Showing posts with label mc-update news-economics. Show all posts
Showing posts with label mc-update news-economics. Show all posts

September 20, 2012

#Repost_ Warga Lingkungan Demo PT Arun


LHOKSEUMAWE - Seratusan warga dari 13 desa di Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, Selasa (18/9), mendemo PT Arun. Mereka menuntut PT Arun memprioritaskan tenaga kerja dari desa binaan perusahaan itu

saat dibukanya lowongan kerja seperti baru-baru ini. Menurut warga, mayoritas tenaga kerja yang diterima dalam seleksi itu berasal dari luar desa binaan.
SERAMBI/ZAKI MUBARAK
Warga dari beberapa desa dalam kecamatan Muara Satu Lhokseumawe
melakukan aksi unjuk rasa di depan pabrik PT Arun, Selasa (18/9).
Amatan Serambi, warga sekitar pukul 08.00 WIB kemarin sudah berkumpul di depan PT Arun. Mereka membawa poster yang isinya antara lain, “Bek racon yang kamoe hirup, tapi kerja kamoe perle...!,” “PT Arun jangan merampok hak pekerja desa lingkungan,”  dan “Desa binaan PT Arun bek jeut ke raket bak pisang.” Aksi itu dikawal puluhan personil Polres Lhokseumawe.

“Dari sekitar 400-an tenaga kerja yang diterima, hanya sekitar 20 persen saja tenaga kerja lokal. Selebihnya dari luar desa binaan arun. Karena itu, warga hari ini (kemarin-red), berdemo supaya PT Arun menambah tenaga kerja dari lokal minimal enam orang dari tiap desa,” kata Muhammad MY, seorang orator.

Sebelumnya, menurut Muhammad, pihaknya sudah menyurati Vice President Director PT Arun meminta penambahan tenaga kerja di lingkungan PT Arun, tapi sampai sekarang belum dibalas. “Kemarin kami juga sudah beraudiensi dengan PT Arun, tapi sampai sekarang belum ada tanggapan,” katanya.

Tak lama kemudian, Camat Muara Satu, Anwar yang datang ke lokasi meminta warga membubarkan diri. Karena muspika akan memfasilitasi warga dengan pihak PT Arun untuk bermusyawarah. Tak lama kemudian, perwakilan warga bermusyawarah dan sebagian lainnya membubarkan diri dengan tertib.(c37)

Sudah Ada Kesepahaman

PERTEMUAN tadi (kemarin-red) warga dengan PT Arun difasilitasi oleh muspika juga dihadiri anggota DPRK Lhokseumawe. Dalam pertemuan itu sudah dicapai kesepahaman terkait tuntutan warga. Namun, yang perlu diketahui, kita juga telah merekrut tenaga kerja lokal dari 13 desa yang mencapai 116 orang tanpa tes. Kontraktor juga telah merekrut tenaga kerja lokal. Jadi, tak benar kita tak utamakan tenaga kerja lokal. Memang dari luar juga ada yang kita rekrut, tapi itu memang tenaga ahli yang tak ada di lokal.
* Hasballah Said, Kepala Humas PT Arun.
(c37)

Sumber: Harian Serambi Indonesia Edisi Rabu 19 September 2012.

September 13, 2012

#Repost: The Death of Samurai

Artikel ini saya ambil dari Milis Forum Peniliti Aceh, karena sangat menarik bagi saya, makanya reposting di sini.
***


The Death of Samurai
Written by Yodhia Antariksa

Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.

Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya ke perusahaan China. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).


Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.


Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.


What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.


Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.


Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.


Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).


Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.


Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.


Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.


Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.


Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.


Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.


Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.


Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.


Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.


Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.


Note: Semoga Bermanfaat...Lesson-Learned bagi kita adalah pentingnya semangat dan kesadaran untuk berinovasi.

May 07, 2012

Irshad Manji rushed out of book-launch

Canadian liberal Muslim activist Irshad Manji was escorted out of the Salihara venue in South Jakarta on Friday, where she was supposed to launch her new book, Allah, Liberty and Love.

"I love you all and I am proud of you all," she said to the people who attended the event, which was abruptly stopped by police following demonstrations outside.

She added that she would not be deterred by such intimidation.

Dozens of people claiming to be residents and members of mass groups shouted derogatory words at her as she climbed into her car. A police car followed behind.

"I really hope the police will protect her because she is a Canadian national. If the police do something wrong, which can trigger protest from Canada, then shame on us," Indonesian writer Goenawan Mohamad said.

The event began at around 7 p.m. A police officer stepped forward around 15 minutes after Manji began to speak to announce that the event should be called off. Moments later, a number of people were heard shouting their disapproval of the event.

"The local residents disapproved of this activity, and this activity involves a foreigner. Therefore, it requires a special permit from the Jakarta Police," Pasar Minggu Police Chief. Comr. Adri Desas Furyanto, said.

He added that members of FBR, FPI and Forkabi were among the protestors.

Akse, one of the protesters, complained of Manji's sexual identity, which the latter has confessed that she was a lesbian.

"This Irshad is a lesbian, do you want this country to be a lesbian?" he said.

Ulil Abshar Abdhalla, an activist known for his liberal stance towards Islam who was attending the event, said that its disbanding was unfair.

"Freedom of speech not only belongs to the conservative groups," he said. (asa)

Source: The Jakarta Post

May 03, 2012

Situs-Situs Penting Indonesia dan Non-Indonesia

Murid yang dipersenjatai dengan informasi
Akan selalu memenangkan pertempuran
(Meladee McCarty)

Dibawah ini adalah Situs-Situs Penting Indonesia dan Non-Indonesia, seperti Kementerian, Organisasi Dunia, Kedutaan Besar, dan sejenisnya. Karena supaya lebih teratur, sengaja saya tulis di halaman. Sedangkan di Halaman "LINK" sudah kebanyakan, kelihataanyannya amburadur.

Sengaja Saya listkan di sini, supaya lebih mudah dijangkau. Era globalisasi seperti ini seharusnya, terutama pemerintah memang harus membuka "ruang" yang lebih besar untuk masyarakat berinteraksi dengan mereka.

Meskipun sebagian situs-situs pemerintah out of date, dan tidak mempublish semua informasi-informasi secara transparan, mungkin saja dengan saya liskan situs-situs ini akan bermanfaat buat anda!. Semoga.
~ Adam 2012
 ***  
Pemerintah Indonesia

  1. Portal Nasional
    http://www.indonesia.go.id
  2. Presiden 
    http://www.presidenri.go.id
  3. Wakil Presiden
    http://www.wapresri.go.id
  4. Sekretaris Negara
    http://www.setneg.go.id
  5. Sekretariat Kabinet
    http://www.setkab.go.id
  6. Dewan Pertimbangan Presiden
    http://www.wantimpres.go.id
     
  7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 
    http://www.kemdikbud.go.id

  8.  Kementerian.....tunggu updatenya!

    Situs Non-Indonesia


    1. ASEAN
      http://www.asean.org/
    2. The Colombo Plan
      http://www.colombo-plan.org/

May 02, 2012

Opini_Emas (tak) Berkilau (Refleksi Hardiknas 2012)

Tulisan di bawah ini Sudah dimuat di Harian Cetak Serambi Indonesia Edisi 2 Mei 2012. Silakan Klik HERE untuk membaca di website Serambi Indonesia.

HARI Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2012 mengusung tema “Bangkitanya Generasi Emas Indonesia” yang diperingati pada Rabu 2 Mei ini. Dalam kaitan ini, Mendikbud Muhammad Nuh menyebutkan bahwa dalam kurun 2010 lalu hingga 2035 mendatang, Indonesia sedang mendapat anugerah ‘emas’ dari Tuhan berupa potensi sumber daya manusia usia produktif yang jumlahnya sangat banyak.

Di samping mensyukuri, Bapak Nuh juga khawatir kalau rahmat tersebut juga bisa menjadi laknat. Hal ini akan terjadi apabila potensi demographic dividend tersebut tidak dikelola dan dibina dengan baik. Tanpa bermaksud pesimis, apabila melihat kondisi pendidikan kita saat ini, menurut saya, potensi menjadi bahaya jauh lebih besar dibandingkan menjadi modal bonus untuk membuat Indonesia lebih baik.

 Tidak berkarakter
Banyak potret yang menggambarkan bagaimana kondisi pendidikan kita sudah sangat kritis, terutama masalah pembentukan karakter. Ada sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa pendidikan kita sudah tidak berkarakter. Masalah ini tidak hanya terjadi pada peserta didik, tetapi juga pendidik, bahkan para pemangku kepentingan dalam pendidikan. Untuk melihat kebobrokan pendidikan di kalangan peserta didik, Ujian Nasional (UN) dapat menjadi alat ukur penting, di mana nilai-nilai kujujuran selalu menjadi pertaruhan.

Pengalaman pribadi yang saya alami pada Minggu (22/4/2012) lalu, ada nomor baru yang masuk ke telepon genggam saya. Dia mengaku sebagai siswa pada satu sekolah tingkat menengah pertama yang akan mengikuti UN. Setelah berbasa-basi satu dua kata, dia menanyakan kepada saya apakah ada bocoran jawaban UN untuk mata pelajaran-mata pelajaran yang diuji? Tergelitik hati saya mendengarnya, sehingga saya putuskan percakapan tersebut dengan tiba-tiba secara sepihak.

