanggar lalu lintas, meskipun tidak ada orang atau mobil yang melintas, bahkan di malam hari. Karenanya tidak berlebihan kalau dia mengatakan “Negara maju tidak butuh polisi lalu lintas di persimpangan (Advance country does not police)”.

Contoh lainnya, Eeqbal menyebutkan, apabila ada tulisan “Selling Apples” di sebuah kebun, kemudian apel tersebut diletakkan dalam sebuah tempat lengkap dengan harga perkilogramnya, kebanyakan pemiliknya tidak menjaga apel tersebut. Menurut dia, jarang sekali, bahkan hampir tidak ada pembeli yang tidak meletakkan uangnya sesuai dengan jumlah apel yang diambilnya.

Terlepas dari sisi-sisi negative lainya, praktek-praktek seperti inilah yang kadang membuat kita ummat Muslim di Indonesia, terutama di Aceh untuk berkaca kepada Negara-negara barat seperti Australia. Sebagai salah satu bukti bahwa kita belum kaffah mempraktekka apa yang diajarkan oleh Islam tentang kejujuran, misalkan masih banyak sandal atau motor yang hilang di Mesjid.

Sebagai informasi tambahan tentang ICV, banyak Masyarakat Muslim Melbourne menyebutnya sabagai City Mosque atau Mesjid Kota. Banyak tempat-tempat ibadah ummat Islam di Australia, seperti ICV tidak hanya difungsikan untuk shalat jama’ah harian atau shalat terawih dan lebaran saja namun juga difungsikan untuk berbagai kegiatan-kegiatan lainnya baik bersifat sosial maupun keagamaan.

Ada mesjid yang mempunyai pusat-pusat study untuk gender, multikulturalisme antar agama, dan interfaith dialogue, namun ada juga mesjid yang mempunyai tim sepakbola, renang, bahkan piano. dan itu bermanfaat juga untuk mempersatukan masyarakat yang multi etnik, budaya, kebangsaan, strata sosial, dan bahasa. Di Australia ada sekitar 40 persen penduduknya baragama Islam, menariknya 2,5 persen diantara mereka berasal dari Indonesia. Sedangkan Melbourne sendiri saat ini memiliki 12.000 Muslim dari lebih 100 negara yang berbeda.

Semoga Bermanfaat ya!!!
Group Picture dengan Ibu Marianne Hale dari Korowa Anglican Girls' School di Melbourne.
Photo diambil oleh Mas Wawan pada tanggal 14 Juni 2012.

July 05, 2012

[Episode 5_Note for MEP Australia]_Prepare Tomorrow, Today


Written in:
Jakarta, 10 June 2012 // 2.39 WIB.



Photo tersebut diambil di Kawasan The University of Melbourne.
Photo diambil oleh Mas Zainal pada tanggal 15 Juni 2012.

Setelah mengikuti briefing hari jum’at tanggal 8 Juni 2012 di Kedutaan Australia Jakarta, saya mendapatkan info kalau kota Melbourne sebagai salah satu tujuan program Muslim Exchange ini cuacanya super dingin, bahkan bisa mencapai 2 derjat. Wow…………….what’s the extremely cool weather for me???

Bagi saya yang memiliki berat badan minus 50 KG,,hee…jadi malu…kok kurus banget saya ya??hampir semua kawan-kawan lama yang saya jumpai bertanya “Adam, kenapa kamu kurus banget?”..to be honest, agak minder kadang2,tapi ya apa daya, ini adalah rahmat Allah, ambil sisi positifnya aja, Alhamdulillah saya jarang sakit.
Kok malah keluyuran kemana-mana ni ya???
OkeKeKeKe….

Buat saya musim semi aja dulu di Amerika pada tahun 2010 sudah sangat dingin, apalagi sekarang musim dingin dan tidak sembarang dingin lhoe, mencapai 2 derajat, jangan2 bisa saja sampe minus kan? Oh my godddddddddddddddddd…gimana ni!!! (Dan bahkan ternyata sempat minus 4 ketika berada di Canberra, edit waktu posting di blog)..

Di sisi lain, programnya sangat padat banget dan mobile banget..sangat banyak agendanya. Mulai jam 8 pagi sampai dengan 6 sore, bahkan ada yang malam pas dinner sambil ada pertemuan. Wow…….full day kan??tentu saja akan sangat membutuhkan stamina dan kesehatan yang prima, terus bagaimana dong kalau cuaca dingin bisa mempengaruhi kesempurnaan program ini bagi saya???semoga saja Allah memberikan saya yang y terbaik…ehmm…be positive thinking man…amin…

Well..sabagai salah satu caranya adalah mencari Winter Jacket yang setebal-tebalnya yang dipakai khusus untuk daerah yang ada musim dingin ditambah dengan shawl, penutup kepala, kaus kaki, dan sarung tangan plus dalaman khusus (Long Jhon) untuk membantu menghangatkan.

Hari ini (sabtu tanggal 9 Juni 2012) saya alokasikan waktu khusus untuk mencari perlengkapan tersebut, disamping obata-obatan dan beberapa keperluan lainnya. Setelah keliling di beberapa pasar dan mall di Jakarta, sampai dengan sore hari saya belum juga mendapatkan semua kebutuhan yang saya inginkan. Bahkan ketika saya menuliskan ini saya masih khawatir kalau besok saya tidak sempat mencarinya lagi.

Ditambah lagi, baju baru aja Saya cuci tadi jam 10 Malam terus harus seterika besok siang, sedangkan mall-mall di Jakarta biasanya dibuka sekitar jam 10 pagi. Woow….akan sangat terburu-buru besok karena berangkat kebandara habis asar.

Akibatnya saya terpaksa harus merepotkan kakak saya tercinta, Kak Fitri. Semoga saja besok dia berkenan untuk menemani saya mencari keperluan-keperluan tersebut. Meskipun saya tau kalau dia super ekstra sibuk dengant tanggung jawabnya sebagai Ketum Kohati PB HMI dan Komisari PIM Aceh. Meskipun demikian, dengan sangat terpaksa saya harus mengajak dia mencari kebutuhan-kebutuhan ini. Semoga saja dia mau, dan Allah memberikan kemudahan. Amin…

Kalau sudah genting seperti ini, saya baru belajar betapa pentingnya “Persiapan yang Matang”, jangan Meremehkan hal-hal kecil, jangan suka menunda. Awalnya saya pikir bisa saya andalkan jacket yang sudah ada yang menurut saya lumayan tebal untuk katagori musim dingin Indonesia, atau kalaupun harus beli saya bisa cari di Jakarta saya pikir.

Namun faktanya, toh sekarang sudah sangat keburu. Padahal 2 minggu terakhir saya bolak-balik di Jakarta dan agendanya tidak terlalu padat. Kalau saya mau cari kebutuhan-kebutuhan tersebut dari kunjungan sebelumnya ke Jakarta mungkin tidak perlu khawatir lagi sekarang. Tapi itulah saya, suka menunda..semoga saja anda para netters, readers, dan bloggers bisa belajar dari pengalaman saya ini.. memang terkesan remeh temeh, tapi ini fatal lhoe…bayangkan kalau saya tidak punya penghangat badan seperti jacket dan dalaman plus kaus kaki dan sarung tangan, what happen then???pasti worst kan???....

