Showing posts with label mc-personal-activity. Show all posts
Showing posts with label mc-personal-activity. Show all posts

December 16, 2012

#Scholarship: Australia-Indonesia Young Muslim Leaders Exchange Program (MEP)

 THE MOST WANTED SCHOLARSHIP IS COMING BACK!!!
Photo di Opera House Sydney, June 2012. MEP 2012.

The Australia – Indonesia Young Muslim Leaders Exchange Program (MEP) began in 2002 with the aim of building links between Muslim communities in both countries and promoting greater understanding and recognition of religion and its role in each society.

Funded by the Australian Government and run through the Australia-Indonesia Institute (AII), it was decided in 2005 to establish this program as one of the AII’s flagship programs. So far, 42 Australians and 112 Indonesians have participated in the program.
The program involves visits of several weeks duration to Australia by groups of young Indonesian Muslim community leaders (such as writers, bureaucrats, academics and workers in non-governmental organisations and religious bodies), and visits to Indonesia by their Australian counterparts. The focus is on building a greater understanding for Australians of the nature of mainstream Islam in Indonesia and, for Indonesians, a greater awareness of Australia’s multicultural society.
Candidates are interviewed and selected by an independent selection panel based on their extensive networks and capacity to act as ambassadors and participate in interfaith dialogue.
Requirements for Indonesian participants:
  1. Applicants (male/female) must be under 40 years of age.
  2. Demonstrated fluency in English through TOEFL (international or institutional standard) with minimum score of 450.
  3. Completion of the Application Form (available on both Paramadina University www.paramadina.ac.id / and Australian Embassy’s websites www.indonesia.embassy.gov.au)
Applications must be lodged by Thursday 17 January 2013 at 16:00 WIB. Applications can be posted to Paramadina University, Jl. Gatot Subroto Kav.97, Mampang, Jakarta Selatan 12790 or emailed to panitiamep2013@paramadina.ac.id.
Further information will be available on the AII Website: www.dfat.gov.au/aii.

***
Kalau Anda Mau baca-baca Pengalaman Saya mengikuti Program MEP tahun 2012, silakan anda dalam CERITA AUSTRALIA !!!
***
Download application form (click here)

November 27, 2012

#Scholarship: Program Teacher Training

Pendaftaran untuk keberangkatan tahun 2013 akan dibuka pada 19 November 2012 dan ditutup pada 25 Januari 2013 . 

Program Penataran Guru (Teacher Training Program) adalah salah satu program beasiswa Pemerintah Jepang (Monbukagakusho) yang dirancang khusus bagi para guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran sesuai dengan bidangnya. Mereka akan diberikan pelatihan dalam cara mengajar, pembuatan rencana belajar-mengajar yang lebih efektif dan menarik minat siswa dan hal-hal lain yang dapat meningkatkan kualitas dan kemampuan para guru. Program ini adalah program non-gelar dan lamanya adalah 1 tahun 6 bulan (termasuk 6 bulan belajar bahasa Jepang) dari Oktober 2013.
Syarat-syarat :
  1. Lulusan S-1 atau D-4 dan guru yang mengajar secara aktif di SD, SLTP, SLTA (termasuk sekolah swasta dan SMK).
  2. Pelamar telah mengajar lebih dari 5 tahun di lembaga pendidikan formal pada tanggal 1 April 2013. Semua bidang ditawarkan kecuali, PKN, bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa Arab, pendidikan agama, dan perhotelan.
  3. Usia di bawah 35 tahun pada tanggal 1 April 2013.
  4. Sehat jasmani dan rohani (bagi pelamar wanita tidak diperbolehkan dalam kondisi hamil)
  5. Bersedia belajar bahasa Jepang karena bahasa pengantar di universitas adalah bahasa Jepang.

Fasilitas yang didapat :
  1. Tanpa ikatan Dinas.
  2. Tiket kelas ekonomi p.p. Indonesia (Jakarta) – Jepang.
  3. Bebas biaya ujian masuk, biaya kuliah, dan uang pendaftaran.
  4. Tunjangan bulanan sebesar ¥ 150.000 per bulan(ada kemungkinan mengalami perubahan).
  5. Peserta disediakan asrama yang pembayarannya diatur sendiri oleh penerima beasiswa.

Cara Pelamaran :
  1. Pendaftaran dibuka pada 19 November 2012 dan ditutup pada 25 Januari 2013.
  2. Bagi pelamar, baik pegawai negeri maupun swasta dapat langsung menyerahkan/mengirimkan formulir yang telah diisi ke Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang dengan dilampiri dokumen yang diperlukan.
  3. Bagi pelamar yang berstatus pegawai negeri tetap harus melapor dan menyerahkan fotokopi formulir kepada Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) Departemen Pendidikan Nasional.
Dokumen yang diperlukan (dokumen yang tidak lengkap tidak akan kami terima):
(dokumen yang tidak lengkap tidak akan kami terima)
  1. Formulir.
  2. Pasfoto (harus ditempel pada formulir).
  3. Fotokopi Ijasah dan transkrip nilai.
  4. Surat keterangan dari tempat mengajar yang menjelaskan bahwa pelamar adalah staf pengajar yang masih aktif mengajar dan disetujui mengikuti program beasiswa ini, Disertai keterangan masa mengajar (dari tanggal berapa hingga tanggal berapa), dan dicap oleh sekolah. Jika masa mengajar yang lebih dari 5 tahun terpisah dalam beberapa sekolah, lampirkan juga surat keterangan masa mengajar dari sekolah sebelumnya (beserta cap dari sekolah tersebut).
  5. Surat rekomendasi dari Kepala Sekolah mengenai pribadi pelamar.

  6. * Semua dokumen ditulis dalam bahasa Inggris atau Jepang.(Ukuran kertas A4)

Tahap Penyeleksian :
  1. Seleksi Berkas. Pengumuman hasil seleksi berkas akan ditampilkan di website Kedutaan Besar Jepang pada tanggal 11 Februari 2013.
  2. Ujian tertulis bahasa Inggris (khusus untuk guru bahasa Jepang: ujian bahasa Jepang) pada tanggal 18 Februari 2013.
  3. Bagi yang lulus ujian tertulis akan dipanggil untuk mengikuti wawancara di Jakarta.
  4. Bagi yang lulus wawancara akan direkomendasikan ke Monbukagakusho.
  5. Mereka yang lolos seleksi di Monbukagakusho akan menjadi penerima beasiswa.


Catatan :
  1. Formulir pendaftaran dapat diperoleh di sini

  2. Formulir pendaftaran yang telah diisi beserta dokumen pelengkap dikirimkan ke
    Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang
    Jl. M. H. Thamrin 24
    Jakarta 10350
    Dan selambat-lambatnya harus tiba tanggal 25 Januari 2013. Mohon Tuliskan kode “Teacher Training 2013” pada amplop formulir.