Ada dua gejolak yang muncul dalam hati saya setelah selesai ditelepon oleh anak yang belum sempat saya tanyakan identitasnya. Pertama, mengapa dia berani menelepon saya untuk meminta jawaban? Apakah dia beranggapan bahwa semua tenaga pendidik (guru) pasti memiliki jawaban sebelum soal dibagikan pada hari ujian? Atau setiap guru pasti memberikan kunci jawaban kepada siswa yang mengikuti UN? Kedua, saya berpikir, apakah dia menganggap apa yang dia lakukan tersebut wajar atau bahkan dianjurkan oleh sekolah?

Saya beranggapan kalau anak tersebut “terpaksa” melakukannya karena dia menggagap pasti tidak mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar tanpa memiliki bocoran jawaban sebelumnya.

Mungkin siswa tersebut merasa bahwa kejujuran tidak berlaku selama UN. Karenanya dia berpikir tidak ada pilihan selain mencari kunci jawaban sebelum soal dibagikan. Terbukti ‘praktik hitam’ banyak terjadi saat UN 2012 tingkat SMA/sederajat berlangsung pada 16-19 April lalu, ada 837 laporan pengaduan yang masuk ke Posko UN Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemdikbud.go.id).

 Kecurangan sistematis
Banyak media yang mem-blow up kecurangan-kecurangan selama UN, Harian Kompas (20/4/2012), misalnya, memberitakan ada kecurangan sistematis dan rapi sehingga susah untuk dibuktikan kecuali ada orang dalam. Harian Media Indonesia pada hari yang sama juga menulis bahwa kecurangan sistematis dalam UN melibatkan sekolah dan institusi pendidikan daerah.

Kondisi ini semakin menguatkan bahwa UN --secara tidak langsung-- sudah mendidik siswa untuk berbohong. Menyontek atau melakukan kecurangan dalam proses ujian adalah salah satu bentuk praktik korupsi. Kalau sejak duduk di bangku sekolah saja, yang seharusnya penuh dengan nilai-nilai dan etika, sudah diajarkan korupsi, bagaimana saat mereka menjadi pemimpin?

Padahal esensi pendidikan adalah menciptakan sikap dan budi pekerti yang berakhlak mulia. Hal ini jelas tercermin dalam tujuan pendidikan nasional kita bahwa substansi dari pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia (UU 14 Tahun 2005). 

Fakta selanjutnya yang akan membuat demographic dividend menjadi demographic disaster (bencana) adalah budaya membaca kita. Bagi kebanyakan orang, masalah membaca mungkin sederhana dan tidak akan berpengaruh besar terhadap pembangunan bangsa. Pada dasarnya, sumber mata rantai permasalahan bangsa ini ada pada masalah pendidikan, dan ranah utamanya adalah membaca.

Coba kita perhatikan, bagaimana dengan budaya membaca kita. Dari tiga fase masyarakat yang pernah disebutkan oleh Teguh Sentoso dalam tulisannya “Bacalah” (Serambi, 10/8/2011), yaitu fase tradisional, literer, dan modern. Sayangnya, masyarakat Indonesia (termasuk Aceh berarti) masih berada pada kelas tradisional.

Ironis memang, di saat negara-negara lain sedang sibuk berinovasi, menciptakan berbagai teknologi canggih, menciptakan tenaga nuklir, berlomba menciptakan perguruan tinggi yang world class university, menciptakan model e-learning, e-business, menciptakan generasi yang siap berkompetisi dengan dunia global, namun kita masih merangkak pada tahap menggalakkan membaca.

 Buta aksara
Meskipun hari Aksara International yang diperingati setiap 8 September sudah dicanangkan oleh PBB sejak 1965, namun sekarang ini sekitar 20% orang dewasa di dunia masih buta aksara (voaindonesia.com). Ironisnya lagi minat baca orang Aceh masih berada pada ranking ke-117 tingkat ASEAN sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Sanusi di hadapan peserta penyuluhan pembudayaan kegemaran membaca bagi pengelola pustaka (Serambi, 29/7/2011).

Gambaran di atas baru sekadar persoalan UN dan membaca. Belum lagi kita bicara masalah kualitas guru di sekolah, profesionalisme dosen di kampus, kemampuan mahasiswa, sertifikasi dosen/guru, pemerataan guru, peningkatan kualitas, percepatan pembangunan infrastruktur dan suprastruktur pendidikan, pendistribusian anggaran pendidikan, dan banyak masalah lain yang menunjukkan betapa masih semrautnya pendidikan kita.

Tampaknya, kekhawatiran Mendikbud Muhammad Nuh akan segera terbukti bahwa potensi yang ada (demographic dividend) tidak mustahil akan menjadi bencana (demographic disaster) apabila tidak dikelola dan dibina dengan baik. Dan, pada titik inilah “generasi emas” tidak akan pernah berkilau. Selamat Hardiknas 2012!

Penulis adalah Muhammad Adam, Staff Pengajar Ruhul Islam dan Alumnus IELSP Ohio University, USA.

April 24, 2012

Penghargaan International Untuk Kaum Perempuan

TIAW WORLD OF DIFFERENCE 100 AWARDS

Ayo,,,Usulin wanita-wanita yang yang kamu kenal untuk mendapatkan penghargaan/award dari TIAW tahun 2012. Ceremonial Award akan dilakukan di Washington pada Oktober mendatang. 

The TIAW (the International Alliance for Women) World of Difference 100 Award recognizes amazing individuals whose efforts have advanced the economic empowerment of women locally, regionally or worldwide whether they are well known or  “unsung heroines”.

See the nomination form for the categories and the criteria.  If the nominee does not fit any of the categories, please feel free to nominate your candidate using the category of “other”.  The purpose of the nominations is to capture the activities that we believe embody the TIAW motto: “Connecting to Make all the Difference in the World” in women’s economic empowerment.

The top 100 submissions will form the TIAW World of Difference 100 Awards List, to be announced at the TIAW World of Difference Awards dinner.

Download Formilirnya, HERE
Wanita-Wanita yang mendapat TIAW Award 2011, silakan klik disini

Informasi lebih lanjut, silakan click HERE

Semoga Sukses!!!


March 17, 2012

PIDATO ANAK 12 TH YANG MEMBUNGKAM PARA PEMIMPIN DUNIA DI PBB

Catatan:
Dibawah ini adalah pidato anak berusia 12 tahun yang saya ambil dari group facebook Motivasi Beasiswa yang diposting oleh Muhammad Irsyad Parinduri. Bagi saya benar tidaknya pidato ini tidak penting, tapi isinya sangat menyentuh dan membuat kita menyesal atas apa yang kita lakukan selama ini. selamat membaca, semoga bermanfaat!!!
Cerita ini berbicara mengenai seorang anak dari Kanada bernama Severn Suzuki, seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental
Children’s Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri
untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB,
dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato
kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin
dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil berusia 12 tahun hingga bisa
membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang
sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk
tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental
Children Organization
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12
dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga,
Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa
datang kesini sejauh 6000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian
orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga.
Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan
bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum
atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi
semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang
tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat
yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan
habitatnya. Kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena
berlubangnya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya
tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa
tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker.
Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu
persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar
binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan
burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal
tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini
ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap
bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua
pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki
semua pemecahannya. Tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda
sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang
telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di
tempatnya, yang sekarang hanya berupa padang pasir. Jika anda tidak tahu
bagaima cara memperbaikinya. TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah delegasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota
perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah
dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan
anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua
adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari
5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air
dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan
mengubah hal tersebut.

Saya hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua
menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk
tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak
ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan. Kami membeli
sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun
begitu tetap saja negara-negara di Utara tidak akan berbagi dengan
mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan
dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer
dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami
menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah
satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: ” Aku berharap aku kaya,
dan jika aku kaya, aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan,
pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan dan tidak memiliki apapun,
bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih
begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia
sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan
yang begitu besar, bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari
anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak
yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau
pengemis di India .

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa jika semua uang
yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemiskinan
dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya
dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk
berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan
orang lain, untuk mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita
timbulkan; untuk tidak menyakiti makhluk hidup lain, untuk berbagi dan
tidak tamak. Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan
pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konperensi ini, mengapa anda
melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah
yang memutuskan, dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua
seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan
mengatakan, ” Semuanya akan baik-baik saja , ‘kami melakukan yang
terbaik yang dapat kami lakukan dan ini bukanlah akhir dari segalanya.”

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada
kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata, “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatanmu,
bukan oleh kata-katamu”.

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari.
Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami. Saya menantang
A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatiannya.
***********

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam satu ruang sidang Konperensi PBB,
membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan
pidatonya. Setelah pidatonya selesai serempak seluruh orang yang hadir
diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah
kepada anak berusia 12 tahun itu.

Dan setelah itu, ketua PBB mengatakan dalam pidatonya:

” Hari ini saya merasa sangatlah malu terhadap diri saya sendiri karena
saya baru saja disadarkan betapa pentingnya linkungan dan isinya
disekitar kita oleh anak yang hanya berusia 12 tahun, yang maju berdiri
di mimbar ini tanpa selembarpun naskah untuk berpidato. Sedangkan saya
maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh asisten saya
kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12
tahun “

January 19, 2012

Biografi Joko Widodo (2)

Ir. Joko Widodo (Jokowi) adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo. Jokowi lahir di Surakarta pada 21 Juni 1961.

Biografi Jokowi (Joko Widodo)

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Berkat prestasi tersebut, Jokowi terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008" oleh Majalah Tempo.