Untuk kondisi seperti ini, saya punya quote menarik “Prepare Tomorrow, Today!”…siapkan untuk hari esok, hari ini. Artinya jangan suka menunda. Atau dapat pula kita interpretasikan secara lebih luas, bahwa perlu memikirkan masa depan secara lebih matan-matang agar tidak menyesal. Lebih luas lagi kita bisa menterjemahkannya bahwa Negara ini perlu memikirkan untuk generasi esok, perlu adanya regenerasi, untuk itu tidak boleh serakah apalagi dalam menggeksplorasi sumber daya alam. Sekali lagi PREPARE TOMORROW, TODAY!.


Semoga Bermanfaat ya!!!


Photo diambil tanggal 14 Juni 2012
pada saat kami mengunjungi Migrant Resource Center di Kawasan Dandenong, Melbourne.
Selain rombongan MEP, ada Bill Collopy yang menyambut kami di MRC.









May 16, 2012

Opini_Dilema Pendidikan Karakter (Repost)

PENDIDIKAN kita sedang dihimpit dilema, antara mengutamakan pembentukan karakter siswa atau memenuhi kepentingan tes. Di satu sisi, diharapkan akan lahir anak-anak didik yang bukan hanya memiliki ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter atau kepribadian yang baik. Tujuannya agar lahir generasi yang berkembang dengan karakter berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama (UU Sisdiknas 2003; Suyanto, 2009). Sedangkan di sisi lain, diharapkan semua siswa mampu menjawab soal tes, terserah bagaimana caranya.

Para peneliti menemukan bahwa pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa ada role model atau orang yang patut diteladani. Pertanyaan, siapa yang layak dijadikan role model untuk dijadikan contoh oleh para siswa sebagai hasil pendidikan yang baik saat ini?

Setidaknya, guru-guru yang memenuhi syaratlah yang menjadi role model utama bagi siswa (Lumpkin, 2008). Mereka punya kesempatan untuk membentuk karakter siswa, misalnya, dengan melaksanakan saling menghargai dan bertanggungjawab dalam proses pembelajaran (Lickona, 1991). Namun, guru-guru pun dalam pembelajaran dan kesehariannya harus mengejar kurikulum dan berorientasi kepada tes ketimbang pengembangan karakter siswa. Hasilnya, pendidikan kebut hasil tes, yang dalam bahasa Aceh saya gunakan istilah ‘karattes’ atau kebut belajar untuk tes. 

 Mengutamakan hasil tes
Pendidikan yang lebih mengutamakan hasil tes akan cenderung mengabaikan prosesnya. Sedangkan pendidikan karakter memerlukan penglibatan proses pengembangan kognitif sekaligus sosial siswa. Lebih-lebih, pengetahuan umumnya dikonstruksi bersama dengan cara berinteraksi dengan para siswa lain dan atau guru. Pendidikan seperti ini akan membantu melahirkan siswa yang menghargai pendapat orang lain meskipun berbeda dengan pendapatnya, mampu bekerja dalam tim, dan mengutamakan kemampuan pengambilan keputusan secara bersama-sama.

Karena belajar sifatnya interaktif, bahasa merupakan alat yang sangat besar perannya. Penggunaan bahasa-bahasa yang sifatnya mengajak, bahasa menghargai pendapat orang lain, bahasa yang mengandung harapan kemajuan, dan sejenisnya. Namun, yang dikhawatirkan kalau ada guru atau dosen yang karena merasa ilmunya hebat, dengan angkuh menggunakan bahasa-bahasa yang sifatnya mengejek, menjatuhkan martabat, dan sejenisnya. Ini bisa dikatakan sebagai oknum yang cacat karakter baik dalam berbahasa. Padahal sebagian karakter manusia ditunjukkan lewat bahasa yang digunakannya.

Cacat dari segi karakter, disengaja atau tidak, bisa juga terjadi dalam dunia pendidikan secara hirarkis. Misalnya, kalau sekolah-sekolah dalam suatu kecamatan banyak yang tidak lulus ujian nasional, maka kepala sekolahnya akan diberikan sanksi tertentu. Lantas kepala sekolah pun menggunakan bahasa-bahasa ancaman kepada guru-gurunya. Mulailah para guru bergerilya mempersiapkan siswa-siswanya dengan soal-soal ujian yang begitu banyak. Dan ada juga yang membantu siswa menjawab soal ketika ujian. Inilah yang terjadi bila pendidikan lebih mengutamakan pada hasil tes.

 Pelajaran buruk
Dilihat dari perspekstif pendidikan karakter, proses seperti itu malah mendegradasi karakter guru dan menjadi pelajaran buruk bagi pembentukan karakter siswa. Pada kasus memberikan kunci jawaban kepada murid-muridnya, guru telah mengorbankan idealismenya demi hasil tes. Kebenaran telah tergantikan dengan pembenaran (yang salah). Disadari atau tidak, ini adalah praktek yang merusak nilai pendidikan dan menghancurkan pilar-pilar pembentuk karakter siswa.  Karakter kejujuran menjadi terkorbankan demi hasil berbentuk angka-angka tinggi. 

Bila hal ini terpelihara dalam sistem pendidikan kita, para penyelenggara pendidikan akan menjadi bagaikan robot. Sebagaimana lazimnya, robot hanya menjalankan tugas-tugas yang sudah diprogramkan dalam mesinnya, tanpa melibatkan unsur-unsur psikologis, tanpa mampu memikirkan nilai-nilai kemanusiaan, perbedaan kepentingan manusia, atau potensi yang berbeda yang dimiliki masing-masing siswa, dan lain-lain. 

Pendidikan seperti ini tak terlepas dari faktor kultural dan historis yang diterima secara pasif, yang hanya membentuk anak untuk menerima saja secara pasif, tanpa mempertanyakan mengapa demikian. Budaya seperti ini biasanya terjadi pada orang-orang yang pernah dijajah, yang harus tunduk kepada pihak penjajah, agarnya hegemoninya terus berlangsung. Budaya seperti ini kadangkala dibawa ke dalam kelas belajar, apalagi kelas merupakan wilayah produksi dan reproduksi budaya.

Budaya seperti ini pada saatnya akan melahirkan masyarakat yang pasif. Lihatlah bagaimana rakyat terus dirundung kemiskinan, tetapi tidak gencar mempertanyakan mengapa terus miskin. Padahal kemiskinan tidak bisa hanya dilihat secara mikro (pada orang miskin saja), tetapi penting melihat secara makro (pada institusi negara dan bahkan agenda global). Bisa saja mencurigai kemiskinan tak luput dari agenda politik global.

Apalagi akan sangat terbuka kesempatan menguasai dunia bila terdapat banyak orang miskin dan kurang ilmu pengetahuan. Sebagaimana diketahui, kapitalis menguasai sumber-sumber dunia lewat privatisasi dan liberalisasi. Hanya sebagian orang saja, terutama orang-orang yang terlibat dalam negosiasi, yang beruntung, sedangkan rakyat jelata akan terus buntung.

 Proyek ‘cilet-cilet’
Padahal di sejumlah negara (seperti Arab Saudi) terbukti, nasionalisasi perusahaan-perusahaan besar yang mengeruk kekayaan alam di negerinya merupakan solusi mujarab untuk mengentaskan kemiskinan. Namun, mengapa ini tidak dijalankan dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia, termasuk di Aceh? Mengapa pengentasan kemiskinan penduduk yang begitu besar persentasenya hanya dijalankan dengan proyek cilet-cilet dan dengan dana kecil? Dan, mengapa masyarakat banyak diam tidak mempertanyakannya? Tidak tertutup kemungkinan keadaan masyarakat seperti ini lahir dari rahim pendidikan pasif.   