  3. Jika ada pertanyaan, bisa disampaikan melalui email ke beasiswa@dj.mofa.go.jp, atau Telepon 021 – 3192 4308 ext. 175 atau 176

INFORMASI LEBIH LANJUT, SILAKAN CLICK DISINI

November 18, 2012

Andai Aku Jadi Ketua KPK, Aku Akan ‘Mundur’

Amanat menjadi ketua KPK untuk memberantas korupsi tidak hanya dilegitimasikan oleh legislatif dan ekskutif tetapi juga oleh masyarakat. Karenanya ketika saya mendapatkan mandat menjadi Ketua KPK, saya akan melakukan dua langkah ‘mundur’ yang dapat menjadi amunisi untuk memberantas korupsi.

Langkah mundur pertama yaitu mempelajari budaya korupsi di Indonesai dari masa ke masa. Mulai dari pemerintahan Soekarno sampai dengan SBY. Memetakan secara terperinci pola, jenis, bentuk, strategi, jumlah, dan pelaku secara komprehensif lengkap dengan data dan fakta. Mempelajari budaya korupsi yang sudah dipraktekkan sebelumnya dapat menjadi modal buat saya untuk mengantisipasi ruang-ruang potensi korupsi (preventive action) kedepan. 

Kedua, saya akan mundur untuk mempelajari karaktek organisasi KPK, terutama pimpinan sebelumnya. Ketika Taufiqurrahman Ruki yang berlatarbelakang polisi memimpin dengan gaya yang investigatif. Pada saat dibawah pimpinan Antasari, roda KPK sangat birokratif karena beliau berprofesi sebagai Jaksa. Sekarang pada saat KPK dinahkodai oleh Abraham Samad yang bergaya aktifis karena kehidupannya yang dipengaruhi oleh dunia LSM. Mempelajari gaya, psikologi, dan pelbagai seluk beluk mereka, saya bisa mengetahui dampak terhadap pemberantasan korupsi pada masanya. Manfaat lain bagi saya yaitu mengambil yang baik dari mereka untuk menciptakan perbedaan dalam kepemimpinan saya.

Kendati saya harus mundur untuk melaksanakan kedua langkah diatas, namun saya yakin akan memberikan multi-impacts. Meskipun akan ada yang bilang saya mandul aksi, tapi itu hanya untuk sementara, karena saya mundur bukan untuk tidur, tapi karena belajar untuk bertempur.

November 07, 2012

Berguru Pada Pemilu Amerika

Photo dari gossipcop.com
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh rakyat Amerika setelah 4 tahun silam. Pemilihan Langsung Presiden Amerika telah berlangsung sukses, dan menurut hasil sementara, Barack Obama ungguli Mitth Romney. Menurut update berita yang disajikan melalui grafis di website Voice of America Indonesia, http:// voaindonesia.com, Obama sudah mendapatkan 303 suara elektoral sedangkan Mitth Romney  206 (pada saat tulisan ini saya tulis).

Pentas politik pemilu merupakan bentuk praktek demokrasi prosedural yang berlangsung di setiap negara yang berpaham demokrasi. Pesta demokrasi adalah pesta rakyat. Pemilu adalah wadah bagi masyarakat untuk menggunakan hak politik dan mewakilkan seseorang untuk duduk di kursi politik.  Karenanya, banyak aktor demokrasi yang terlibat di dalam pemilu; pemilih, kandididat, penyelenggara (negara), dan pihak ketiga diantaranya media massa, analis dan pemantau international. Untuk merayakan hari penting ini, saya mencoba untuk melihat beberapa pelaku demokrasi tersebut dalam kancah politik Amerika dari sisi lain yang mungkin banyak pelajaran yang bisa kita aplikasikan di Indonesia.

Peran utama kesuksesan pemilihan Presiden Amerika tahun 2012 adalah pemerintah. Tanggun jawab pemerintah sebagai penyelenggara pemilu benar-benar ditunjukkan oleh pemerintah sebagaimana mestinya. Banyak fakta yang membuktikan kesiapan pemerintah dalam menyelenggarakan pemilu. Fakta utama yang paling menarik dan seyogianya secepat mungkin diadaptasi di Indonesia adalah pemungutan suara dengan menggunakan teknologi (e-voting).

E-voting banyak memberikan manfaat  tidak hanya bagi pemilih, tetapi juga kandidat, pemerintah, serta dunia international. Bagi pemilih, dengan layanan e-voting tentu saja dapat bermanfaat dari segi waktu dan tenaga. Orang akan tetap bisa bekerja dan beraktifitas dengan normal tanpa harus disibukkan dengan antrian yang panjang. Dokter tetap bisa mengoperasikan pasiennya, pengajar tetap bisa mengajar peserta didiknya, sopir tetap bisa mengantar penumpang, dan sebagainya. Dampaknya, tidak terjadi kelumpuhan di semua lini. Ekonomi tetap hidup, masyarakat tidak lapar karena pemilu. Ini adalah dampak langsung dari e-voting.

Selanjutnya untuk kandidat, pemerintah, dan dunia international, dengan komputerisasi pada pemilu dapat meminimalisir angka kecurangan dalam pemilu. Disamping itu, hasil real-count yang cepat adalah manfaat paling besar buat kandidat dan masyarakat international. Tidak harus menunggu 3 atau 4 minggu baru mendapatkan hasil pasti. Dalam hal ini, pemerintah Indonesia harus secepatnya mereplikasi sistem e-voting.

Kesiapan pemerintah juga terlihat dalam pemenuhan hak bagi pemilih. Peran negara sebagai fasilitator jelas terlihat dalam pemilu Amerika. Hebatnya tidak hanya dalam situasi normal, bagi masyarakat yang baru saja diterpa badai sandy juga mendapat perhatian lebih. Masyarakat yang tinggal di New Jersey misalkan, pemerintah negara bagiannya tetap berupaya supaya masyarakatnya tidak kehilangan hak pilih dalam pemilu 2012.  Seperti dituliskan di voaindonesia.com pada Rabu, 07 Nopember 2012, Gubernur Chris Christie mengatakan “Tidak ada alasan kenapa orang tidak bisa mencoblos. Kita akan membuat proses yang penuh, adil, transparan dan terbuka”.

Tidak hanya itu, untuk masyarakat lansia dan cacat sekalipun juga bisa memastikan hak politiknya bisa tersalurkan. "Bagi pemilih yang tidak dapat meninggalkan rumah, para pejabat pemilu telah mengubah beberapa fasilitas layanan kesehatan menjadi TPS sederhana guna memastikan warga lansia tetap dapat memberi suara mereka". begitu tulis VoA dalam beritanya pada tanggal Rabu, 07 Nopember 2012.