Asal Nama Julukan Jokowi

“Jokowi itu pemberian nama dari buyer saya dari Prancis,” begitu kata Wali Kota Solo, Joko Widodo, saat ditanya dari mana muncul nama Jokowi. Kata dia, begitu banyak nama dengan nama depan Joko yang jadi eksportir mebel kayu. Pembeli dari luar bingung untuk membedakan, Joko yang ini apa Joko yang itu. Makanya, dia terus diberi nama khusus, ‘Jokowi’. Panggilan itu kemudian melekat sampai sekarang. Di kartu nama yang dia berikan tertulis, Jokowi, Wali Kota Solo. Belakangan dia mengecek, di Solo yang namanya persis Joko Widodo ada 16 orang.

Saat ini, Jokowi menjabat untuk periode kedua. Kemenangan mutlak diperoleh saat pemilihan wali kota tahun lalu. Nama Jokowi kini tidak hanya populer, tapi kepribadiannya juga disukai masyarakat. Setidaknya, ketika pergi ke pasar-pasar, para pedagang beramai-ramai memanggilnya, atau paling tidak berbisik pada orang sebelahnya, “Eh..itu Pak Joko.”

Bagaimana ceritanya sehingga dia bisa dicintai masyarakat Solo? Kebijakan apa saja yang telah membuat rakyatnya senang? Mengapa pula dia harus menginjak pegawainya? Berikut wawancara wartawan Republika, Ditto Pappilanda, dengan Jokowi dalam kebersamaannya sepanjang setengah hari di seputaran Solo.

Sikap apa yang Anda bawa dalam menjalankan karier sebagai birokrat?
Secara prinsip, saya hanya bekerja untuk rakyat. Hanya itu, simpel. Saya enggak berpikir macam-macam, wong enggak bisa apa-apa. Mau dinilai tidak baik, silakan, mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja. Begitu saja.

Bener, saya tidak muluk-muluk dan sebenarnya yang kita jalankan pun semua orang bisa ngerjain. Hanya, mau enggak. Punya niat enggak. Itu saja. Enggak usah tinggi-tinggi. Sederhana sekali.

Contoh, lima tahun yang lalu, pelayanan KTP kita di kecamatan semrawut. KTP bisa dua minggu, bisa tiga minggu selesai. Tidak ada waktu yang jelas. Bergantung pada yang meminta, seminggu bisa, dua minggu bisa. Tapi, dengan memperbaiki sistem, apa pun akan bisa berubah. Menyiapkan sistem, kemudian melaksanakan sistem itu, dan kalau ada yang enggak mau melaksanakan sistem, ya, saya injak.

Awalnya reaksi internal bagaimana?
Ya biasa, resistensi setahun di depan, tapi setelah itu, ya, biasa saja. Semuanya kalau sudah biasa, ya semuanya senang. Ya, kita mengerti itu masalah kue, ternyata ya juga bisa dilakukan.

Untuk mengubah sistem proses KTP itu, tiga lurah saya copot, satu camat saya copot. Saat itu, ketika rapat diikuti 51 lurah, ada tiga lurah yang kelihatan tidak niat. Enggak mungkin satu jam, pak, paling tiga hari, kata mereka. Besoknya lurah itu tidak menjabat. Kalau saya, gitu saja. Rapat lima camat lagi, ada satu camat, sulit pak, karena harus entri data. Wah ini sama, lah. Ya, sudah.

Nyatanya, setelah mereka hilang, sistemnya bisa jalan. Seluruh kecamatan sekarang sudah seperti bank. Tidak ada lagi sekat antara masyarakat dan pegawai, terbuka semua. Satu jam juga sudah jadi. Rupiah yang harus dibayar sesuai perda, Rp 5.000.

Anda juga punya pengalaman menarik dalam penanganan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian banyak menjadi rujukan?
Iya. Sekarang banyak daerah-daerah ke sini, mau mengubah mindset. Oh ternyata penanganan (PKL) bisa tanpa berantem. Memang tidak mudah. Pengalaman kami waktu itu adalah memindahkan PKL di Kecamatan Banjarsari yang sudah dijadikan tempat jualan bahkan juga tempat tinggal selama lebih dari 20 tahun. Kawasan itu sebetulnya kawasan elite, tapi karena menjadi tempat dagang sekaligus tempat tinggal, yang terlihat adalah kekumuhan.

Lima tahun yang lalu, mereka saya undang makan di sini (ruang rapat rumah dinas wali kota). Saya ajak makan siang, saya ajak makan malam. Saya ajak bicara. Sampai 54 kali, saya ajak makan siang, makan malam, seperti ini. Tujuh bulan seperti ini. Akhirnya, mereka mau pindah. Enggak usah di-gebukin.

Mengapa butuh tujuh bulan, mengapa tidak di tiga bulan pertama?
Kita melihat-melihat angin, lah. Kalau Anda lihat, pertama kali mereka saya ajak ke sini, mereka semuanya langsung pasang spanduk. Pokoknya kalau dipindah, akan berjuang sampai titik darah penghabisan, nyiapin bambu runcing. Bahkan, ada yang mengancam membakar balai kota.

Situasi panas itu sampai pertemuan ke berapa?
Masih sampai pertemuan ke-30. Pertemuan 30-50 baru kita berbicara. Mereka butuh apa, mereka ingin apa, mereka khawatir mengenai apa. Dulu, mereka minta sembilan trayek angkot untuk menuju wilayah baru. Kita beri tiga angkutan umum. Jalannya yang sempit, kita perlebar.

Yang sulit itu, mereka meminta jaminan omzet di tempat yang baru sama seperti di tempat yang lama. Wah, bagaimana wali kota disuruh menjamin seperti itu. Jawaban saya, rezeki yang atur di atas, tapi nanti selama empat bulan akan saya iklankan di televisi lokal, di koran lokal, saya pasang spanduk di seluruh penjuru kota. Akhirnya, mereka mau pindah.

Pindahnya mereka saya siapkan 45 truk, saya tunggui dua hari, mereka pindah sendiri-sendiri. Pindahnya mereka dari tempat lama ke tempat baru saya kirab dengan prajurit keraton. Ini yang enggak ada di dunia mana pun. Mereka bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran. Artinya, pindahnya senang. Tempat yang lama sudah jadi ruang terbuka hijau kembali.

Omzetnya di tempat yang baru?
Bisa empat kali. Bisa tanya ke sana, jangan tanya saya. Tapi, ya kira-kira ada yang sepuluh kali, ada yang empat kali. Rata-rata empat kali. Ada yang sebulan Rp 300 juta. Itu sudah bukan PKL lagi, geleng-geleng saya.

Bagaimana dengan PKL yang lain?
Setelah yang eks-PKL Banjarsari pindah, tidak sulit meyakinkan yang lain. Cukup pertemuan tiga sampai tujuh kali pertemuan selesai. Sampai saat ini, kita sudah pindahkan 23 titik PKL, tidak ada masalah.

Lha yang repot sekarang ini malah pedagang PKL itu minta direlokasi. Kita yang nggak punya duit. Sampai sekarang ini, masih 38 persen PKL yang belum direlokasi. Jadi, kalau masih melihat PKL di jalan atau trotoar, itu bagian dari 38 persen tadi.

Tampaknya, pemberdayaan pasar menjadi perhatian Anda?
Oiya. Kita sudah merenovasi 34 pasar dan membangun pasar yang baru di tujuh lokasi. Jika dikelola dengan baik, pasar ini mendatangkan pendapatan daerah yang besar.

Dulu, ketika saya masuk, pendapatan dari pasar hanya Rp 7,8 miliar, sekarang Rp 19,2 miliar. Hotel hanya Rp 10 miliar, restoran Rp 5 miliar, parkir Rp 1,8 miliar, advertising Rp 4 miliar. Hasil Rp 19,2 miliar itu hanya dari retribusi harian Rp 2.600. Pedagangnya banyak sekali, kok. Ini yang harus dilihat. Asal manajemennya bagus, enggak rugi kita bangun-bangun pasar. Masyarakat-pedagang terlayani, kita dapat income seperti itu.

Sementara kalau mal, enggak tahu saya, paling bayar IMB saja, kita mau tarik apa? Makanya, mal juga kita batasi. Begitu juga hypermarket kita batasi. Bahkan, minimarket juga saya stop izinnya. Rencananya dulu akan ada 60-80 yang buka, tapi tidak saya izinkan. Sekarang hanya ada belasan.

Tapi, sepertinya Pasar Klewer belum tersentuh ya, kondisinya masih kurang nyaman?
Klewer itu, waduh. Duitnya gede sekali. Kemarin, dihitung investor, Rp 400 miliar. Duit dari mana? Anggaran berapa puluh tahun, kita mau cari jurus apa belum ketemu. Anggaran belanja Solo Rp 780 miliar, tahun ini Rp 1,26 triliun. Tidak mampu kita. Pedagang di Klewer lebih banyak, 3.000-an pedagang, pasarnya juga besar sekali. Di situ, yang Solo banyak, Sukoharjo banyak, Sragen banyak, Jepara ada, Pekalongan ada, Tegal ada. Batik dari mana-mana. Tapi, saya yakin ada jurusnya, hanya belum ketemu aja.