Dalam politik lokal pun, banyaknya orang miskin dan kurang pengetahuan merupakan suatu peluang. Dengan sedikit “pemberian” saja, banyak orang miskin akan mengorbankan idealismenya untuk memilih orang-orang tertentu, meskipun tidak punya kapasitas, dalam Pilkada, misalnya. Padahal memilih orang-orang yang kurang mampu atau terlalu berorientasi bisnis bisa menambah lama masa dan parah kemiskinan masyarakat, karena yang dipilih lebih beriorientasi memperkaya diri ketimbang memakmurkan rakyatnya dan merusak tatanan pemerintahan. Apalagi sudah lazim terjadi, orang yang sudah banyak mengeluarkan modalnya, akan lebih mengutamakan upaya untuk pengembalian modalnya berkali lipat.

Penulis adalah Jarjani Usman, Mahasiswa Ph.D Pendidikan, Deakin University, Australia. Email: jarjani@gmail.com

Sumber: Serambi Indonesia

Arshad Manji: Mereka Bukan Tuhan

Sumber : VIVAnews -

Seorang pemikir, wanita Kanada kelahiran Uganda, pekan lalu muncul di berbagai media tanah air. Saat itu, ratusan massa ormas-ormas Islam dan primordial menolak acara diskusi yang melibatkan dirinya di bilangan Salihara, Jakarta Selatan.

Menghindari kekerasan dan bentrokan, polisi berinisiatif membubarkan diskusi yang dihadiri para tokoh liberal Indonesia, dengan alasan acara diadakan tanpa izin. Namanya sontak menjadi buah bibir di kalangan liberal, fundamental, bahkan masyarakat awam: Irshad Manji.

Tidak banyak yang tahu siapa Manji sebenarnya sebelum insiden tersebut terjadi. Mempromosikan buku terbarunya yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, "Allah, Liberty and Love", wanita 44 tahun ini menawarkan pendekatan baru dalam menginterpretasi Islam.

Manji menyebut dirinya sebagai reformis Islam, yang berusaha mereformasi pemikiran Muslim dalam menginterpretasikan Al-Quran. Seorang Muslim, ujar bekas wartawan Ottawa Citizen ini, berhak menginterpretasi menggunakan akal dan pikiran masing-masing soal ayat Al-Quran.

Berikut wawancara lengkap VIVAnews dengan Irshad Manji pada Senin, 7 Mei 2012:

Apa tujuan kedatangan Anda ke Indonesia?
Saya datang untuk mempromosikan buku baru saya "Allah, Liberty and Love" yang telah dipublikasikan ke Bahasa Indonesia. Saya pernah datang empat tahun lalu untuk mempromosikan buku saya sebelumnya "Beriman tanpa Rasa Takut." Empat tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk tidak kembali ke Indonesia.

Melihat dari akun Facebok saya, para pemuda di Indonesia sangat tertarik pada ide-ide untuk menyelaraskan antara iman dan kebebasan. Buku ini menunjukkan bagaimana hidup bebas tapi tetap beriman di keseharian. Buku ini tidak berisikan tentang teori-teori dan argumen, melainkan panduan bagaimana memperoleh kebebasan, cinta dan Allah sekaligus dalam hidup.

Toko buku terbesar di Indonesia menolak menerbitkan buku Anda. Bagaimana komentar Anda?
Mereka rugi. Mereka akan menyesal karena tidak memperdulikan kenyataan bahwa ada generasi baru yang sangat tertarik pada hal ini. Mereka menolaknya tanpa alasan apapun.

Acara Anda di Salihara dihentikan paksa. Anda takut?
Pada kejadian tersebut, saya bangga para reformis merapatkan barisan mencoba melindungi saya dari FPI. Mereka juga mempertanyakan peran polisi dalam insiden pekan lalu, dan mengapa acara tersebut dibubarkan. Saya menyayangkan sikap polisi tersebut.

Peristiwa ini tidak lantas membuat saya mundur dan takut. Saya tetap akan menyelenggarakan acara saya di beberapa tempat (Yogya dan Solo). Jika saya batalkan, maka kami akan kalah dan kaum fundamentalis menang.

Omar Sultan Haque, psikolog dan ahli fisika dari Universitas Harvard, mengatakan bahwa Anda menyajikan pemikiran baru soal Islam yang disebut Islam reformasi. Bisa dijelaskan?
Saya tidak menyebutnya "Islam Reformasi". Karena jika demikian, berarti saya telah membuat sekte atau denominasi baru. Saya tidak tertarik membuat cabang baru. Islam itu sederhana dan tidak perlu dibagi-bagi menjadi beberapa sekte.

Saya lebih senang menyebut diri saya seorang reformis Islam, bukan moderat. Bedanya adalah, moderat adalah kaum yang menutup mulut mereka terhadap penyimpangan, sedangkan reformis seperti saya, menyuarakannya.

Saya yakin banyak orang yang menganggap "moderat" adalah sesuatu yang positif. Mereka mengatakan bahwa semua orang harus menjadi moderat. Pandangan ini sah-sah saja di masa-masa yang normal. Tapi, seperti kata Martin Luther King junior dalam mengajarkan Kristen di tengah krisis moral di Amerika Serikat, moderat malah justru memperkuat ekstremisme dalam beragama.

Hal ini juga terhadi di dalam Islam. Karena itu, jika ingin citra Islam yang lebih baik, jangan hanya mengeluhkan penyimpangan dan kekerasan tapi tidak melakukan apapun. Kita semua harus menyumbang dalam mengubah citra Islam, dengan menjadi seorang reformis, bukan moderat. Reformis itu mereformasi Muslim, bukan Islam.

Bagaimana reformis seperti Anda mempromosikan perlawanan terhadap fundamentalisme?
Saya menggelar diskusi. Di acara ini, saya mengajarkan bahwa Al-Quran itu lebih progresif dibandingkan apa yang orang lain percaya.

Contohnya, Al-Quran menyerukan seluruh Muslim untuk berani menyuarakan kebenaran, bahkan jika harus melawan keluarga. Hal ini tercantum di Surat 4 ayat 139: "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu."

Maksudnya adalah, jika kau melihat ada ketidakadilan dan  penyalahgunaan kekuasaan di komunitas Muslim, kau harus menyuarakannya, bahkan jika kau tahu keluargamu bilang "diam!"

Hal ini menjadi masalah di masyarakat kita saat ini, di mana keluarga adalah segalanya. Padahal Allah mengatakan, "keluarga bukan Tuhan, saya yang Tuhan."

Al-Quran adalah suara Tuhan, dan Tuhan mengatakan pada kita, jangan memperlakukan keluarga seperti Tuhan, hanya ada satu Tuhan dan Tuhan meminta kita untuk menyuarakan kebenaran, tidak peduli siapa yang akan menentangnya.

Bagian indah lainnya dalam Al-Quran adalah soal kesederhanaan. Beberapa ayat pada Al-Quran memiliki makna yang terang, beberapa lainnya maknanya samar. Hanyalah mereka yang tidak punya iman yang menggunakan ayat yang samar sebagai rujukan. Lalu kemudian mereka mendiktekan interpretasi soal ayat ini orang lain.