Kedua, belajar dari kandidat-kandidat yang diusung oleh masing-masing partai. Kalau anda menonton debat-debat publik yang ditampilkan di media massa baik cetak maupun elektronik, maka anda akan melihat bagaimana kedewasaan para kandidat dalam berdebat. Saling membantah dan menyangkal satu sama lain dengan penuh kedewasaan. Terkesan kadang-kadang seperti perdebatan anak-anak yang saling mencela dan memaki, namun etika dan sikap menghormati tetap dijungjung tinggi. 

Selain itu, pertaruhan argumen yang dimunculkan dalam debat. Kecemerlangan solusi dalam menyikapi persoalan. Semua itu menjadi ajang pertaruhan intelektual yang dapat menjadi penentu bagi pemilih. Debat tidak hanya sebatas debat, namun lebih dari itu, debat menjadi alat ukur kompetensi kandidat yang maju sebagai calon pemimpin. Dengan kata lain, pemilih sudah berada tahap rasional bukan lagi pemilih emosional.

Kalau melihat kedewasaan kandidat tampaknya kita harus belajar pada pada Mitt Romney dan Barack Obama. Budaya politik Amerika yang “mewajibkan” seseorang kandidat yang kalah untuk menyampaikan pidato kekalahannya di depan para pendukungnya, dan menyampaikan selamat kepada pemenang adalah nilai plus yang jarang kita lihat di Indonesia. Coba anda bayangkan, di saat media seluruh dunia mengabarkan kekalahan, tapi Mitt Romney harus menyampaikan Pidato Kekalahannya di depan pendukungnya dan rakyat international. Namun dengan penuh semangat Romney menyampaikan
"Saya baru saja menelpon Presiden Obama untuk mengucapkan selama atas kemenangannya. Pendukung dan tim kampanyenya juga pantas mendapatkan ucapan selamat". Kemudian Romney melanjutkan "Negara ini, seperti yang kalian tahun sedang berada pada titik kritis. Pada masa seperti ini, kita tidak bisa terjebak dalam cekcok partisan dan pertengkaran politik. Para pemimpin kita harus mengjangkau semua pihak untuk mengerjakan tugas dari rakyat".

Tidak hanya sepihak, kandidat yang memenangkan pertarunganpun tidak sungkan untuk mengucapkan terimakasih dan menyelamati rivalnya. Obama mempraktekka hal itu dengan menyelamati Romney, VoA menuliskan dalam liputannya tanggal 7 November 2012, “Saya ingin menyelamati Gubernur Romney atas kampanye yang bersemangat. Saya tahu bahwa pendukungnya sangat antusias dan terlibat dan bekerja sama kerasnya hari ini”.
"Kami mungkin telah bertempur dengan ganas, namun itu hanya karena kami sangat mencintai negeri ini dan sangat peduli akan masa depannya". Kita rindu politis seperti Obama dan Romney di Indonesia yang siang untuk menang dan kalah.

Terakhir, peran media massa yang memblow up informasi tentang pemilihan Amerika. Saban detik media elektronik mengabari perkembangan pemilu. Jumlah pendukung, kondisi TPS, antusiasme pemilih, kekecewaan pendukung, dan sebagainya selalu diupdate setiap saat. Peran media seperti Voice of America Indonesia yang mempunyai liputan khusus tentang Pemilihan Amerika semenjak beberapa bulan lalu, sangat besar manfaatnya dalam menyampaikan informasi untuk masyarakat Indonesia.

VoA Indonesia yang secara berkala mengupdate informasi tentang Pemilihan Amerika tidak hanya berfungsi sebagai information media, tetapi juga sebagai “guru” untuk masyakarat. Melalui media, VoA, rakyat Indonesia terutama para pengguna jejaring sosial di twitter dapat bertanya seputar pemilu Amerika, dan VoA sudah menyediakan crewnya untuk melayani pertanyaan masyarakat, seperti Mbak Retno Lestari dan Ade Astuti. Saya sangat beruntung juga bisa berinteraksi dengan mereka hari ini melalui twitter. Selain itu, masyarakat juga dapat mencari berbagai informasi tentang pemilu Amerika, mulai dari sistem pemilu yang sangat “complicated”, presiden Amerika dari masa ke masa, profil kandidat sampai dengan kecenderungan pemilih yang semua itu menjadi input pengetahuan tersendiri tentunya. Pada titik ini, saya pikir media, dalam hal ini VoA, sudah menjalan fungsinya sebagai diamanatkan oleh UU No 40 tahun 1999 dimana media tidak hanya berfungsi sebagai pengontrol sosial, ekonomi, penghibur, tetapi juga sebagai pendidik (Pasal 3 Ayat 1).  

Terlepas dari berbagai kekuarangan dan ketidaksempurnaan sistem pemilu di Amerika, urain diatas dapat menjadi sisi lain dari pemilu Amerika, dan hendaknya kita bisa berguru kepada mereka, terutama pemerintah. Semoga!

@adhamisadam
@17.40 WIB

Para pendukung Barack Obama bersorak setelah mendapat berita bahwa Presiden terpilih kembali. (Reuters/Jeff Haynes).
Photo saya ambil dari situs VoA.

November 02, 2012

#Activity_Persever for Fighting HIV-AIDS

Students are paying attention to the speakers.

Yesterday, I welcome and facilitated a group of people from Komisi Pemberantasan AIDS (KPA) (a goverment organization serving for HIV-AIDS issues). It is an initiative sub-department at health office in North Aceh district-Indonesia. There were 8 of officer involved in the team who visited my school yesterday.

They came to my school to socialize; problems, signs, challenges, numbers, and many more informations about HIV-AIDS to my students at school. there were 70 students consist of grade X, XI, and XII both boys and girls. they were totally enthusiastic and interested in paying attention to the single word came out the speaker in front of them.

Today, HIV-AIDS is a catastrophic "desaster". Unfortunately, most of poor countries prones to be predominant victims and edversely affects their societies.  For me, shall we know the problems, effects, and hazards, we could acticipate it. at least, it's the sole purpose that I hope gained by students in the socialization.
A speaker is presenting the materials while showing slides.

For your information, the school I am currently working with is an Islamic boarding school that combining national curriculums (formal school) and Islamic subjects with balanced-curriculum (Non-Formal Classes, but compulsory). In addition, they are also studying foreign languages both Arabic and English. Besides English teacher, I am currently serving as vice-principal for senior high school (SMA).

The school bases in remote areas of north Aceh, it takes about 10 hours driving from Banda Aceh,  and uneasily reached by government for certain things/programs, that's why the such socialization is totally rare program for the students and teachers as well.
Mulyadi, one of our student is asking a question.


Big Smile and Hope from Aceh,

Smile
Adam
Indonesia English Language Study Program
Ohio University, USA
Spring 2010
http://www.mc-adam.com
@adhamisadam

October 25, 2012

#Story_Together, We make change!


Meeting at STAIN Malikussaleh

Sharing at STAIN Malikussaleh Lhokseumawe on Oct 5, 2012.