Soal pendidikan, di beberapa daerah sudah banyak dilakukan pendidikan gratis, apakah di Solo juga begitu?
Kita beda. Di sini, kita menerbitkan kartu untuk siswa, ada platinum, gold, dan silver. Mereka yang paling miskin itu memperoleh kartu platinum. Mereka ini gratis semuanya, mulai dari uang pangkal sampai kebutuhan sekolah dan juga biaya operasional. Kemudian, yang gold itu mendapat fasilitas, tapi tak sebanyak platinum. Begitu juga yang silver, hanya dibayari pemkot untuk kebutuhan tertentu.

Itu juga yang diberlakukan untuk kesehatan?
Iya, ada kartu seperti itu, ada gold dan silver. Gold ini untuk mereka yang masuk golongan sangat miskin. Semua gratis, perawatan rawat inap, bahkan cuci darah pun untuk yang gold ini gratis.

Tampaknya, sekarang masyarakat sudah percaya pada Anda, padahal di awal terpilih, banyak yang sangsi?
Yah, satu tahun, lah. Namanya belum dikenal, saya kan bukan potongan wali kota, kurus, jelek. Saya juga enggak pernah muncul di Solo, apalagi bisnis saya 100 persen ekspor. Ada yang sangsi, ya biar saja, sampai sekarang enggak apa-apa. Mau sangsi, mau menilai jelek, terserah orang.

Dulu, apa niat awalnya jadi wali kota?
Enggak ada niat, kecelakaan. Ndak tahu itu. Dulu, pilkada pertama, kita dapat suara 37 persen, menang tipis. Wong saya bukan orang terkenal, kok. Yang lain terkenal semuanya kan, saya enggak. Tapi, kelihatannya masyarakat sudah malas dengan orang terkenal. Mau coba yang enggak terkenal. Coba-coba, jadi saya bilang kecelakaan tadi itu memang betul.

Hal apa yang paling mengesankan selama Anda menjadi wali kota?
Paling mengesankan? Paling mengesankan itu, kalau dulu, kan, wali kota mesti meresmikan hal yang gede-gede. Meresmikan mal terbesar besar misalnya. Tapi, sekarang, gapura, pos ronda, semuanya saya yang buka, kok. Pos ronda minta dibuka wali kota, gapura dibuka wali kota, ya gimana rakyat yang minta, buka aja. Ya, kadang-kadang lucu juga. Tapi kita nikmati.

Apa kesulitan yang paling pertama Anda temui saat menjabat sebagai wali kota?
Masalah aturan. Betul. Kita, kalau di usaha, mencari yang se-simpel mungkin, seefisien mungkin. Tapi, kita di pemerintahan enggak bisa, ada tahapan aturan. Meskipun anggaran ada, aturannya enggak terpenuhi, enggak bisa jalani. Harusnya, bisa kita kerjain dua minggu, harus menunggu dua tahun. Banyak aturan-aturan yang justru membelenggu kita sendiri, terlalu prosedural. Kita ini jadi negara prosedur.

Apa pertimbangannya saat Anda mencalonkan untuk kali kedua?
Sebetulnya, saya enggak mau. Mau balik lagi ke habitat tukang kayu. Saat itu, setiap hari datang berbondong-bondong berbagai kelompok yang mendorong saya maju lagi. Mereka katakan, ini suara rakyat. Saya berpikir, ini benar ndak, apa hanya rekayasa politik. Dua minggu saya cuti, pusing saya mikir itu. Saya pulang, okelah saya survei saja. Saya survei pertama, dapatnya 87 persen. Enggak percaya, saya survei lagi, dapatnya 87 persen lagi.

Setelah survei itu, saya melihat, benar-benar ada keinginan masyarakat. Jadi, yang datang ke saya itu benar. Dan ternyata memang saya dapat hampir 91 persen. Saya lihat ada harapan dan ekspektasi yang terlalu besar. Perhitungan saya 65-70 persen. Hitungan di atas kertas 65:35, atau 60:40, kira-kira.

Ada kekhwatiran tidak, ketika lepas jabatan, semua yang Anda bangun tetap terjaga?
Pertama ada blueprint, ada concept plan kota. Paling tidak, pemimpin baru nanti enggak usah pakai 100 persen, seenggaknya 70 persen. Jangan sampai, sudah SMP, kembali lagi ke TK. Saya punya kewajiban juga untuk menyiapkan dan memberi tahu apa yang harus dilakukan nantinya. ed: anif punto utomo

Joko Widodo

Nama : Joko Widodo
Tempat Tanggal Lahir: Surakarta, 21 Juni 1961

Pendidikan:
SDN 111 Tirtoyoso Solo
SMPN 1 Solo
SMAN 6 Solo
Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta

Beberapa penghargaan untuk Jokowi
- Kota dengan Tata Ruang Terbaik ke-2 di Indonesia
- 10 Tokoh di tahun 2008 oleh Majalah Tempo
- Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Award
- Bung Hatta Award (2010)

Mari Kita dukung Pak Jokowi jadi presiden RI hehe :)

Sumber: Biografi Rumus

December 08, 2011

How much can a civil servant earn?

A recent report revealing that dozens of young civil servants – possibly still in their 20s or 30s – have billions of rupiah in their bank accounts has shown that the bureaucratic reforms campaigned for by the government have yet to show a positive result.

The Financial Transaction Reports and Analysis Center (PPATK) reported recently that it had found more than a dozen low-ranking civil servants with implausibly large bank accounts, ranging from millions to hundreds of billions of rupiah.

The government has raised the basic salary of civil servants by 10 to 15 percent this year. The rises were stipulated in Government Regulation No. 11/2011 on Civil Servant Salaries.

According to the regulation, low-ranking officials, holding ranks of III a, III b and III c earn basic salaries of Rp 1,902,300 (US$211.15) to Rp 3,197,600. Officials also get monthly allowances, depending on the institution.

Junior officials' basic salaries based on tenure and rank:

Rank III a, with tenure of  >1 year         Rp1.902.300
Rank III a, with tenure of 10 years        Rp2.180.300
Rank III a, with tenure of 20 years        Rp2.499.000
Rank III a, with tenure of 32 years        Rp2.943.400

Rank III b, with tenure of >1 year          Rp1.982.800
Rank III b, with tenure of 10 years       Rp2.275.500
Rank III b, with tenure of 20 years       Rp2.604.700
Rank III b, with tenure of 32 years       Rp3.197.600

Rank III c, with tenure of >1 year         Rp2.066.600
Rank III c, with tenure of 10 years         Rp2.368.700
Rank III c, with tenure of 20 years         Rp2.714.800
Rank III c, with tenure of 32 years         Rp3.197.600

Source : Jakarta Post

November 19, 2011

Belajar dari Negara Terbaik Dunia

BARU-BARU ini Badan PBB untuk Program Pembangunan (UNDP) menobatkan Norwegia sebagai negara terbaik di dunia, dengan tiga indikator penilaian: tingkat pendidikan, pendapatan per kapita, dan kesehatan masyarakatnya. Rilis tersebut juga mencantumkan Indonesia di urutan 124 dari 187 negara yang disurvei.

Bagi Norwegia, prestasi ini tidaklah mengejutkan, karena UNDP sudah sembilan kali berturut–turut menabalkan Norwegia sebagai negara yang paling diimpikan manusia sebagai tempat tinggal di dunia.

Berikut ini beberapa fakta menarik tentang kehidupan di Norwegia yang saya dapatkan selama menempuh pendidikan di negara ini.

Bidang pendidikan, Norwegia menggratiskan seluruh biaya pendidikan pada semua jenjang. Ini juga berlaku bagi warga negara asing yang bersekolah di sini. Misalnya, saya dan lima mahasiswa Aceh lainnya. Bantuan beasiswa yang kami dapatkan dari Pemerintah Norwegia, hanya kami pergunakan untuk biaya hidup.

Kepada mahasiswa juga disediakan kredit pelajar. Artinya, selama mahasiwa menyelesaikan pendidikan, biaya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari seperti penginapan, makanan, dan lainnya mereka dapatkan dari pinjaman bank dan akan mulai membayar cicilan ketika sudah menamatkan pendidikan dan bekerja. Mahasiswa sama sekali tidak tergantung pada dana orang tuanya.

Untuk pendapatan penduduknya, negara ini penganut paham ekonomi sosialis. Ciri khasnya adalah perbedaan pendapatan di antara semua profesi tidak terlalu jauh. Profesor sampai petugas kebersihan bisa hidup layak dari gaji mereka. Apabila profesor menggunakan mobil ke kampus, maka begitu juga dengan petugas kebersihan.

Ciri khas lainnya, pajak tinggi, sehingga yang berpendapatan tinggilah yang membantu warga lainnya.

Bagaimana kalau kita sedang tidak memiliki pekerjaan atau karena alasan tertentu tak mampu bekerja sebagaimana mestinya? Tenang saja, karena pemerintah akan menyubsidi biaya hidup dan membantu kita untuk mendapatkan pekerjaan.

Apabila Anda penduduk Norwegia dan berumur 67 tahun, saatnya mengambil pensiun dan mempergunakan waktu untuk menikmati hidup. Berliburlah ke banyak negara. Pada usia tersebut semua orang akan mendapat gaji pensiun, terlepas apa pun pekerjaan Anda, pegawai negeri, pegawai swasta, pebisnis, atau hanya petani, semua akan mendapat dana pensiun yang layak.

Ini ilustrasi soal gaji. Kawan saya yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit mendapat bayaran 200 kroner (Rp 300.000) per jam. Jadi, kalau sehari ia kerja delapan jam, maka pendapatanya Rp 2,4 juta per hari. Jika ia bekerja pada hari libur atau hari-hari besar, maka pendapatannya akan lebih dari itu.