Al-Quran menyimpulkan masalah ini dengan indah, dikatakan bahwa, "Hai orang beriman, yakinilah bahwa Allah yang paling tahu soal ayat dan arti dari Al-Quran."

Fundamentalisme, tidak peduli seberapa kuat dan keras mereka sekarang. mereka perlu memahami kesederhanaan dalam Al-Quran. Dengan memaksakan ayat Al-Quran menurut pemahaman mereka, kaum fundamentalis berusaha menjadi Tuhan. Padahal Tuhan  mengatakan, jika kau berlaku seperti Tuhan, maka kau menodai Al-Quran.

Cara saya mengatasi fundamentalisme adalah dengan mengajar. Saya ajarkan kepada para pemuda, bahwa ada ayat-ayat di Al-Quran yang tidak diajarkan oleh ulama, bahkan orangtua kalianpun tidak tahu.

Gunakanlah ayat-ayat ini untuk memperdalam hubungan kalian dengan Tuhan, dan tulislah di secarik kertas. Jika suatu saat kaum fundamentalis mengatakan "Kalian tidak tahu apapun tentang Islam," kau ambil ayat itu dan ingatkan pada mereka, "bahwa hanya ada satu Tuhan dan mereka bukan Tuhan".

Kami mengajak umat Islam untuk menggunakan akal. Jika kita mengumpulkan seluruh ayat di Al-Quran, ayat yang menyerukan Muslim untuk berpikir, bercermin dan menganalisa, jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak dibanding ayat yang memutuskan mana yang benar dan salah.

Dengan kata lain, Al-Quran tiga lipat lebih sering menyerukan ijtihad ketimbang taklid buta. Saya mengambil seluruh ayat Al-Quran, tidak setengah-setengah seperti yang dikatakan Omar.

Anda dikenal sebagai seorang feminis. Apa pandangan anda mengenai persamaan hak lelaki dan perempuan?

Saya mendorong persamaan gender berdasarkan Al-Quran, bahwa lelaki dan perempuan punya hak dan kewajiban yang sama. Saya yakin Al-Quran menyetarakan posisi satu sama lain dengan setara, tidak ada posisi inferior dan superior.

Mengapa fundamentalisme terus menjamur?
Saya tidak kaget fundamentalisme pamornya tengah naik di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tidak mudah menjelaskannya, banyak alasan, tergantung negara mana yang kita bicarakan.

Di Indonesia sendiri, menurut saya, ada dua alasan mengapa fundamentalisme semakin meningkat jumlahnya. Pertama, banyak uang Saudi yang datang ke Indonesia, di antaranya di transaksi bisnis dan wisatawan.

Menarik untuk dicatat, wilayah di Indonesia yang kedatangan banyak turis dari Semenanjung Arab, adalah wilayah yang semakin membatasi wanita dalam berpakaian. Apakah ini kebetulan? Tidak. Ada politisi lokal yang ingin mendapatkan uang lebih banyak dari pemerintah Saudi.

Alasan lainnya fundamentalisme berkembang di negara ini adalah globalisasi. Ketika ada banyak orang, teknologi dan uang berputar di seluruh dunia, masyarakat awam bisa hilang identitas. Mereka mulai bertanya, "siapa saya saat ini." ketika seluruh batas menjadi samar, maka identitas manusia akan menjadi lebih kaku, ketimbang terbuka.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Tapi di Mesir, ada alasan lain. Terutama adalah kekerasan yang terjadi saat revolusi. Warga miskin, yang jumlahnya paling banyak, mengharapkan adanya stabilitas. Mereka khawatir, instabilitas akan membuat mereka kehilangan mata pencaharian. Untuk itu, mereka menggantungkan harapan pada Ikhwanul Muslimin untuk menciptakan stabilitas.

Menurut anda, bagaimana masyarakat harus menghadapi berbagai hal yang berkaitan dengan intoleransi agama?
Kita semua harus ingat bahwa ada konstitusi yang mengatur kehidupan bernegara. Konstitusi di negara ini adalah sekuler. Sekuler sendiri adalah momok di Indonesia. Tapi ingat, hanya Allah yang menghakimi mana yang baik dan buruk.

Biarlah perbedaan pemahaman terjadi. Anda bisa setuju atau tidak setuju, itu hak Anda. Tapi Anda tidak bisa memaksakan kehendak dan pemahaman pada orang lain. Ini adalah prinsip sederhana, karena Allah yang menentukan siapa yang salah dan benar.

Konstitusi mengatur kebebasan berpikir. Kau boleh tidak setuju, tapi tidak boleh memaksa, mengancam dan menekan, orang lain dengan cara yang buruk. Tidak boleh melanggar hak mereka dengan membatalkan acara dan menghentikan diskusi. Jika kau melakukan ini, berarti kau mencoba menjadi Tuhan. Ini tidak islami, sekaligus melanggar konsitusi.

May 06, 2012

Potret Hitam Toleransi; Antara Solo dan Pengusiran Irshad

Ada dua kasus penting yang terjadi pada hari jum'at 4 Mei 2012. Pertama adalah kasus Pengusiran Arshad Manji dari tempat Peluncuran buku barunya  "Allah, Liberty and Love" di Galeri Salihara, Jakarta Selatan. Kedua adalah betrok antar warga dan ormas keagamaan di Solo. Sebagaimana diberitakan oleh Voice of America Indonesia pada tanggal 6 Mei 2012 berjudul "Pasca Bentrokan Warga-Ormas Keagamaan, Solo Serukan Aksi Damai", khusus untuk bentrok di Solo, ada 6 orang yang terluka dan menjadi korban dari kasus bentrok tersebut.
VoA Indonesia
Photo/VoA Indonesia

Menurut Saya, kedua kasus tersebut sudah sudah merusak pentumbuhan toleransi di Indonesia.Dengan adanya kasus ini, kembali mencontreng wajah dan nilai-nilai kemajmukan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bangsa ini sudah mewarisi nilai-nilai heteroginitas puluhan keturunan yang lalu, namun sayangnya kita sebagai generasi penerus tidak mensyukuri warisan tersebut.

Disamping itu, menurut hemat Saya pertumbuhan demokrasi di Indonesia membuktikan belum dewasa, artinya nilai-nilai hetoreginitas dan kebebasan serta keamanan yang diajarkan dalam demokrasi merupakan  nilai substansial, dan sayangnya itu belum tercermin secara utuh di negeri ini.

Misalkan kasus Irshad, terlepas dari alasan FPI, FBR, Forkabi bahwa Irshad adalah seorang lesbi, menurut Saya tatakrama dan kesopanan tetap harus jadi prioritas. Artinya bagaimana cara atau sikap yang dibangun ketika ada sesuatu yang bertentangan dengan pemahaman mereka. Menghujat, mengeluarkan kata-kata kotor, menghina bukanlah potret Islam yang sebenarnya. Karenanya menurut Saya jalur dialogis seharusnya lebih dikedepankan.

Sekali lagi, ini membuktikan kalau kita susah untuk menerima perbedaan, dan kita belum siap untuk berbida. semuanya dipaksa berdasarkan kehendak dan kemauan kita. kalau ada yang beda, kenapa kita tidak berbicara? dimana prinsip diskusi dan musyawarah yang selama ini menjadi jati diri kita? dimana sikap toleransi sebagai ajaran agama kita?


Semoga ini adalah kasus terakhir!