In the early of October, I invited Joshua Yardley, an English Language Fellow who works for RELO (Regional English Language Office), to visit my region in Lhokseumawe-Aceh. Josh bases in Banda Aceh where he is serving for human resource development (LPSDM), a department at Aceh governor office. It takes about 6-8 hours driving by bus to reach Lhokseumawe.
Student welcome Joshua as he step on the school.

Joshua stayed at my boarding school, Ruhul Islam for 3 days (2 nights) from 4-6 October 2012 . Ruhul Islam is a private Islamic boarding school in which combines formal school system (SMP and SMA) with Islamic studies with balance curriculum, this combination so we name it Dayah Terpadu. This such of Islamic boarding school is well-known as Pesantren in Java, Surau in West Sumatra. Ruhul Islam located in Tanah Luas-North Aceh, a rural area that needs about 1.5 hours to reach from Lhokseumawe.

Female Students are listening to Joshua.


Joshua attended 3 meetings within the visit. I took him to STAIN Malikussaleh Lhokseumawe to share his experience in English teaching to the students of English department who are going to be English future teachers. The meeting was about 2 hours on Friday morning. After Jum’at Prayer, I facilitated an informal discussion with the teachers at Ruhul Islam. Finally, on Saturday, Joshua came to Malikussaleh University to observed and shared with the lecturers who were attending an online lecture series hosted by Mr. Eran William (RELO Officer) in Jakarta called Shaping The Way We Teach English.
Malikussaleh University  Meeting.

The meeting with the teachers of RUIS was way to identified capability, skills, problems, and challenges faced by the teacher in the boarding. This discussion might be an early assessment for Joshua and me to make a teacher training in the near future in order to upgrade their capacity.

Discussion with teachers at Ruhul Islam Boarding School.

In addition, Joshua also gave a motivational speech to the students of Ruhul Islam on Friday evening after magrib prayer. The students were totally enthusiastic and interest to listen to Joshua's speech. A students raced her hand and asked a question “How could I practice my English with native speaker while I am studying at the boarding?”. Joshua gave her and other students a way to participate in Pen Pal system. It is not only helping them to practice their English writing skill but also sharing information and making strong relationship while getting to know each other. At present, I’m currently helping the students to set up email address in order they can use it to penpals than use regular mail system. Joshua is doing his best assistance to link the students with his pals, teachers, and colleagues in United States of America. He had got 7 persons already.

Motivational Speech to students.

Anyway, I also took Joshua to a house of tourist destination, Rumoh Cut Mutia in Matang Kuli-North Aceh who was officially admitted as national heroin from Aceh. Besides, Joshua also tasted Acehnese cuisine, Kuah Pliek U (read; How to cook) for his lunch on Friday, and Rujak in the evening. He also ate Mi Rebus Udang in which currently becomes his daily meal in Banda Aceh.

Joshua is enjoy eating Kuah Pliek U.
I wondered what to prepare for his Lunch.

Joshua was surprised with the warm welcome from the students, teachers and leader at boarding school. Besides cultural reason, the students are never visited by foreigner whose language is English, that’s why they struggled to wait his arrival until 11.30 PM.

Leader welcomes Joshua
I didn’t ask Joshua to leave me any comment or suggestions about the school, but I am totally sure that he was concerned with the students and teachers. He promised that he will return to boarding and conduct a teacher training, he even plan to invite other ELFs along with fellows from other universities to participate. In short, Joshua and I believe that “together, we can make change”. For your information, I am being in contact with Joshua about the training, and we plan to make it on February 2013.

Leader gave a Bungong Jaroe (Gift) to Joshua.

Finally, I am totally thanksfull to Eran William, the officer of RELO at US Embassy in Jakarta who had linked me with Joshua. I knew  Eran when I presented my service project, English Capacity Building, at @america in Jakarta on June 2-3, 2012. The conference presented to Kumunitas Alumni Muda Indonesia (KAMI) and managed by CCE Indonesia and The U.S. Embassy Jakarta, and sponsored by The U. S. Department of State.  On behalf of my school, I do thank to RELO for sending  the materials to my students at the school.

Do you know, what the style is it?
Group picture with students before leaving.

P.S.
Joshua wrote stories about his visiting experiance. read them HERE !

September 27, 2012

#Competition : We Give, We Exist

Bob, Me, and Sonia are going to sightseeing around Kentucky. May 2010 in USA.
Humble, simple, noble, respectful, helpful are only little words could describe my homestay-parent. It was just 2 days, yet it totally impressed me years. What’s more, two days with them, I felt as excited as at my own home with my own parent. Wow...imaging the moment, I wish to return to state soon.
It was 2 years since my first visit to United State of America (USA). I granted a competitive scholarship from the Institute of International Education (IIE) in collaboration with the Indonesian International Education Foundation (IIEF). The program was funded by US Department of State. The program aimed to prepare a chance to participants to gain English skill for academic purpose at a prestigious university in USA for 8 weeks. Among 800 applicants, 21 of 61 selected undergraduate students all over archipelagoes were placed at Ohio University, USA.
We were very lucky to visit Ohio in spring which gave us an opportunity to spend a weekend through homestay program. I and a friend of mine were deployed at a lansia’s house (far advanced in life). Bob Derge, my father, was about 67, and Sonia, my mother, was about 59 years old in 2010. They based in Kentucky State in which neighbourhood of Ohio. Nevertheless my homestay-parent was too old to host the international students, but they were totally friendly and helpful. The ways they served us was completely opened my mind and taught me many lessons in term of attitude, culture, and religion.

My first lesson-learn was about attitude. The way Bob’s family served us was no word to explain. They were absolutely friendly, helpful, respectful, and humble. At first we stepped on their house, they welcomed us with a cup of tea prior to show us where to sleep. Then, they guided us to around the big-house. They showed where to cook, to take bath, to sleep, to wash, to play, and to browse. Each room we saw, they friendly informed us the functions of each room, sometime they inserted with the history of the house. No matter it was necessary or useless; they kept telling us every single space and thing both inside and outside the house.

Me, Bob, and Sonia inside the house. May 2010 in Kentucky, USA.
At night, they prepared us a thick blanket, because they understood about the different weather between Indonesian and state. In the morning, they heated the water for us to make a cup of tea or coffee. Before cooking, Sonia asked us what kind of American food we want to taste. In addition, as part of treatment, with complete information in printed-papers, they gave us the full rights to decide which tourist destinations we want to visit. Wow...it was the most unforgettable moment in my life.

Regarding to culture value, I learnt about the real self-independence within my homestay. Bob has two boys who married already and lived quite far from him. Bob is currently living with his wife, Sonia plus his “eternal kid”, Bob and Sonia considered the dog as the eternal kid, because unlike their own sons, it won’t be married or marries and able to accompanied them for long-life ever.