Untuk bidang kesehatan, Norwegia juga menggratiskan biaya perawatan kesehatan. Saya pernah dirawat enam hari di sebuah rumah sakit. Saya bisa rasakan kualitas pelayanan rumah sakit mereka. Selain biaya rawat inap, obat-obatan, mereka juga menggratiskan ambulans. Untuk makanan, pasien bisa pergi sendiri ke dapur dan makan semau dan sepuasnya, kecuali pasien yang harus tetap berada di atas tempat tidur tentunya atau terkena keharusan diet.

Standar ruangan dan pelayanan sama untuk semua masyarakat, termasuk raja dan keluarganya. Ruangan di rumah sakit tidak menganal perbedaan kelas, tidak ada bangsal ataupun VIP, semua ruangan sama, tergantung kebutuhan pelayanan saja.

Menjadi wanita hamil justru sangat terhormat di negara ini. Negara, selain menggratiskan semua biaya pemeriksaan kehamilan dan persalinan, juga memberikan bantuan kepada setiap ibu yang melahirkan sebesar 35 ribu kroner (Rp 55 juta). Luar biasa. Kapan ya semua itu menjadi kenyataan di Indonesia atau minimal di Aceh?

Citizen Reporter : M ARMIYADI SIGNORI, staf Rumah Sakit Jiwa Aceh, aktivis World Achehnese Association, melaporkan dari Norwegia
Sumber: Serambi Indonesia

November 09, 2011

Pemimpin Minim Ambisi

Moammar Khadafy adalah tragik seorang pemimpin flamboyan, berani, dan penuh ambisi. Ia dihujat dan sekaligus dipuja selama 42 tahun berkuasa.
Bagi seorang pilot asal Indonesia, Ganahadi Ratnuatmaja, yang tujuh tahun menjadi pilot pribadi mantan pemimpin Libya itu, Khadafy adalah pribadi peramah dan pemurah. Yang selalu datang ke kokpit untuk bersalaman dan meminta maaf karena beberapa menit terlambat. Yang mengirim saudara kandungnya untuk menghadiri pesta mantu sang pilot di Indonesia. Yang dengan tegas menyatakan bahwa sejak masih berpangkat kolonel mengagumi Soekarno, presiden pertama Indonesia.
Banyak orang di dunia, termasuk para pemimpin, mengagumi Soekarno. Dari sopir di Polandia, pelukis di Montmart, Perancis, Mahathir Mohamad dari Malaysia, hingga almarhum Anwar Sadat dari Mesir.
Soekarno adalah lambang perlawanan terhadap kekuatan dunia dengan retorika, ketegasan, dan keindahan diplomasi. Ia membuat dunia terpaku dan terpukau sehingga ditiru banyak pemimpin dunia setelahnya.
Khadafy adalah salah satu pemimpin yang sungguh mengingatkan kita pada proklamator itu. Cara hidup hingga keberaniannya merobek surat sanksi di depan Majelis Umum PBB mengingatkan kita pada Soekarno yang mengkritik Amerika di forum yang sama. Namun, sejarah memberi mereka nasib berbeda.
Soekarno berkeras melaksanakan demokrasi. Akibatnya, hidup politik yang dibangunnya ricuh sepanjang usia kepemimpinannya. Ia mengakhiri kekuasaan dengan catatan pertumbuhan ekonomi yang kurang sukses, kecuali beberapa proyek mercusuar. Ia digulingkan dan meninggal dalam kesendirian.
Sebaliknya dengan Khadafy. Ia dengan keras—kalau perlu menghabisi lawan-lawan politiknya— menciptakan stabilitas untuk mencapai kemakmuran. Hingga 2010, Libya tercatat sebagai negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) tertinggi di Afrika dan nomor 55 di tingkat dunia. Posisi Libya di atas Arab Saudi, Malaysia, Rusia, dan Indonesia yang terpuruk di nomor 111. Menurut Bank Dunia, pendapatan penduduknya nomor 50 dunia dengan 16.837 dollar AS per kapita, jauh di atas Turki, Afrika Selatan, Brasil, dan 400 persen kali negeri ini. Namun, ia digulingkan juga.
Refleksi kepemimpinan
Apa yang terjadi di Libya dan ”Arab Spring” pada umumnya sebenarnya adalah refleksi kepemimpinan bagi kita. Setidaknya, pertama, apa yang terjadi di Libya sebenarnya adalah pelaksanaan dari apa yang pernah dikatakan Jenderal Colin Powell kepada Presiden George W Bush tentang perlakuan terhadap Irak, ”If you break it, you own it.”
Amerika Serikat berkomplot dengan kekuatan asing (modal maupun politik) untuk menjatuhkan pemain lama, melakukan perang proxy bersama elite lokal yang menjadi sekutunya, dan mendaur ulang rezim lama ke dalam rezim baru. Maka, jika kita menyaksikan, bahkan terlibat dalam penggulingan rezim lama—seperti beberapa kali terjadi di negeri ini—tetapi kemudian tidak ada perubahan berarti, bahkan dalam beberapa hal kita anggap sebagai kemunduran, maka itu adalah bukti strategi klasik para imperialis konspiratif itu.
Rezim baru sesungguhnya hanya kulit domba baru dari serigala yang sama, yang justru lebih ganas, karena ia memperluas dan memperdalam penetrasi kuasa imperialisnya. Katakanlah hingga pada proses regulasi, pengambilan kebijakan, hingga proses akulturasi masyarakat.
Refleksi kedua memberi kita sebuah fakta, negeri dan bangsa ini ternyata memiliki tingkat keadaban yang lebih tinggi dalam proses peralihan kekuasaan. Di dalam hati dan sanubari rakyat negeri ini, terpendam rasa hormat kepada para pemimpinnya.
Ini adalah buah tradisi, baik adat maupun agama, yang selama ratusan, bahkan ribuan tahun mengajarkan bagaimana seorang manusia harus respek, menghargai dan memuliakan siapa pun yang lebih tua, yang memimpin, yang pernah bertanggung jawab pada hidup dan masa depan kita. Karena itu, bangsa Indonesia, dengan adab seperti itu, boleh berbangga kepada dunia, betapapun ia tidak setuju dan tidak suka kepada seorang pemimpin, ia tak akan menghina, apalagi menyiksa (mantan) pemimpinnya.
Hal ketiga adalah yang terpenting hari ini: sebuah renungan tentang pemimpin seperti apa yang seharusnya kita miliki. Pemimpin macam apa yang tepat dan mampu menjawab persoalan-persoalan mutakhir, baik secara internal maupun dalam desakan-desakan eksternal (global) yang luar biasa belakangan ini.
Apakah kita membutuhkan pemimpin yang berani, berambegan keras, flamboyan, retorik, berdiplomasi hebat, dan berani menantang dunia? Apakah kita membutuhkan lagi Soekarno?
Atau sebaliknya, kita membutuhkan seorang pemimpin yang taktis, tekun, cermat dalam perhitungan kebijakan dan tindakan, kurang populis tetapi pragmatis, demi menjaga pertumbuhan yang di dunia lain pun untuk bertahan mengalami kesulitan?
Sesungguhnya, dunia sekarang lebih dipenuhi oleh pemimpin semacam ini: pragmatis, bukan idealis, dan lebih fokus pada bagaimana negara dan bangsanya dapat bertahan dalam tekanan dunia yang kian berat.
Mimpi bukan mistik
Sia-sialah jika kita mencari pemimpin dengan idealisme yang klasik dan romantik. Yang menampilkan dirinya dengan performasi hebat di mimbar-mimbar, dengan semangat heroik menjadi juru selamat dunia.
Ideologi sudah lama mati ketika semua partai politik dalam dua-tiga dekade lalu bergerak ke tengah. Yang kanan mengadopsi ide yang kiri, sementara yang kiri tanpa sungkan dan malu mempraktikkan apa yang secara ideologis milik yang kanan. Pragmatisme, bahkan dalam pengertian yang paling artifisial dari filosofi William James, adalah penggerak utama dunia yang takluk kepada kekuatan media dan percepatan teknologi informasi.
Di manakah pemimpin Indonesia dalam konstelasi itu? Susilo Bambang Yudhoyono muncul sebagai takdir sejarah, tanpa ada yang menduga, apalagi merasa bahwa ada yang mempersiapkannya. Begitulah sejarah modern bangsa ini, tidak pernah melahirkan pemimpin utama nasional lewat sebuah sistem dan mekanisme pengaderan.
Semua muncul seperti tiba-tiba karena waktu—sebagai kaki tangan nasib—sekonyong bicara dan memutuskan. Bahkan, seorang Habibie pun bukanlah presiden yang dikader dan diinginkan oleh pendahulunya. Seperti presiden lainnya, ia muncul karena waktu menginginkannya.
Itulah sejarah politik modern kita, yang membuat antara lain politik negeri ini tetap diselubungi mistik. Ada cerita satria piningit, Ratu Adil, simulasi ajaib kata notonagoro, dan seterusnya. SBY pun hadir dalam realitas internal dan eksternal itu.
Dalam pemberitaan media massa yang sangat riuh, kritik itu seperti koor dengan refrein yang sama dan dinyanyikan berulang. Seperti lagu pop yang kian membosankan, kritik itu kian lama kehabisan argumentasi, tema, dan isu, bahkan napas. Kaum oposan dan kritikus pedas seakan kian tak berdaya menghadirkan fakta dan analisis yang adekuat yang membuat rakyat lebih tergerak dan menyampingkan pencapaian positif yang jadi senjata SBY dan kabinetnya.
Apa yang kini jadi tema dan isu utama tinggal sebuah ekspresi: SBY tak memiliki keberanian (ketegasan). Sebuah tema psikologis juga kultural yang mengacu pada keberanian bersikap dan bertindak. Sebuah memori kultural yang secara kolektif mengacu pada pemimpin sejenis Soekarno. Namun, SBY seperti mengatakan, ”aku bukan Soekarno” dan ”tidak bisa (mungkin tidak mau) jadi Soekarno”.
Sebagai pemimpin, SBY adalah pragmatis tulen, sebagaimana sejawatnya di bagian dunia lain. Hal itu terlihat jelas dalam kebijakan, tindakan, hingga penyusunan kabinetnya. Para pembantunya diisi oleh orang-orang dengan orientasi prestasional berjangka pendek. Dan sesuai instruksi presiden, berkewajiban mengisi rapor dengan nilai biru sebagai penghias portofolio menjelang pemilu mendatang.
Namun, untuk negara dengan kelimpahan hidup yang membuat iri bangsa-bangsa lain, yang sekian lama diperas kolonialisme, dan sekian dekade dimanipulasi-dirampok lembaga modal dan keuangan internasional, yang sekian lama melupakan, bahkan menghancurkan potensi terbaiknya sendiri, semestinya memiliki pemimpin yang idealis.
Pemimpin idealis memiliki mimpi yang tentu tidak dimiliki pemimpin negara maju, yang sudah direpotkan oleh krisis sumber daya natural. Pemimpin di negeri ini tidak bisa hanya berkemampuan bertahan ketika dunia diancam krisis luar biasa dalam jangka dekat.
Mungkin, pemimpin seperti itu tidak harus meniru Soekarno. Akan tetapi, ia harus memiliki mimpi yang sebenarnya dimiliki seluruh rakyatnya. Masih bisakah pemimpin kita bermimpi?