May 03, 2012

Situs-Situs Penting Indonesia dan Non-Indonesia

Murid yang dipersenjatai dengan informasi
Akan selalu memenangkan pertempuran
(Meladee McCarty)

Dibawah ini adalah Situs-Situs Penting Indonesia dan Non-Indonesia, seperti Kementerian, Organisasi Dunia, Kedutaan Besar, dan sejenisnya. Karena supaya lebih teratur, sengaja saya tulis di halaman. Sedangkan di Halaman "LINK" sudah kebanyakan, kelihataanyannya amburadur.

Sengaja Saya listkan di sini, supaya lebih mudah dijangkau. Era globalisasi seperti ini seharusnya, terutama pemerintah memang harus membuka "ruang" yang lebih besar untuk masyarakat berinteraksi dengan mereka.

Meskipun sebagian situs-situs pemerintah out of date, dan tidak mempublish semua informasi-informasi secara transparan, mungkin saja dengan saya liskan situs-situs ini akan bermanfaat buat anda!. Semoga.
~ Adam 2012
 ***  
Pemerintah Indonesia

  1. Portal Nasional
    http://www.indonesia.go.id
  2. Presiden 
    http://www.presidenri.go.id
  3. Wakil Presiden
    http://www.wapresri.go.id
  4. Sekretaris Negara
    http://www.setneg.go.id
  5. Sekretariat Kabinet
    http://www.setkab.go.id
  6. Dewan Pertimbangan Presiden
    http://www.wantimpres.go.id
     
  7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 
    http://www.kemdikbud.go.id

  8.  Kementerian.....tunggu updatenya!

    Situs Non-Indonesia


    1. ASEAN
      http://www.asean.org/
    2. The Colombo Plan
      http://www.colombo-plan.org/

Repost_Urgensi UU PT

Dalam rangka mempe ringati Hari Pendidik an Nasional 2 Mei 2012, Majelis Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) bersama Universitas Indonesia (UI) akan menyelenggarakan sarasehan pendidikan pada Senin, 7 Mei 2012, di Kam pus UI Depok. Tema yang diangkat ialah “Pandangan Tokoh Tentang Pendidikan Tinggi Indonesia”.

Dalam konteks ini, RUU Pendidikan Tinggi (PT) yang menjadi hak inisiatif DPR RI telah dilakukan pembahasan secara intens dengan berbagai kalangan.

Sebagaimana lazimnya dalam pembahasan RUU terdapat pro-kontra. Namun, disayangkan akhirnya pembahasan meng alami kebuntuan sehingga peme rintah meminta penundaan pengesahan RUU tersebut pada sidang paripurna DPR RI tanggal 12 April 2012.

Terlepas dari ketidaksetujuan pemerintah terhadap RUU tersebut, menurut hemat saya, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk dipertim bangkan. Pertama, secara filosofis RUU tersebut harus memuat arah yang jelas tentang pengembangan PT, baik dalam aspek keilmuan, keterampilan, maupun penguatan terhadap karakter bangsa di mana segenap komponen bangsa te ngah membutuhkan penguatan nilainilai moral bangsa yang akhir-akhir ini mengalami degradasi.

Kedua, secara sosiologis, masyarakat Indonesia sangat membutuhkan PT karena sampai saat ini yang dapat menik mati nya masih sedikit. Ironisnya, sejumlah PT menghasilkan pengangguran terdi dik, yakni seseorang yang telah lulus da ri perguruan tinggi negeri atau swasta dan ingin mendapat pekerjaan, tetapi belum dapat memperolehnya. Para pe ngang gur terdidik biasanya dari kelompok masya rakat menengah ke atas, yang memung kin kan adanya jaminan kelangsungan hi dup meski menganggur.

Pengangguran terdidik sangat ber
kait an dengan tidak relevannya sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan dunia pendidikan di negara berkembang pada umumnya, antara lain berkisar pa da masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas, dan ku rang nya lapangan pekerjaan. Dalam ma sya rakat yang tengah berkembang, pendidikan diposisikan sebagai sarana untuk peningkatan kesejahteraan mela lui pemanfatan kesempatan kerja yang ada.

Sebenarnya, gelar sarjana tak otomatis memuluskan jalan meraih pekerjaan.

Jumlah pengangguran tingkat sarjana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya pada 2007, jumlahnya sekitar 740 ribu dan awal 2009 ber tambah mendekati angka satu juta sarjana yang menganggur. Hal ini harus diwaspadai mengingat setiap tahunnya Indonesia memproduksi sekitar 300 ribu sarjana dari 2.900 PT.

Menurut hemat saya, makin banyak nya sarjana yang menganggur disebab kan oleh rendahnya keterampilan (soft skill) di luar kemampuan utama dari sar jana yang bersangkutan. Untuk meng atasi pengangguran, perlu dikembangkan komitmen kewirausahaan.

M eningkatnya pengangguran terdi dik menjadi sinyal yang cukup mengganggu bagi perencana pendidikan di negara-negara berkembang pada umumnya, khususnya di Indonesia. Untuk makmur, Indonesia perlu meningkatkan jumlah pengusaha menjadi 1,1 persen atau menjadi 4,4 juta orang.

Ketiga, secara konstitusional berkait an dengan pembahasan RUU PT perlu pertimbangan memuat substansi yang berkaitan dengan sejumlah pasal dalam RUU tersebut.

Pertama, dalam RUU PT perlu diatur mengenai orientasi kelulusan pendidikan tinggi. Kedua, RUU PT perlu memberi kan peluang dan keleluasaan pada pe nyelenggara PT untuk membuka jurusan yang sesuai dengan potensi lingkungan dan SDM di lingkungannya. Hal ini pen ting sehingga PT memiliki relevansi
dengan kebutuhan masyarakat.

Ketiga, RUU PT perlu menegaskan semangat UUD 1945 dan UU No 20 Ta hun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengenai kewajiban pendidik an tinggi untuk menerima dan memberi kan fasilitas pada warga negara yang kurang mampu sekurang-kurangnya 20 persen dari jumlah seluruh mahasiswa.

Keempat, dalam pasal 10 ayat 1 me nge nai rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi perlu penambahan kata ‘akar’ sehingga bunyi pasal 10 ayat 1 menjadi: Pasal 10 1 Rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kumpulan sejumlah akar, pohon, cabang, dan ranting ilmu pengetahuan yang berkembang secara alami dan disusun secara sistematis.

Selanjutnya, dalam penjelasan pasal 10 ayat 1 perlu ditambahkan kalimat, “Yang dimaksud akar dalam ayat ini, meliputi agama, ideologi Pancasila, dan filsafat.” Kelima, pada pasal 44 ayat 2 perlu di tambahkan kalimat, “mengandung unsur Suku Antar Ras Agama (SARA)” sebelum frasa “bersifat rahasia” dan penambahan kata “dapat” sebelum kata “mengganggu” sehingga selengkapnya berbunyi, “Hasil penelitian wajib disebarluaskan dengan cara diseminarkan, dipublikasikan dan/atau dipatenkan oleh perguruan tinggi, kecuali hasil pe ne litian yang mengandung unsur Suku Antar Ras Agama (SARA), bersifat raha sia, dapat mengganggu, dan/atau membahayakan kepentingan umum.” Keenam, dalam RUU terdapat pasal 89 ayat 1 yang menyatakan bahwa perguruan tinggi negara lain dapat menyelenggarakan pendidikan tinggi di wila yah Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Saya kurang se pendapat dengan pasal 89 sehingga mengusulkan untuk dihapuskan. Karena, pihak asing dalam mengelola pendidikan di Indonesia akan mengintervensi ke daulatan NKRI. Dengan demikian, cepat atau lambat rasa nasionalime kebang sa an anak bangsa kita akan hilang.