Despite Bob’s only lives with his wife, and they were both retired already due to their old age, they didn’t act as the spoilt children. They didn’t rely their needs on their sons. They didn’t pay any maid to serve them. Sonia cooked together with Bob to prepare for breakfast, lunch, and dinner. They scheduled themselves to water the flowers in the front yard. Sonia has not any driver to take her to and at market. They did all thing together alone without any help from maid or home-servant.

What’s a contrast culture performed in Indonesia in many ways by many of us. A businessman has different driver for her wife, kids, and his own needs. An actress has a special maid to cook, a maid to wash, a servant to look after the kids, and any other maids depend on needs. A government also shows the same terrible culture, he/she has a single assistant for driver, a single assistant in the office, and a single assistant at home. Oh my god, how poor we are in term of independence and maturity.

In relation with religion value, a weekend homestay taught me how beautiful and peaceful the religion in America is. Bob and Sonia are Christians, but they served us totally no discrimination at all. Bob read our background information already prior to host us; he prepared us the prayer mats to do five-time prayers. Sonia made sure us to cook halal foods. Furthermore, they also kept away their big-black-dog from us, because they knew that Muslim is forbidden to be in touched with the dog. In short, for religion reason, there was nothing to worry to worship as my own belief. In fact, the real tolerance was performed by Bob’s family. Now I know what the real tolerance means for me is.

Before I said good-bye to Bob’s family, I gave them a couple of gifts which I brought from Indonesia. To be honest, giving gift is a good thing from Indonesia when we go abroad. Finally, on the way to meeting point, I pretended to be brave to ask Bob and Sonia a question stucked in my heart since first day of homestay program, “Are you paid for this homestay?”.  With big smile, Sonia answered, “That is the common question asked by every international students we host, and to be honest we are paid for nothing for homestay; on the contrary, we paid some fees to join with voluntary organization”. Surprisingly, I asked her again “Why?”, with his own style, Bob said “We fell happy when we can give something for someone”, then Sonia ended up the conversation “We give, We exist”.

Me and Sonia inside the house, Kentucky May 2010.


September 13, 2012

#Repost: The Death of Samurai

Artikel ini saya ambil dari Milis Forum Peniliti Aceh, karena sangat menarik bagi saya, makanya reposting di sini.
***


The Death of Samurai
Written by Yodhia Antariksa

Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.

Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya ke perusahaan China. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).


Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.


Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.


What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.


Faktor 1 : Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.


Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.


Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).


Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.


Faktor 2 : Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.


Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.


Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.


Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.


Faktor 3 : Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.


Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.


Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.


Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.


Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.


Note: Semoga Bermanfaat...Lesson-Learned bagi kita adalah pentingnya semangat dan kesadaran untuk berinovasi.

September 12, 2012

[Scholarship] BEASISWA S1 BCA FINANCE untuk PTN dan PTS Indonesia


DENGAN TEKAD KUAT UNTUK TURUT MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA, BCA FINANCE KEMBALI MEMBERIKAN BEASISWA SELAMA KULIAH KEPADA 50 MAHASISWA/I BERPRESTASI*.
TOTAL BEASISWA 2012 Rp. 900.000.000,-

TOTAL TAHUN 2011         : Rp. 567.000.000,-
TOTAL TAHUN 2010         : Rp. 420.000.000,-
TOTAL TAHUN 2009         : Rp. 305.000.000,-


APLIKASI PENDAFTARAN BEASISWA ONLINE DAPAT DIAKSES MELALUI WEBSITE
TAHAPAN
JADWAL
Pendaftaran Aplikasi Online
03/09/12 - 28/09/12
Pengumuman 150 Calon Pemenang Beasiswa Melalui Website BCA Finance
12/10/12
Verifikasi Kelengkapan Dokumen Untuk 150 Calon Pemenang Beasiswa (Cap Pos)
12/10/12 - 25/10/12
Pengumuman 50 Pemenang Beasiswa
09/11/12

Keputusan hasil penerimaan adalah mutlak & tidak dapat diganggu gugat. Proses penyaringan akhir dilaksanakan oleh tim seleksi BCA Finance.
PERSYARATAN :
1.       Mahasiswa/i program Strata 1 (S-1)
2.       Minimal telah/sedang menyelesaikan semester 2
3.       IPK min (PTN : 3,00 dan PTS : 3,4)
4.       Tidak sedang menerima beasiswa dari pihak manapun
5.       Beasiswa ini bebas dari ikatan dinas apapun
6.       Melakukan pendaftaran beasiswa melalui aplikasi online
7.       Tahapan Seleksi :
             a) Tahap I : Penentuan 150 Calon Pemenang Beasiswa
150 calon pemenang yang telah diumumkan akan diwajibkan mengirimkan kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan kemudian
b) Tahap II : Penentuan 50 Pemenang Beasiswa yang berhak menerima Rp.3.000.000,-/Semester
8.       Proses seleksi dilaksanakan oleh tim seleksi BCA Finance
9.       Keputusan hasil penerimaan adalah mutlak & tidak dapat diganggu gugat
10.   Keterangan lebih lanjut dapat diakses melalui website www.bcafinance.co.id

*) Maksimal Pemberian Beasiswa Sampai Dengan Semester 8

Selamat Mencoba & Semoga Berhasil !

August 28, 2012

#Opini [Harian Waspada]: Amburadurnya Kampus Kita

Tulisan dibawah dimuat di Harian Waspada Edisi Selasa 28 Agustus 2012. Waspada tidak mengupload opini ke websitenya, hanya ada epapernya kalau anda mau baca online di hal B7.


***
“Senyum, Sapa, Salam”. Motto seperti itu sering kita temui di tempat-tempat umum, terutama berkaitan dengan pelayanan publik. Namun saya tidak merasakan praktek slogan tersebut ketika saya menamani saudara saya mendaftar ulang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Aceh. Sekarang kampus memang sedang disibukkan dengan penerimaan mahasiswa baru, pendaftaran ulang, dan permulaan awal tahun akademik. Meskipun banyak perguruan tinggi kita sudah berusia puluhan tahun, terutama yang statusnya negeri, namun kebanyakan belum mampu keluar dari masalah-masalah yang setiap tahun terjadi dalam menyambut mahasiswa baru. persoalannya tesebut berkisar seputar akses informasi, masalah administrasi, dan kualitas layanan.

Persoalan informasi sebenarnya adalah persoalan mendasar. Banyak potensi-potensi permasalahan bisa diselesaikan atau setidaknya diminimalisir melalui layanan informasi yang bagus. Setelah lulus ujian SNMPTN, saudara saya melunasi Sumbangan Pembangunan Pendidikan (SPP) sebagai langkah awal pendaftaran ulang. Menurut informasi yang dia dapatkan, dia harus membayar SPP tunggal. Namun tiba-tiba ada perubahan dari pihak rektorat kampus yang membatalkan SPP tunggal dan diganti dengan SPP biasa.