Oleh : Radhar Panca Dahana Budayawan

Sumber: Kompas

November 05, 2011

Bappenas Bantah IPM Indonesia Menurun

Kepala Bappenas Armida Alisjahbana mengklaim indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia pada 2011 justru mengalami kenaikan meskipun peringkatnya melorot dibandingkan 2010.

"Untuk dikatakan IPM naik atau turun itu yang dilihat adalah nilainya, kalau rangking ya rangkingnya. Pada 2010 itu IPM kita 0,600 dan tahun ini naik jadi 0,617," ujar Armida di Jakarta, Jumat (4/11).

Bahkan, menurut Armida, saat ini metodologi yang digunakan sebagai pengukuran IPM juga sudah berubah dan lebih komprehensif. "UNDP (United Nation Development Program) tahun lalu merubah metodologinya, sehingga ada variabel yang tadinya belum masuk perhitungan sekarang masuk perhitungan," katanya.

Armida mengungkapkan, saat ini perhitungan sudah menggunakan 8 indikator, lebih banyak dari metode sebelumnya yang hanya tiga yakni kesehatan, pendidikan, dan daya beli. "Sekarang itu perhitungannya lebih komprehensif," tambahnya.

Lebih jauh, Armida menyoroti pernyataan di media massa yang menilai IPM Indonesia anjlok karena menurunnya peringkat. "Tidak bisa serta merta dibilang rangking IPM Indonesia turun pada 2011 dibandingkan 2010 karena jumlah negaranya saja sudah beda," ujarnya.

Tahun ini IPM Indonesia berada di peringkat 124 dari 187 negara. Sedangkan pada 2010 Indonesia berada di peringkat 108 dari 169 negara.

"Tahun lalu (2010) ada 169 negara sedangkan tahun ini 187 negara atau naik 18 negara dan itu otomatis merubah ranking," kata Armida.

Selain itu, diungkapkannya, perkembangan yang terjadi di masing-masing negara juga mempengaruhi peringkat negara yang bersangkutan. "Perkembangan di masing-masing negara berbeda, IPM-nya pasti ada yang meningkat lebih cepat, ada yang meningkat tapi kalah cepat dan itu juga pasti merubah rangking," pungkasnya.

Sumber: Media Indonesia

Kekayaan Orang Indonesia

KEKAYAAN total individu di Indonesia melonjak. Dalam kurun waktu 1,5 tahun, sejak Januari 2010 hingga Juni 2011, kenaikan kekayaan orang Indonesia mencapai US$420 miliar atau sekitar Rp3.738 triliun.

Dengan kenaikan itu, kekayaan total orang Indonesia di pertengahan 2011 mencapai US$1,8 triliun atau Rp16.000 triliun. Pertumbuhan kekayaan itu menjadikan Indonesia duduk pada urutan ke-14 negara kontributor tertinggi bagi pertumbuhan kekayaan global.

Fakta itu jelas mencengangkan. Bayangkan, pertumbuhan kekayaan orang Indonesia itu tertinggi di Asia Tenggara. Indonesia berada di atas Singapura, yang mencatat kenaikan kekayaan US$307 miliar. Padahal, realitas di lapangan berbicara lain.

Dalam peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono, mahasiswa justru kembali turun ke jalan untuk menyatakan pemerintah gagal menyejahterakan rakyat.

Para tokoh agama juga menyampaikan keprihatinan karena kemiskinan kian mencekik rakyat. Lebih ironis lagi, ditengarai semakin banyak orang Indonesia yang sakit jiwa, bahkan bunuh diri akibat tekanan ekonomi. 

Pada Maret 2011, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih 30,02 juta orang atau berkurang sekitar 1 juta orang ketimbang jumlah penduduk miskin pada Maret 2010, sebanyak 31,03 juta orang. Sepertinya fakta itu menggembirakan. Ternyata tidak. Jumlah penduduk hampir miskin pada 2011 justru meningkat sekitar 5 juta orang menjadi 27,12 juta.

Jadi, peningkatan kekayaan orang Indonesia cuma dinikmati segelintir orang. Jurang kaya dan miskin semakin menganga. Kue kekayaan seharusnya bisa turut dinikmati sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia. Untuk itu, diperlukan kebijakan negara yang mampu mengoreksi ketimpangan itu.

Negara tentu saja bisa menerapkan pajak progresif terhadap orang kaya di satu pihak dan memberi santunan sosial gratis bagi orang miskin dan penganggur di lain pihak.

Semakin banyak mobil dan rumah pribadi yang dimiliki semakin besar pajak yang dikenakan yang kemudian dipergunakan untuk membangun rumah dan transportasi murah bagi rakyat.

Fakir miskin ditanggung negara yang diperintahkan konstitusi sampai hari ini hanya indah sebagai teks. Belum ada presiden Republik ini--termasuk Presiden Yudhoyono yang terlama memimpin di era reformasi--berhasil melaksanakannya. 

Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu lebih banyak orang kaya ditanggung negara dengan berbagai kemudahan dan kemewahan. Saat mereka masuk penjara karena korupsi, negara bahkan memberi kamar khusus dan remisi khusus.

Sumber : Media Indonesia

Negara Gelandangan

BOLEH percaya boleh tidak, ada yang menyebut Indonesia merupakan negara peringkat ke-5 dengan jumlah gelandangan terbanyak di dunia. Padahal, sebelumnya menempati peringkat ke-15.

Sekali lagi, boleh percaya boleh tidak. Namun, perkara yang satu ini tidak bisa lain harus percaya, yaitu berapa pun jumlah gelandangan nasional itu, sekarang makin mencuat kematian mereka di ruang publik.

Minggu (23/10), misalnya, seorang perempuan gelandangan ditemukan tak bernyawa di trotoar, dekat SMAN 21, Kayu Putih, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Hal itu tak hanya terjadi di Jakarta. Awal bulan ini, seorang kakek gelandangan pun ditemukan tewas di pinggir Sungai Kalimas, Jalan Raya Ngagel, Surabaya, Jawa Timur.

Masih di awal bulan ini, mayat wanita tua gelandangan ditemukan warga terbujur di Jalan AA Gde Ngurah, Cakranegara, Mataram.

Semua itu gelandangan yang mati. Bagaimana yang hidup? Banyak yang mengidap psikosis. Contohnya gelandangan dengan gangguan kejiwaan merupakan pasien terbanyak di Rumah Sakit Jiwa Kalimantan Barat.

Pertanyaannya apa sih yang telah dilakukan pemerintah? Jawaban yang paling nyata ialah negara malu memiliki rakyat gelandangan. Gelandangan bahkan dinilai sebagai aib.

Cara paling gampang menutup malu dan aib ialah dengan 'menyembunyikannya'. Itulah sebabnya Satpol PP dengan gagah perkasa merazia gelandangan agar tidak terlihat oleh umum.

Kematian gelandangan itu jelas memperlihatkan negara tidak mengurus warganya. Negara lalai, bahkan membiarkan mereka mati dengan sendirinya. Padahal, kata konstitusi, fakir miskin ditanggung negara.

Negara memang lalai menunaikan tugas konstitusi itu. Banyak warga yang belum dipenuhi kebutuhan dasarnya. Sekalipun kaya akan sumber daya alam, negara ini toh tak mampu memberikan kecukupan pangan kepada semua warganya. Gelandangan itu mati bukan hanya tak berumah, melainkan juga tak makan.