Tulisan diatas adalah Opini AMIRSYAH Sekretaris Departemen Pendidikan MPP ICMI. Tulisan ini sudah dimuat di Harian Republika edisi 3 Mei 2012. 

April 24, 2012

Penghargaan International Untuk Kaum Perempuan

TIAW WORLD OF DIFFERENCE 100 AWARDS

Ayo,,,Usulin wanita-wanita yang yang kamu kenal untuk mendapatkan penghargaan/award dari TIAW tahun 2012. Ceremonial Award akan dilakukan di Washington pada Oktober mendatang. 

The TIAW (the International Alliance for Women) World of Difference 100 Award recognizes amazing individuals whose efforts have advanced the economic empowerment of women locally, regionally or worldwide whether they are well known or  “unsung heroines”.

See the nomination form for the categories and the criteria.  If the nominee does not fit any of the categories, please feel free to nominate your candidate using the category of “other”.  The purpose of the nominations is to capture the activities that we believe embody the TIAW motto: “Connecting to Make all the Difference in the World” in women’s economic empowerment.

The top 100 submissions will form the TIAW World of Difference 100 Awards List, to be announced at the TIAW World of Difference Awards dinner.

Download Formilirnya, HERE
Wanita-Wanita yang mendapat TIAW Award 2011, silakan klik disini

Informasi lebih lanjut, silakan click HERE

Semoga Sukses!!!


March 19, 2012

Guru Dayah Ikut Pertukaran Pemuda ke Australia

LHOKSUKON - Guru Dayah Ruhul Islam, Desa Rayeuk Kuta, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, Muhammad Adam (25) terpilih ikut program pertukaran pemuda muslim yang diselenggarakan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Sebanyak sepuluh pemuda se-Indonesia mengikuti pertukaran pemuda antara Indonesia-Australia tersebut. Adam akan berangkat ke Australia 11 Juni mendatang.

“Proses pendaftaran November 2011 lalu. Kedutaan Besar Australia di Jakarta bekerja sama dengan Universitas Paramadina Jakarta yang melakukan seleksi. Saya ikut tes wawancara 7 Februari lalu, dan akhirnya 15 Maret dinyatakan lulus dan berhak berangkat ke Australia. Panitia memberikan syarat, pendaftar harus aktif di organisasi muslim di Indonesia,” sebut Adam kepada Serambi, Minggu (18/3).

Ditambahkan, dirinya akan berada di Australia 11-24 Juni mendatang. “Kami akan dibawa melihat bagaimana kegiatan umat muslim di Australia, menggelar sejumlah pertemuan dan diskusi dengan organisasi muslim di sana. Seluruh biaya keberangkatan dan selama berada di Australia ditanggung oleh Kedutaan Australia di Jakarta,” ujarnya.

Disebutkan, pihaknya akan belajar banyak bagaimana perkembangan organisasi muslim di Australia. “Semoga pengalaman yang didapat di sana bisa dipraktikkan nantinya di Aceh Utara,” pungkas Adam.(c46)


Ini adalah publikasi di Media Serambi Indonesia Pada tanggal 19 Maret 2012.
Sumber Asli: Serambi Indonesia

March 15, 2012

Hasil Akhir Seleksi Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia 2012

Lima menit yang lalu, saya baru saja menerima sms dari salah seorang kawan di Banda Aceh yang menyuruh saya untuk lihat wibsite Paramadina, karena ada pengumuman akhir Pertukaran Pemuda Muslem Indonesia Australia 2012 (MEP 2012). Alhamdulillah, ada nama saya diantara 10 (sepuluh) nama tersebut.

Allah punya cara lain untuk memberikan rahmatNya kepada Saya, gagal tahun lalu pada tahap wawancara tidak membuat saya putus asa, apalagi menyerah. Mencoba lagi tahun 2012, dan alhamdulillah saya mendapatkannya. "Segala Sesuatu itu Indah pada saatnya", begitu kata guru SMA Saya dulu.

Jadi gak sabar untuk terbang ke Australia ni...Semoga semua persiapan akan berjalan dengan lancar. Amin...

Ruhul Islam, 15 Maret 2012-3.22 PM WIB
~Adam~

Berikut Pengumumannya dari website Paramadina. www.paramadina.ac.id

Atas nama Australia-Indonesia Institute dan Universitas Paramadina maka Panitia Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia 2012 menyampaikan ucapan
Selamat kepada peserta Program yang dinyatakan lolos seleksi akhir yaitu:
1. Husni Mubarak (Banda Aceh)
2. Ahmad Zainal Abidin (Tulungagung)
3. Muslich (Palembang)
4. Rizki Damayanti (Jakarta)
5. Irma Wahyuni (Bogor)
6. Eneng Elis Aisah (Cianjur)
7. Lusia Efriani (Batam)
8. M. Nursaid Ali Rido (Wonosobo)
9. Muhammad Adam  (Aceh Utara)
10. Muhammad Latif Fauzi (Yogyakarta)
Kami ucapkan termakasih kepada seluruh pelamar yang telah mengirimkan aplikasinya serta pelamar yang telah mengikuti proses seleksi hingga tahap interview di Universitas Paramadina. Semoga program ini dapat memberikan manfaat positif bagi peserta yang terpilih, bagi masyarakat muslim di Indonesia serta hubungan baik antara Indonesia dan Australia.
Kami mohon maaf apabila dalam penyelenggaraan program ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Terimakasih.
Panitia
Pertukaran Tokoh Muslim Muda Indonesia-Australia 2012

March 09, 2012

Anies Baswedan

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.

Dalam edisi khusus yang berjudul "20 Orang 20 Tahun" itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang, kata Direktur Marketing & Public Relatios Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, di Jakarta, Jumat.

Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota DPR AS, Paul Ryan.

Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan -- tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia -- itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.

"Anies adalah seorang muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu," tulis Foresight.

Menurut majalah itu, karena citranya yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang itulah, Anies berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.

Anies sendiri tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.

Anies yang dalam beberapa bulan belakangan ini bicara di berbagai forum dunia merasakan hal itu. "Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia," kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Copenhagen dan Madrid.

Pada 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.

Syafiq menyatakan bahwa apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia mempunyai peran penting.

"Sebab beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu," kata Syafiq.

Menurut dia, penghargaan itu bukan saja menjadi tantangan bagi Anies secara pribadi tetapi sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh staf di Paramadina untuk menunjukkan tekad serius mencapai mutu kelas dunia dalam berbagai aspek.

Ditambahkannya, pihak Paramadina patut bersyukur atas prestasi baru ini setelah dua kali penghargaan kelas dunia berturut-turut diterima rektornya selama dua tahun sebelumnya.

Pada April 2008 Majalah Foreign Policy, Amerika, pernah memilih Anies sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar "100 Tokoh Intelektual Dunia" bersama Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Thomas Friedman, Bernard Lewis, Lee KuanYew dan pemenang Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus.

Tahun 2009 Anies juga mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang "Young Global Leaders 2009" dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF). Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.

Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia di antaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.