Karena prubahan tersebut, dia diminta oleh panitia yang bertugas untuk pendaftaran ulang supaya bisa mengambil uangnya kembali di bank. Menyangkut dengan informasi, setidaknya ada dua persoalan mendasar yang menimbulkan banyak masalah. Pertama adalah akses terhadap informasi. Banyak informasi-informasi yang diperlukan oleh mahasiswa-mahasiswa baru tidak tertulis dan tertempel dengan baik. Akibatnya para calon mahasiswa berputar-putar. Seharusnya informasi-informasi penting yang perlu diketahui oleh mahasiswa sudah ditempel dengan baik lengkap dengan penunjuk-penunjuknya.

Idealnya untuk zaman yang serba digital seperti sekarang, semua informasi bisa diakses dengan cepat di situs-situs resmi kampus. Karena banyak mahasiswa yang berdomisili jauh dari kampus. Celakanya, Layanan informasi online juga terkadang tidak diperbarui secara intensif.  Dalam kasus yang dialami oleh saudara saya, seandainya ada update informasi yang cepat di website, tentu saja jumlah mahasiswa yang melakukan kesalahan akan berkurang. Banyak dampaknya yang ditimbulkan, salah satunya adalah cost waktu dan energy yang dihabiskan hanya karena keterlambatan informasi. Belum lagi ada orang tua yang mengorbankan kebutuhan lainnya, demi pelunasan SPP, bahkan tidak sedikit yang berhutang kepada tetangga atau menjual hartanya.

Persoalan kedua yaitu menyangkut dengan sosialisasi setiap informasi. Hal ini juga sangat rentan terjadi tidak hanya di perguruan tinggi, hampir semua lembaga pemerintahan kita bermasalah dengan sosialisasi informasi. Menurut saya, kampus-kampus kita belum mempunyai system yang sudah terbangun (established-system) dengan baik untuk menyebarluaskan setiap informasi publik untuk mahasiswa. Tidak sedikit keputusan yang diambil berkenaan dengan hajat hidup orang banyak, langsung diterapkan tanpa ada sosiali yang menyeluruh sebelumnya.

Akibatnya sering muncul protes dari mahasiswa, bahkan tidak sedikit yang berujung anarkis dan menjadi boomerang buat kampus sendiri. Contoh kecil, penerapan SPP tungal tahun ini, karena banyak masyarakat kita tidak mengerti tentang SPP tunggal, akhirnya berpikir negatif terhadap kampus. Bahkan ada yang menduga kalau pihak kampus melakukan korupsi dengan penambahana dana SPP 100 persen. Padahal pemberlakuan SPP tungal juga salah satu cara untuk melancarkan proses study mahasiswa nantinya. Masalahnya adalah tidak adanya sosialisai yang baik.
Permasalahan selanjutnya menyangkut dengan urusan adminitrasi. Pengalaman saya menjadi mahasiswa dan mengurus saudara saya kemarin, peraturan yang diterapkan di banyak kampus  sangat tidak efektif dan efesien. Contoh kecilnya adalah penggunaan slip SPP. Pada hari pertama, saat mendaftar ulang pertama kali, panitia meminta ditunjukkan slip asli dari ban. Hari kedua pada saat pengisian KRS, panitia juga meminta mahasiswa baru untuk mengisi data yang sama seperti hari pertama dan menyerahkan kembali bukti pembayaran SPP. Pada saat mendaftar orientasi mahasiswa baru (ordikmaru), petugas lagi-lagi meminta slip SPP.
Untuk 3 urusan saja, sang mahasiswa harus memperbanyak slip dan menyerahkannya setiap meja. Padahal semua kelengkapan berkas, termasuk slip SPP sudah diperiksa pertama kali. Saya tidak tau apa pertimbangannya sehingga setiap mengurus sesuatu harus dibuktikan dengan slip SPP.
Itu baru untuk masalah pendafataran ulang, pengisian KRS, dan pendaftaran ospek, belum lagi urus KTM, asuransi, dan sebagainya. Saya yakin hampir setiap ada pengurusan, salah satu yang diminta adalah slip yang notabene sudah ada pada mereka sebelumnya, hanya beda meja saja. Praktek tersebut menunjukkan betapa amburadurnya persoalan administrasi perguran tinggi kita.

Idealnya cukup satu kali diminta atau tidak perlu mengisi data yang sama setiap ada pengurusan. Karenanya tidak berlebihan kalau ada slogan “Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah”. Pengalaman saya study di Universitas Ohio, Amerika, meskipun saya belajar dengan dana beasiswa yang seharusnya banyak berusan dengan berkas, namun hanya satu kali saya mengisi data dan digunakan untuk semua keperluan. Untuk akses ke asrama, masuk ke rumah makan kampus, pustaka, pusat olah raga, dan berbagai fasilitas lainnya yang ada di kampus cukup dengan satu kali pengisian data.

Saya tidak bermaksud untuk membandingkan perguruan tinggi di negara maju seperti Amerika dengan kampus-kampus yang ada di Indonesia, apalagi di Aceh. Namun sebenarnya praktek tersebut dapat kita contohkan dan saya yakin mampu kita terapkan di Indonesia. Persoalannya terletak pada niat baik pengelola kampus, terutama para pengambil kebijakan. Karena dengan perbaikan pada persoalan administrasi saja, selain dapat mengefektifkan waktu, uang, dan tenaga tetapi juga dapat berpartisipasi dalam menjaga lingkungan.

Persoalan urgensi lainnya yang sering dialami mahasiswa baru di kampus adalah layanan yang mereka dapatkan. Seharusnya ketika datangnya musim penerimaan mahasiswa baru yang setiap tahun mereka alami, pihak kampus sudah mempersipkan segala sesuatu yang dibutuhkan demi memberikan kepuasan kepada konsumennya (mahasiswa). Misalkan, pihak kampus dapat mempersiapkan information desk pada setiap sudut  yang dibutuhkan, sehingga mahasiswa atau ada orangtua/wali mahasiswa baru dapat bertanya segala informasi yang mereka butuhkan. Akibatnya mereka tidak berputar kesana kemari untuk mendapatkan informasi.

Salain masalah keefektan waktu dan tenaga, dampak lainnya adalah mahasiwa meresa muda sehingga mereka puas dan kampuspun mendapat apresiasi karena menciptakan kesan pertama yang baik bagi calon peserta didik mereka. Faktanya jangankan untuk mendapatkan salam atau senyum, mendatkan layanan informasi saja susah.

Permasalahan diatas hanya sekelumit persoalan yang terjadi di kampus-kampus kita, belum lagi kita bicara masalah professionalism dosen, kelengkapan fasilitas, pengelolaan dana beasiswa, budaya membaca atau menulis, dan transparansi pengelolaan keuangan. Kalau masalah administrasi saja belum mampu kita selesaikan, wajarkah rektornya mengharapakan kampusnya masuk dalam world class university?

* Muhammad Adam adalah Alumnus IELSP Ohio University, USA. Peserta MEP Australia
  2012 dan Pegiat di Komunitas Gensee)
.