Di bidang pelayanan kesehatan juga sama. Banyak sudah fakta memilukan warga miskin yang mati karena ditolak rumah sakit. Apalagi gelandangan, agaknya sudah tidak dipandang lagi sebagai manusia.

Seharusnya negara melaksanakan jaminan sosial bagi kaum papa. Namun, semua itu masih jauh. Tengoklah, misalnya, RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang tidak kunjung disahkan pemerintah dan DPR.

Tersendatnya RUU itu menunjukkan buruknya komitmen pemerintah dan DPR terhadap rakyat yang miskin.

Warga negara mati di jalanan, sekalipun itu gelandangan, jelas kelalaian negara. Namun, siapa peduli?

Sumber: Media Indonesia

Mutu Manusia Indonesia

MAJU mundurnya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber manusianya. Semakin bermutu manusianya, semakin maju bangsa itu. Celakanya, mutu manusia di Republik ini masih tergolong buruk.

Terbukti, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia merosot jauh ke posisi 124 dari 187 negara. Padahal, laporan PBB tentang indeks pembangunan manusia pada 2010 masih menempatkan Indonesia di peringkat 108 dari 169 negara.

IPM merupakan ukuran keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa dengan melihat tiga indikator utama, yakni pembangunan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Artinya, pembangunan yang dilakukan membuka peluang bagi penduduk untuk hidup lebih sehat, lebih berpendidikan, dan dapat hidup lebih layak.

Dengan peringkat seperti itu, di lingkup negara-negara ASEAN, Indonesia hanya menempati posisi keenam, di bawah Singapura (26), Brunei (33), Malaysia (61), Thailand (103), dan Filipina (112). Indonesia hanya lebih baik ketimbang negara-negara terbelakang di Asia Tenggara seperti Laos, Kamboja, dan Myanmar.

Celakanya, anjloknya peringkat IPM Indonesia itu bersumber dari sektor pendidikan. Padahal, untuk pendidikan, sejak tahun anggaran 2010 sudah digelontorkan dana 20% dari APBN sesuai dengan tuntutan konstitusi. Namun, fakta berbicara tingkat putus sekolah dan buta aksara masih tetap tinggi.

Di bidang kesehatan, kondisinya juga sama. Tingkat kematian ibu melahirkan dan buruknya pemenuhan gizi anak juga masih tergolong tinggi. Harus diakui, untuk menyediakan pangan saja bagi kebanyakan penduduk, kita masih terseok-seok.

Yang lebih celaka, pembangunan selama ini hanya mendorong munculnya komersialisasi sektor pendidikan dan kesehatan yang begitu hebat.

Akibatnya jelas, banyak anak bangsa ini, terutama kalangan bawah, yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan yang memadai.

Paradigma yang terlalu mengagungkan pertumbuhan ekonomi terbukti sudah usang. Target pertumbuhan ekonomi yang selalu dikejar tanpa memperhitungkan pertumbuhan kualitas manusia yang hendak dicapai jelas langkah yang keliru.

Kita tidak bangga bila pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi indeks pembangunan manusia kita merosot jauh. Kita bahkan mestinya malu besar karena Indonesia hanya lebih baik ketimbang Laos, Kamboja, dan Myanmar.

Sumber: Media Indonesia

November 04, 2011

Rahasia Keberhasilan Negara-negara Skandinavia

Jerman merupakan negara yang hebat, rakyatnya terjamin dan sejahtera. Namun negara-negara Skandinavia jauh lebih hebat lagi. Apa rahasia kehebatan negara-negara di belahan bumi bagian utara itu? Apa yang membuat negara-negara Skandinavia (Swedia, Norwegia, Denmark, dan Finlandia) makmur dan kaya raya. Padahal agama atau tidak beragama, bebas dianut di sana, termasuk pornografi dan publikasi informasi. Tidak ada kekangan ini dan itu, apalagi pertikaian antar agama. Rumah-rumah ibadah nyaris kosong pengunjung, namun rasa aman tenteram meliputi kehidupan di sana. Dengan tingkat toleransi yang sangat tinggi. Satu lagi: “korupsi” merupakan istilah yang aib dan memalukan bagi masyarakat Skandinavia untuk melakukannya.
 
Apakah sistem monarki yang dianut di Swedia, Denmark, dan Norwegia yang menjadi penyebab kemakmuran? Ternyata bukan. Raja atau ratu di sana hanya sebagai simbol saja, seperti di Inggris. Namun mereka tetap dihormati rakyat. Keluarga raja sendiri sangat bersahaja dan merakyat. Ini ditunjukkan oleh, misalnya, Raja Carl Gustav dari Swedia yang mengambil isteri seorang pramuria warga Jerman. Pramuria yang menjadi ratu Swedia ini adalah dongeng yang menjadi kenyataan.
 
Ada enam alasan yang sangat mendasar, mengapa tingkat kebahagiaan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat di negara-negara Skandinavia merupakan yang tertinggi di dunia.
 
Alasan Pertama: Reformasi yang Berjalan Mulus
Sebagai contoh adalah reformasi yang dibuat oleh Denmark. Sistem sosial dirombak besar-besaran dan usia pensiun ditinggikan sampai umur 70 tahun. Sebab harapan hidup rata-rata rakyat Denmark sekarang mencapai 82 tahun. Di Denmark makin banyak rakyat yang bahagia dan sejahtera. Hidup layak terhormat dan terjamin sampai mereka wafat.
 
Alasan Kedua: Masyarakat Modern
Sikap realistis sangat dipunyai oleh semua rakyat di negara Skandinavia. Mereka sangat mirip dari tutur sapa bahasa, budaya, dan mentalitas. Kecuali Finlandia. Norwegia telah membuktikan, bahwa negara perlu bersikap tegas jika ada keputusan yang harus dilaksanakan. Tahun 2006 misalnya, menteri ekonomi Norwegia (Ansgar Gabrielsen, seorang pria), mencetuskan aturan pemerintah yang mengharuskan jabatan pos pengawas setiap perusahaan diisi oleh minimal 40% wanita. Norwegia adalah negara pertama di dunia yang mengatur kuota jenis kelamin berdasarkan undang-undang. Hasilnya dinikmati rakyat Norwegia bertahun kemudian: bapak rumah tangga juga sama tinggi dan rendah dengan ibu rumah tangga. Menjadi bapak rumah tangga merupakan hal biasa di sana, karena sang isteri menjadi pencari nafkah.
 
Alasan Ketiga: Negara Skandinavia Tidak Punya Hutang
Perusahaan di Norwegia benar-benar diuntungkan oleh kebijakan gender di level atas, demikian hasil penelitian Dr. Jorunn Okland, direktur sentral riset studi gender di Universitas Oslo. Faktanya juga menunjang hasil studi ini. Norwegia secara ekonomi ada di peringkat paling atas negara-negara Eropa. Tak ada negara lain yang berlebih devisa seperti Norwegia. Hutang Swedia dan Denmark kurang dari separoh hutang Jerman. Tingkat pengangguran di Norwegia adalah yang paling rendah di dunia. Daya beli rakyat Norwegia 4 kali lebih besar ketimbang Prancis dan 2 kali melebihi Jerman. Perbedaan ini makin bulan makin besar.
 
Alasan Keempat: Pertumbuhan Ekonomi Lebih Besar
Tahun 2010 silam produk domestik bruto Norwegia naik 6,5%. Demikian pula Swedia. Negara asal grup musik ABBA ini bahkan dipuji oleh sekretaris jenderal OECD, Dr.Angel Gurria, sebagai negara elok yang bertambah makmur. Tahun 2011 pertumbuhan ekonominya diprediksi naik dari 3,9% menjadi 6,9%. Sesuatu yang hebat bagi negara di dunia dalam kondisi seperti ini.
 
Alasan Kelima: Mata Uang Sendiri
Negara-negara Skandinavia lolos dengan mulus saat krisis finansial global melanda muka bumi. Fakta yang sangat menunjang kelolosan itu antara lain ialah mata uang sendiri, tidak ikut dalam Euro, kecuali Finlandia. Mata uang Norwegia, Swedia, dan Denmark merupakan salah tiga yang paling stabil di dunia. Gejolak ekonomi apa pun tidak membuat mereka goyang. Sebagian besar rakyat Indonesia yang tidak pernah hidup di negara stabil seperti mereka tentu tidak bisa membayangkan tenangnya nilai tukar mata uang yang mantap. Sebagai gambaran: dalam tempo sepuluh tahun harga satu kilo kentang nyaris tetap sama. Tidak ada harga barang yang naik turun atau naik melulu seperti di sini.
 
Alasan Keenam: Perusahaan Nasional yang Kuat
Karena hutang negara yang nyaris nihil, politik yang sangat stabil, dan ekonomi yang berorientasi kuat ke ekspor, maka nilai saham skandinavia amat atraktif. Barang siapa investasi pada saham skandinavia, dia bagai masuk ke perusahaan kelas dunia yang posisi pasarnya sangat kuat. Industri farmasi Denmark, Novo Nordisk misalnya, punya bagian 25% pasar diabetika dunia. Di RRC bagian saham mereka malah mencapai 60%.
 