Majalah bulanan Foresight diterbitkan salah satu penerbit tertua Jepang, Shinchosha, dan merupakan majalah berkualitas prima yang mengulas berita dan analisa politik dan ekonomi internasional dan domestik Jepang.

Pertama kali terbit pada Maret 1990 -- bersamaan dengan berakhirnya Perang Teluk I, Foresight memiliki jaringan yang tersebar di 30-an negara di dunia. Majalah ini menjadi rujukan para pengambil keputusan, pengusaha, diplomat dan wartawan berpengaruh di dalam dan luar Jepang, karena mengulas isu-isu penting seperti ekonomi China, terorisme, hubungan China-Taiwan, Perang di Irak, dan industri otomotif Jepang.

Majalah ini memiliki kontributor kenamaan seperti Gerlad Curtis dari Columbia University, Lester Brown dari the World Watch Institute, Victor Cha dari Georgetown University, dan Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh. Adapun di antara kontributor Jepang termasuk novelis Nanami Shiono dan Haruki Murakami. Juga Dr. Takeshi Yoro, kolumnis Nikkei Yasuhiro Tase dan Prof. Shinichi Kitaoka yang kini menjadi Dubes Jepang di PBB.

Anies Baswedan, Tokoh Perubahan Dunia

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang oleh Majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.

"Dalam edisi khusus yang berjudul "20 Orang 20 Tahun" itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang," kata Direktur Marketing & Public Relatios Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, di Jakarta, Jumat.

Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota DPR AS, Paul Ryan.

Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan -- tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia -- itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang.

"Anies adalah seorang muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu," tulis Foresight.

Menurut majalah itu, karena citranya yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang itulah, Anies berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.

Anies sendiri tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.

Anies yang dalam beberapa bulan belakangan ini bicara di berbagai forum dunia merasakan hal itu. "Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia," kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Copenhagen dan Madrid.

Pada 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.

Syafiq menyatakan bahwa apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia mempunyai peran penting. "Sebab beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu," kata Syafiq.

Menurut dia, penghargaan itu bukan saja menjadi tantangan bagi Anies secara pribadi tetapi sekaligus menjadi tantangan bagi seluruh staf di Paramadina untuk menunjukkan tekad serius mencapai mutu kelas dunia dalam berbagai aspek.

Ditambahkannya, pihak Paramadina patut bersyukur atas prestasi baru ini setelah dua kali penghargaan kelas dunia berturut-turut diterima rektornya selama dua tahun sebelumnya.

Pada April 2008 Majalah Foreign Policy, Amerika, pernah memilih Anies sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar "100 Tokoh Intelektual Dunia" bersama Noam Chomsky, Al Gore, Francis Fukuyama, Samuel Huntington, Vaclav Havel, Thomas Friedman, Bernard Lewis, Lee KuanYew dan pemenang Nobel asal Bangladesh, Muhammad Yunus.

Tahun 2009 Anies juga mendapatkan penghargaan sebagai salah seorang "Young Global Leaders 2009" dari Forum Ekonomi Dunia (The World Economic Forum, WEF). Namanya disejajarkan bersama 230 orang pemimpin muda dunia yang dianggap memiliki prestasi dan komitmen kepada masyarakat, serta mempunyai potensi untuk berperan dalam memperbaiki dunia di masa mendatang.

Tokoh dunia lain yang juga masuk daftar Pemimpin Muda Dunia di antaranya adalah pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg, pegolf Tiger Woods, Anchor CNBC-India Shireen Bhan, CEO YouTube Chad Hurley dan pebalap F-1 Michael Schumacher.

Majalah bulanan Foresight diterbitkan salah satu penerbit tertua Jepang, Shinchosha, dan merupakan majalah berkualitas prima yang mengulas berita dan analisa politik dan ekonomi internasional dan domestik Jepang.

Pertama kali terbit pada Maret 1990 -- bersamaan dengan berakhirnya Perang Teluk I, Foresight memiliki jaringan yang tersebar di 30-an negara di dunia. Majalah ini menjadi rujukan para pengambil keputusan, pengusaha, diplomat dan wartawan berpengaruh di dalam dan luar Jepang, karena mengulas isu-isu penting seperti ekonomi China, terorisme, hubungan China-Taiwan, Perang di Irak, dan industri otomotif Jepang.

Majalah ini memiliki kontributor kenamaan seperti Gerlad Curtis dari Columbia University, Lester Brown dari the World Watch Institute, Victor Cha dari Georgetown University, dan Muhammad Yunus dari Grameen Bank Bangladesh. Adapun di antara kontributor Jepang termasuk novelis Nanami Shiono dan Haruki Murakami. Juga Dr. Takeshi Yoro, kolumnis Nikkei Yasuhiro Tase dan Prof. Shinichi Kitaoka yang kini menjadi Dubes Jepang di PBB.

Biodata Anies Baswedan
Anies Baswedan lahir pada 7 Mei 1969. Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini lahir dari keluarga pendidik yang menyimpan tekad untuk turut membangun bangsa melalui jalur pendidikan, di antaranya dengan mengantarkan Paramadina menjadi universitas kelas dunia.

Lewat perpaduan visi, ide-ide segar khas anak muda, kecerdasan dan ideologi, serta rasa bangga sebagai anak Indonesia, ia menganggap bahwa pengelolaan universitas harus didasarkan pada manajemen dengan model bisnis modern.

"Universitas harus dikelola secara modern dan terkait dengan dunia swasta secara mutualistis," kata Anies.

Sejak memimpin Universitas Paramadina, tiga tahun lalu, Anies telah melakukan beberapa hal yang revolusioner, dan dianggap tidak lazim terjadi di dunia pendidikan swasta di Indonesia ini. Di antara pemberian beasiswa bagi ratusan mahasiswa berbakat tapi kurang mampu dan pewajiban mata kuliah anti-korupsi.

Anies Baswedan Calon Tokoh Dunia

Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan terpilih sebagai satu dari 20 tokoh yang membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight yang terbit di Jepang akhir April ini.

Dalam edisi khusus yang berjudul "20 Orang 20 Tahun" itu, Foresight mengulas 20 tokoh yang diperkirakan bakal menjadi perhatian global karena mereka akan sangat berperan dalam perubahan dunia dua dekade mendatang.

Nama Anies dicantumkan bersama 19 tokoh dunia lain, seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband, anggota Parlemen dan Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi, serta politisi muda Partai Republik dan anggota House of Representative Amerika Serikat Paul Ryan.

Majalah bulanan berbahasa Jepang itu menulis bahwa cucu almarhum AR Baswedan (tokoh yang ikut andil dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia) itu merupakan salah satu calon pemimpin Indonesia masa mendatang. "Anies adalah seorang Muslim moderat yang sampai saat ini tetap konsisten pada pendiriannya untuk tidak memihak pada kekuatan (politik) tertentu," tulis Foresight.

Menurut majalah itu, citra Anies yang netral, adil, serta memiliki pandangan yang berimbang membuat dia berhasil meraih kepercayaan luar biasa dari masyarakat luas, termasuk banyak tokoh politik.

Menanggapi penghargaan tersebut, Anies mengatakan tidak ingin membanggakan diri. Ayah empat anak yang dikenal sederhana dan selalu optimistis itu menganggap bahwa berbagai penghargaan kelas dunia yang diterimanya sebenarnya menunjukkan makin besarnya perhatian dunia terhadap Indonesia.