       

August 27, 2012

#Catatan Harian; Antara Menerima atau Menolak

Santriwati yang Sedang berolahraga.
“The best way to acquaire knowldge is teaching it”. Kalimat tersebut yang memotivasi saya untuk berpikir ulang ketika pimpinan dayah saya menyuruh saya untuk mengajarkan pengajian kepada santri. Saya sudah tinggal di dayah terpadu Ruhul Islam selama 8 tahun yang terdiri dari 3 tahun belajar pada masa SMA dan 5 Tahun yang saya lalui sambil kuliah di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Meskipun sudah 8 tahun, saya tetap merasa canggung dan berkecamuk antara menerima atau menolak ketika kondisi seperti ini.Tentu saja ada plus minusnya kalau saya mengambil kesempatan ini, begitu juga sebaliknya.

Pertimbangan kenapa saya harus saya menerima:

Pertama, saya ingin mengajarka pengetahuan agama Islam kepada santri secara komprehensif semampu saya. Artinya saya tidak hanya berfokus pada kitab-kitab kuning* saja. Tetapi saya ingin membekali juga dengan pengetahuan islam yang kontemporer yang sangat dibutuhkan pada zaman modern. Saya ingin mengajak mereka berpikir kritis tentang kasus atau phenomena yang terjadi pada masa kini yang sebagiannya dulu mungkin belum ada pada masa rasulullah ataupun perlu 'dimodifikasi' untuk konteks kekinian.

Contoh kecil, bagaimana seorang muslim yang membela bangsanya pada even olah raga international, namun pertandingannya pada bulan ramadhan? bagaimana hukum puasa diatasnya? Atau kenapa zakat sekarang tidak berimplikasi terhadap kesejahteraan orang miskin? Untuk kontek Indonesia, bagiaman kita harus memaknai perbedaan dalam memulai puasa atau berahari raya? Bagaimana kalau seandainya ijab qabul pernikahan dilakukan via conference untuk kondisi-kondisi tertentu?. Menurut saya kondisi-kondisi tersebut rentan terjadi pada masa sekarang apalagi untuk 20 atau 30 tahun yang akan datang. Intinya saya ingin mendoktrin santri untuk tidak hanya fokus pada teks tetapi juga bagaimana menghubungkannya dengan kontek kekinian.
Salah satu suasana pengajian.

Hukum-hukum yang bersumber pada teks-tek alqur’an hanya dijadikan pedoman dan fondasi untuk kemudian berijtihad sesuai dengan kebutuhan sekarang. Dengan kata lain, saya ingin mengajak mereka untuk berpikir lebih terbuka (open-minded), menghargai perbedaan yang ada, toleransi, dan sebagainya. Tentu saja, proses belajar mengajar dan apa yang mereka terima selama di bangku pengajian sangat mempengaruhi pemikiran mereka nantinya ketika jadi kepala desa, imam di mesjid, dosen di kampus, birokkrat di kantor, legislatif di DPR, dan sejumah profesi lainnya.

Alasan kedua yang sangat memberikan self-motivation kenapa saya harus mengambil kesempatan ini adalah untuk belajar atau membekali diri. Saya percaya bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengajar dan kebanyakan ilmunya akan lebih bertahan lama dan mengikat dalam pikiran apabila ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Artinya tidak hanya disimpan di dalam otak sehingga membeku karena tidak pernah dituturkan, dibicarakan, dan diajarkan.

Di sisi lain, sekarang saya merasa sangat “kosong” hidupnya ketika pengetahuan agama saya sangat minim. Belakangan saya sering mempertanyakan bagaimana dengan shalat saya, puasa saya, bacaan al-qur’an saya, dan sebagainya. Artinya saya masih sangat ragu dengan amalan saya karena kekurang pengetahuan saya dalam bidang agama, khususnya berkenaan dengan tauhid dan fiqh. Makanya ketika ada kesempatan seperti ini, saya berpikir ini kesempatan yang tepat untuk membekali diri juga.

Alasan ketiga, saya menilai kalau ini adalah “kesempatan”. Karena ini adalah kesempatan belum tentu saya mendapatkan kesempatan seperti ini pada masa mendatang. Sekarang Abati* sedang “mendengar suara saya” dan beliau ingin saya lebih maju dari sekarang, belum tentu keingan seperti itu akan terus ada buat saya. Lumrahnya hidup, ada naik, ada turun, siang malam, hitam putih, disenangi dibenci, dikasihi dimarahi, disanjung dilecehkan, itu semua adalah sunnatullah yang tidak bisa kita elakkan. Sebagai manusia, seyogianya kita harus melakukan yang terbaik setiap saat.

Di sisi lain, kenapa saya merasa bimbang ketika ada Abati meminta saya untuk mengajarkan kitab arab kepada santri adalah:

Satu, saya mempertimbangkan kemampuan saya saat ini. Kapabilitas saya dalam ilmu agama boleh dibilang BIG ZERO. Apalagi kitab-kitab arab yang banyak digunakan dalam pengajian. Untuk informasi saja bagi anda yang membaca catatan harian saya ini, dayah Terpadu Ruhul Islam memadukan pendidikan umum dengan agama. Pelajaran umum dipelajari di sekolah yang berada dibawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara. Untuk membekali santri degan pengetahuan agama, santri diajarkan ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab arab seperti fiqh, nahwu, saraf, dan sebagainya seperti yang digunakan di dayah-dayah murni atau salafi* pada umumnya.

Dua, saya khawatir dengan kekonsistensi, komitmen, dan kedisipinan pribadi saya. Hari ini, karena niat saya yang terlalu tinggi untuk belajar dan mengajar, maka saya ambil langsung tawaran ini. Namun besok lusa, semangat saya turun, komitmen saya mulai berkurang, karena kesibukan saya tidak disiplin atau ketidakmampuan saya untuk mengatur waktu, akibatnya saya tidak bisa fokus. Apalgi saya juga menerima tawaran dari STAIN untuk mengajar pada semester ini. Pada titik ini, santri yang menjadi korban, saya tidak totalitas, dan akibatnya terkesan saya mempermainkan pimpinan dan dewan guru lainnya yang sudah percaya kepada saya. Karena to be honest, selama ini saya menilai diri saya kurang konsisten, melakukan sesuatu tergantung pada mood dan kondisi. Tidak disiplin. Tapi di sisi lain, saya juga berpikir mungkin saja dengan disuruh mengajar, saya bisa juga membentuk kedisplinan diri. karena setiap hari saya harus mengulang dan belajar sebelum mengajar, siapa tau secara perlahan bisa membentuk sikap dan menumbuhkan semangat belajar, yang pada saatnya nanti akan menjadi budaya pribadi saya. Sehingga pada titik ini, kedisplinan dengan sendirinya akan terbentuk.