UNDP report finds Indonesia more democratic but nothing else

The political reforms that Indonesia has introduced since 1998 have been duly noted by the United Nations, but these have done little to improve the country's international standing in human development progress.
The Human Development Report 2002, published by the UN Development Program (UNDP) on Wednesday, recognizes Indonesia's efforts to forge a democracy by removing press restrictions and increasing the role played by civil society.
But when it came to its ranking on the human development index (HDI), Indonesia remained at 110th, the same position it held in 1995, according to the report.
Indonesia, with a score of 0.684, is behind Vietnam at 109th and China at 96th, but ahead of India at 124th.
""Indonesia is specially mentioned in the report as an example of where free press and civil society activism have allowed people to participate in policy decisions and debates,"" according to a statement from the UNDP office in Jakarta.
""The report also notes that Indonesia has abolished restrictive press laws and has engaged in the deregulation and privatization of media markets,"" it said.
The report acknowledges the role played by civil society in promoting public participation and representation, particularly during the 1999 general election.
But the report did not only highlight the positive aspects of Indonesia. The role of the military, corruption and public spending in Indonesia also came under scrutiny.
""More than three years after the restoration of democratic rule, the military and police still maintain effective control over security policies and practices.
""Indonesia is among the countries cited by the HDR 2002 as an instance where public spending is often skewed in favor of rich people. Almost 30 percent of public health spending is directed toward the richest, while only 12 percent is on the poorest,"" according to the UNDP office.
The report also noted that ""corruption, abuses of power, intimidation by criminal elements -- all weaken democratic accountability"" in the country.
Indonesia is regarded by the report as being ""on track"" in tackling poverty, and of meeting its commitments to the Millennium Development Goals of halving poverty globally, promoting education and gender equality, and reducing infant and maternal mortality rates.
But the UNDP office cautioned that the collective progress of the country masked the fact that many provinces in Indonesia were falling behind in their commitments to fighting poverty.
The Indonesia Human Development Report 2001, published in January and prepared by the UNDP office in Jakarta, found wide discrepancies between the provinces in meeting poverty reduction goals.
Halving the poverty rate in Aceh, for example, would require 150 years based on the trends from 1993 to 1999, 130 years for West Nusa Tenggara and 122 years for North Sumatra.
Provinces expected to meet this goal the quickest are Yogyakarta (11 years), East Java, Jambi and East Kalimantan (13 years), Central Sulawesi (15 years), West Java and Papua (17 years).
Halving the poverty rate in Jakarta would take 20 years from 1993, meaning the job would only be completed in 2013.

Indonesia ranks 124th in 2011 Human Development Index

The United Nations Development Program (UNDP) launched the 2011 Human Development Index (HDI) on Wednesday. The index again places Indonesia at 124th out of 187 countries surveyed.
In addition, Indonesia again ranks lower than five of its ASEAN counterparts, with Singapore leading in 26th place, followed by Brunei (33rd), Malaysia (61st), Thailand (103rd) and the Philippines (112nd).
Indonesia's 2011 HDI placing, which scores 0.617, is still higher than that of Vietnam (128th), Laos (138th), Cambodia (139th) and Myanmar (149th).
The 2011 list again puts Norway top of the index, with an HDI of 0.943, followed by Australia, the Netherlands, the United States and New Zealand, respectively.
“But when the index is adjusted for internal inequalities in health, education and income, some of the wealthiest nations drop out of the HDI's top 20. The US falls from #4 to #23, the Republic of Korea from #15 to #32, and Israel from #17 to #25,” the UNDP said in its 2011 Human Development Report.
“Other top national achievers rise in the IHDI [Inequality-adjusted HDI] due to greater relative internal equalities in health, education and income. Sweden jumps from #10 to #5, Denmark climbs from #16 to #12, and Slovenia rises from #21 to #14,” it adds.
The UNDP says HDI rankings are recalculated annually using the latest internationally comparable data for health, education and income. The IHDI was introduced in last year’s Human Development Report along with the Gender Inequality Index and Multidimensional Poverty Index in order to complement the original HDI, which as a composite measure of national averages does not reflect internal inequalities.
The 2011 HDI rankings placed Burundi (185th), Niger (186th) and Congo (187th) at the bottom.

Sumber: Jakarta Post

October 19, 2011

Kemakmuran Eropa Tinggal Bayangan

EKONOMI dunia kini memasuki masa berbahaya, kata ekonom kepala Dana Moneter Internasional Olivier Blanchard. Sebanyak 17 negara pengguna euro diperkirakan tahun ini mengalami pertumbuhan 1,6 persen, sedangkan tahun depan 1,1 persen.
Perkiraan ini tentu tidak menggembirakan sekitar 500 juta penduduk Uni Eropa yang sekarang beranggotakan 27 negara. Sebagian perkiraan itu hanyalah cermin ekonomi secara global, sedangkan arus masyarakat bawah kurang terungkap dalam angka-angka itu.
Bagaimana kondisi masyarakat Eropa sekarang, padahal sebagian besar masyarakat Eropa telah terbiasa hidup dalam kemakmuran setidaknya dalam dua dasawarsa ini. Kredit murah dan bunga sangat rendah menyebabkan kehidupan masyarakat di wilayah Uni Eropa bisa dikatakan serba berlebihan.
Fasilitas negara juga memberikan dukungan tidak sedikit terhadap kenikmatan ekonomi yang berlimpah ruah. Di Inggris, misalnya, tunjangan negara terhadap masyarakat lapisan miskin menyebabkan mereka juga ikut menikmati kue ekonomi yang berarti. Setiap anak mendapatkan tunjangan per minggu sehingga totalitas bisa ratusan poundsterling setiap bulan sebagai tambahan pemasukan sebuah keluarga. Demikian juga tunjangan kesehatan, pendidikan, dan ibu rumah tangga yang kerja paruh waktu.
Di negara lain, tunjangan serupa dengan berbagai skala juga dapat dinikmati. Bahkan, anggota baru Uni Eropa, seperti Polandia dan Romania, menikmati limpahan kemakmuran Eropa dengan mendapatkan dana tunjangan sosial dan pendidikan.
Masyarakat Eropa, termasuk kaum miskin, masih akan menderita beberapa tahun mendatang dibandingkan masa kemakmuran katakanlah satu dasawarsa lalu. Bahkan, kini program bantuan pangan bagi 13 juta warga Eropa miskin terhadang krisis ekonomi.
Sejumlah negara, seperti Inggris, Jerman, Belanda, Ceko, Denmark, dan Swedia, disebutkan tak lagi mengizinkan program yang berlaku sejak 1987 berlanjut. Perancis yang paling banyak menerima dana ini mengecam rekan sesama anggota blok 27 negara di Eropa ini. Dana bantuan orang miskin ini sudah akan dipangkas dari 480 euro menjadi 113,5 euro untuk tahun 2012 dan 2013.
Gaya hidup
Situasi yang stabil secara politik dan mapan secara ekonomi ini menyebabkan gaya hidup di Eropa mencerminkan masyarakat kaya. Kota-kota bersinar setelah malam, jalan-jalan yang mulus, dan beberapa bangunan besar yang megah. Semuanya seolah menunjukkan indikator keberhasilan negara kapitalis. Kue ekonomi yang besar dan kestabilan politik selama ini menyebabkan Eropa seperti kawasan impian bagi pebisnis dan sasaran ekspor, termasuk China.
Namun, perlahan situasi itu bisa berubah karena beberapa negara menghadapi kebangkrutan ekonomi.
Integrasi mata uang pada awal tahun 2001 diproyeksikan akan menguatkan ekonomi Eropa dalam berhadapan dengan kekuatan ekonomi baru, seperti China, India, dan Brasil. Dan sekitar tujuh tahun pertama tidak menjadi masalah bagi 17 pengguna euro dari 27 anggota Uni Eropa. Semuanya berjalan baik sampai ketika krisis keuangan Amerika 2008 mulai menggoyahkan fondasi ekonomi sebagian negara Eropa.
Dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi di Eropa rata-rata tahun ini yang tipis, bisa dikatakan terjadi kemandekan di benua ini. Komisioner Ekonomi Uni Eropa Olli Rhen mengatakan, pemulihan dari krisis keuangan akan lambat dan sulit. Sebagian perkiraan bahwa empat tahun ke depan masih akan sulit sebelum terjadi pertumbuhan ekonomi yang normal. Namun, semuanya akan sangat bergantung pada seberapa baiknya kinerja ekonomi Yunani.
Dua negara tahun ini yang tampil lebih baik adalah Jerman dengan pertumbuhan diperkirakan 2,9 persen dan Polandia 4 persen. Dua negara lain yang parah adalah Spanyol dengan angka pertumbuhan ekonomi 0,8 persen dan Italia 0,7 persen. Situasi ini semakin menguatkan bahwa masa berlimpah ruah sudah berlalu, pesta sudah usai. Kini saatnya mengencangkan ikat pinggang.
Namun, tidak semua senang dengan berbagai retorika yang dikemukakan ekonom, politisi, dan pebisnis di Eropa. Mereka berbicara mengenai penghematan, kenaikan pajak, serta kenaikan harga barang dan jasa. Bagi kebanyakan warga Eropa, inilah krisis paling berat di sektor ekonomi. Oleh karena itu, sekitar 20.000 pekerja—wakil kaum pekerja Eropa—melancarkan unjuk rasa di Polandia ketika berlangsung pertemuan para pemimpin Eropa pertengahan September. Mereka menentang program penghematan yang banyak dilakukan pemerintahan di Eropa. (Asep Setiawan, Kontributor Kompas di London)

 
Web developed by Eka.aSOKA.web.id | Domain Host by aSOKAhost.com
Follow @MuehammadAdam