"Saya mendapat kesan bahwa dunia kini makin memperhatikan Indonesia," kata Anies yang belum lama ini menjadi pembicara di pelbagai pertemuan internasional di Tokyo, London, Kopenhagen, dan Madrid.

Pada tanggal 2 hingga 6 Mei mendatang Anies juga diundang menjadi pembicara asal Indonesia pada pertemuan puncak tokoh muda dunia, Young Global Leaders Summit, di Tanzania, Afrika.

Direktur Marketing & Public Relations Universitas Paramadina, Syafiq Basri Assegaff, menyatakan, apresiasi Foresight itu menjadi sinyal bahwa dunia pendidikan di Indonesia punya peran penting. "Sebab, beliau bukan saja satu-satunya orang dari Asia Tenggara yang disebut di situ, melainkan juga merupakan satu-satunya pendidik dalam daftar di Foresight itu," kata Syafiq.
Anies Baswedan: Kami Tolak Demokrasi Rutinitas
Organisasi masyarakat Nasional Demokrat menyatakan menolak demokrasi yang hanya sekedar merumitkan tata cara berpemerintahan tanpa mewujudkan kesejahteraan umum. Mereka juga menolak demokrasi yang hanya menghasilkan rutinitas sirkulasi kekuasaan tanpa kehadiran pemimpin yang berkualitas dan layak diteladani.

"Kami mencita-citakan demokrasi Indonesia yang matang, yang menjadi tempat persandingan keberagaman dengan kesatuan, dinamika dengan ketertiban, kompetisi dengan persamaan, dan kebebasan dengan kesejahteraan," ujar Anies Baswedan ketika membacakan manifesto, Senin (1/2/2010) di Istora Senayan, Jakarta.

Anies, bersama deklarator lainnya merasa terpanggil untuk merebut masa depan yang gemilang, dengan keringat dan tangan sendiri. Anis menjelaskan, Nasional Demokrat adalah gerakan perubahan yang berikhtiar menggalang seluruh warga negara dari beragam lapisan dan golongan untuk merestorasi Indonesia. Nasional Demokrat, lanjutnya, tidak hanya bertumpu dan berpusat di Jakarta, melainkan gerakan perubahan yang titik-titik sumbunya terpencar di seluruh penjuru dunia.
Anies Baswedan Bantah Incar Kursi Menteri

Nama Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan sering disebut-sebut sebagai salah satu calon menteri yang membawahi bidang ekonomi pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009-2014. Namun, ketika dikonfirmasi terkait hal ini, dirinya justru mengaku tidak tahu-menahu. "Enggak tahu saya. Mesa'ake aku," ujarnya ketika dikonfirmasi mengenai isu di atas, seusai peluncuran buku karangan Faisal Basri, di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (7/10).

Anies membantah kabar yang menyebut bahwa dirinya mengincar kursi menteri dalam susunan kabinet mendatang. Menurutnya, dirinya bukanlah tipikal orang yang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi tipikal orang yang berjuang dalam melakukan pekerjaan. "I did not fight to get a job, tapi I did fight to do a job," ujarnya.

Anies menuturkan, sebenarnya saat ini Indonesia membutuhkan sosok yang sanggup memberikan sumbangsihnya terhadap negara. Sebab, menurutnya, tantangan pembangunan Indonesia ke depan adalah pada desain institusi, bukan pada si pemangku jabatan. "Begini, kalau kinerja kita ditransparankan kan kita bisa lebih kreatif," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politik Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa kalangan pengusaha dan profesional mewakili kelompok elite dan sosial berpotensi mengisi kabinet SBY jilid II karena dapat memengaruhi persepsi publik.

Selain Anies, pengusaha Rahmat Gobel juga disebut-sebut sebagai sosok yang cocok untuk mengisi posisi sebagai menteri perindustrian. Selain itu, Bima memprediksi bahwa posisi menteri keuangan tetap akan diisi oleh Sri Mulyani. "Kalangan profesional ini kreatif, punya sikap otonom, dan punya jaringan yang kuat," sebutnya.

Anies Baswedan: SBY Harus Ubah Gaya "Leadership"

Ini catatan akhir tahun tentang kepemimpinan SBY yang diungkapkan Rektor Universitas Paramadina, Anies Baswedan.

Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di periode kedua kekuasaannya dalam dua bulan terakhir penuh "goncangan". Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan mengatakan, kegoncangan yang terjadi menyebabkan ketidakpastian politik dan demokrasi. Kondisi ini, menurutnya, tidak seharusnya terjadi jika adanya kepemimpinan yang tegas dalam mengambil keputusan.

Anies, mantan anggota Tim Delapan yang memverifikasi kasus Bibit-Chandra, mencontohkan, Presiden tidak menunjukkan sikap tegas saat bersikap terhadap hasil akhir rekomendasi yang diberikan tim. "Kasus Bibit-Chandra sebenarnya soal leadership, keberanian. Hadapi saja seharusnya kelompok penentang. Tapi, ketika pemimpin posisinya to please everyone, maka dia akan kehilangan kewibawaan dari kelompok pendukung dan tidak berani menghadapi penentang," kata Anies saat menyampaikan Refleksi Akhir Tahun "Rekayasa Indonesia Baru", di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (29/12/2009).

Demikian pula untuk kasus Bank Century. Seharusnya, yang terjadi adalah politik mengikuti hukum (politics follow legal). "Tapi yang terjadi sebaliknya, legal follows politics. Ini bahaya sekali. Kalau pemimpin menyadari, ada aspek legal dan konsekuensi politik yang dihadapi, akan lebih baik," ujarnya.

Selama dua bulan kepemimpinan ini, menurut Anies, SBY seharusnya tak merasa menjadi satu-satunya Presiden yang menghadapi krisis. Untuk menghadapinya, dibutuhkan perubahan gaya kepemimpinan. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu dinilai terlalu mengedepankan gaya memelas saat tampil di publik.

"Bicara krisis, bukan hanya SBY yang menghadapi. Tapi dihadapi jangan dengan tampil memelas. Orang kalau dalam posisi inferior, tampil memelas akan dikasihani. Kalau orang dalam posisi superior, memelas, tidak akan dikasihani," kata Anies.

Ia melanjutkan, "Yang penting muncul adalah leadership. Dalam dua bulan terakhir, gaya Presiden seperti itu tidak akan menguntungkan," ujarnya.

Dalam 5 tahun pertama kepemimpinannya bersama Jusuf Kalla, 2004-2009, Anies melihat, SBY lebih menjalankan komunikasi antara dirinya dan massa. Sedangkan komunikasi dengan kekuatan politik difungsikan oleh Kalla. "Sekarang, dikerjakan sendiri dan terbukti dalam dua bulan ini tidak dikelola dengan baik sehingga memunculkan riak-riak politik yang menguras energi," kata dia.

Dua bulan pertama kepemimpinan seharusnya memperlihatkan kepastian politik. Namun, kondisi yang terjadi sebaliknya. Anies membayangkan, pasca-Oktober (pelantikan Presiden-Wapres), pemerintahan akan mulai bicara tentang "isi" atau apa program yang akan dilaksanakan. "Dari Oktober seterusnya, kita justru menyaksikan political uncertainty," ujar Anies.

Sumber: http://tuahmanurung.blogspot.com

 
Web developed by Eka.aSOKA.web.id | Domain Host by aSOKAhost.com
Follow @MuehammadAdam