Alasanya urgen lainnya adalah keinginan untuk melanjutkan study master. Saya tidak tau kalau ini tuntutan atau hanya sebatas wacana yang saya sering bicarakan dan diskusikan dengan orang-orang sehingga terkesan mendesak untuk saya lakukan. Memang di satu sisi, saya tidak ingin bermunafik, kalau saya ingin berkarir sebagai dosen, tentu saja saya harus punya S2. Belum lagi saya harus membiyai adik-adik saya yang sedang dalam pendidikan karena orang tua tidak sanggup lagi bekerja karena faktor usia. Memang ketika saya menuliskan seperti in, terkesan kalau dengan mengaji seolah-olah tidak akan mampu membiayai hidup saya dan keluarga. Memang dalam hal ini agak paradoks.

Karena faktanya, tanpa ijazah orang-orang hebat di Indonesia tidak bisa banyak berkiprah, apalagi di birokrat atau akademisi yang ruangnya hampir tertutup untuk mereka. Saya pikir ini adalah salah satu PR besar pemerintah. Supaya orang tidak perlu lagi khawatir dengan ijazah atau tidak ada ijazah, selama mereka punya kemampuan, idealanya mereka tetap mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang lain. Nah dalam hal ini, menurut saya perlu campur tangan pemerintah untuk membuat kebijakan, membangun sistem dan melakukan monitoring serta evaluasi yang komprehensif dalam prakteknya. Ironi memang, disatu sisi kita mengagung-agungkan kalau Indonesia adalah negara dengan penduduk beraga Islam terbanyak di dunia. Tapi disisi lain, kita tidak menghargai orang-orang yang mempunyai ilmu agama, bahkan mendiskriminasi. Lantas, dimana bukti keislamana negara dan pemimpin kita?

Balik lagi kepada niat saya mau kuliah, karena ambisi saya ingin kuliah keluar negeri, saat ini saya memang sedang menunggu beberapa kesempatan/pengumuman. Pertama, beasiswa Pemerintah Aceh tahun anggaran 2012 dimana tahapannya sudah pada seleksi TPA, psikotes, dan wawancara. Program Pembibitan Alumni Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sebagai calon dosen. Sedang menunggu jadwal interview. Terakhir, applikasi Australian Development Scholarship (ADS) sudah saya kirimkan dan menunggu pengumuman. Kalau ada salah satu kesempatan ini saya dapatkan, sudah pasti saya tidak bisa lagi di Dayah karena harus ikut persiapan bahasa. Untuk beasiswa Pemda Aceh, belajarnya di Banda Aceh, beasiswa Pembibitan dari DITPERTAIS (direktorat pendidikan tinggi Islam), kursusnya di Jakarta sedangkan ADS biasanya di Jakarta atau Bali.

Mempertimbangkan hal inilah yang membuat saya bimbang. Karena saya menginginkan idealita kalau saya sudah memutuskan untuk mengajarkan kitab, saya harus totalitas. Setiap hari saya harus mengulang, saya harus berdiskusi dulu dengan dewan guru senior lainnya yang mahir dalam kitab kuning. Ya Allah...saya benar-benar bingung untuk mengambil jalannya.

Tapi sebenarnya saya masih punya alternatif yang lain yaitu dengan menunda 2 tahun niat saya untuk study. Sekarang saya bisa fokus membekali diri dengan pengetahuan agama dengan mengajar, terutama untuk bisa membaca kitab-kitab arab dan meningkatkan kemampuan bahasa inggris, khususnya TOEFL.

Nilai lebihnya saya bisa mendapatkan 2 hal pada saat bersamaan, namun kekurangannynya adalah kalau saya ikut proses pembelajaran yang ditanggung ADS, DITPERTAIS, atau Pemerintah Aceh tentu saja akan lebih terarah dan berkualitas karena mereka sudah punya sistem yang established. Berbeda kalau saya secara otodidak yang kedisplinan saya juga masih sangat miskin.

Kekurangan lainnya adalah pertimbangan umur. Kalau saya bisa melanjutkan S2 tahun depan, 2 tahun kedepan saya sudah mendapat gelar master. Tapi kalau saya menunda 2 tahun lagi, berarti saya harus bersabar 4 atau 5 tahun lagi untuk bisa dapat gelar master. Karena umur saya sekarang 25 tahun (1 oktober nanti), pada usia 30 tahun saya baru bisa berkarir. Nah kalau pada usia tersebut, saya juga harus memikirkan untuk berumah tangga...wow complicated banget ya!!!

Saya menuliskan ini, terutama untuk bisa memetakan secara jelas kekurangan, kelebihan, resiko, dan manfaat yang akan saya dapatkan ketika saya menerima atau menolak kesempatan ini. Karena sejujurnya ini termasuk keadaan yang berat untuk saya putuskan karena menyangkut hidup saya kedepan. Manfaat kedua dengan saya mempublikasikannya di blog, akan menjadi self-evaluator sekaligus self-motivator buat saya untuk tetap berkomitmen terhadap apa yang saya putuskan.

Dengan saya mempublikasikannya di blog, tentu saja akan menjadi konsumsi publik, saya mengharapkan ini akan menjadi tanggung jawab moral saya yang akan mendrive saya untuk berkomitmen. Kalau saya tidak menuliskanya, mungkin saja saya tidak berpikir manfaat begini, resikonya seperti itu. Tapi setelah saya tuliskan, semuanya tergambarkan dengan jelas plus dan minusnya.

Kepada anda yang membaca curhatan saya ini, pelajaran yang bisa anda ambil adalah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Belajar ketika anda memiliki kesempatan. Jangan tunda sampe esok, mensyukuri nikmat tuhan, usia yang sudah diberikan, waktu yang ada,  lakukan sekarang dan mulai pada saat anda dianugerahi kesempatan. Kalau saja saya dahulu ketika masa-masa SMA sadar untuk belajar ilmu agama, tentu saja kemampuan saya membaca kitab kuning, sudah ada dasarnya walaupun tidak baik. Dan ibadah sayapun semakin berkualitas. Tapi karena saya dulu tidak patuh dan hanya belajar asal-asalan, yang penting masuk, tidak mau mengulang, tidak fokus, akibatnya sekarang saya dihadapkan pada keadaan seperti ini. Ya...yang namanya penyesalan tidak pernah datang duluan, kalau duluan ya bukan penyesalan namanya? He...............
Suasana Pengajian pada malam hari.

Ya Allah... show me the way to lead..I am strongly believe what are you currently giving for me is the best. Amin ya Allah.

Ruhul Islam-Aceh Utara
27 Agustus 2012,

~Adam~

Keterangan:
*) Kitab Kuning adalah Istilah lain dari kitab-kitab Arab yang tidak ada baris atau disebut
   juga Kitab Gundul.
*) Abati adalah Istilah yang kami gunakan untuk memanggil pimpinan dayah.

 
Web developed by Eka.aSOKA.web.id | Domain Host by aSOKAhost.com
Follow @MuehammadAdam