Showing posts with label mc-adam-catatan-baca-buku. Show all posts
Showing posts with label mc-adam-catatan-baca-buku. Show all posts

August 27, 2012

#Catatan Harian; Antara Menerima atau Menolak

Santriwati yang Sedang berolahraga.
“The best way to acquaire knowldge is teaching it”. Kalimat tersebut yang memotivasi saya untuk berpikir ulang ketika pimpinan dayah saya menyuruh saya untuk mengajarkan pengajian kepada santri. Saya sudah tinggal di dayah terpadu Ruhul Islam selama 8 tahun yang terdiri dari 3 tahun belajar pada masa SMA dan 5 Tahun yang saya lalui sambil kuliah di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Meskipun sudah 8 tahun, saya tetap merasa canggung dan berkecamuk antara menerima atau menolak ketika kondisi seperti ini.Tentu saja ada plus minusnya kalau saya mengambil kesempatan ini, begitu juga sebaliknya.

Pertimbangan kenapa saya harus saya menerima:

Pertama, saya ingin mengajarka pengetahuan agama Islam kepada santri secara komprehensif semampu saya. Artinya saya tidak hanya berfokus pada kitab-kitab kuning* saja. Tetapi saya ingin membekali juga dengan pengetahuan islam yang kontemporer yang sangat dibutuhkan pada zaman modern. Saya ingin mengajak mereka berpikir kritis tentang kasus atau phenomena yang terjadi pada masa kini yang sebagiannya dulu mungkin belum ada pada masa rasulullah ataupun perlu 'dimodifikasi' untuk konteks kekinian.

Contoh kecil, bagaimana seorang muslim yang membela bangsanya pada even olah raga international, namun pertandingannya pada bulan ramadhan? bagaimana hukum puasa diatasnya? Atau kenapa zakat sekarang tidak berimplikasi terhadap kesejahteraan orang miskin? Untuk kontek Indonesia, bagiaman kita harus memaknai perbedaan dalam memulai puasa atau berahari raya? Bagaimana kalau seandainya ijab qabul pernikahan dilakukan via conference untuk kondisi-kondisi tertentu?. Menurut saya kondisi-kondisi tersebut rentan terjadi pada masa sekarang apalagi untuk 20 atau 30 tahun yang akan datang. Intinya saya ingin mendoktrin santri untuk tidak hanya fokus pada teks tetapi juga bagaimana menghubungkannya dengan kontek kekinian.
Salah satu suasana pengajian.

Hukum-hukum yang bersumber pada teks-tek alqur’an hanya dijadikan pedoman dan fondasi untuk kemudian berijtihad sesuai dengan kebutuhan sekarang. Dengan kata lain, saya ingin mengajak mereka untuk berpikir lebih terbuka (open-minded), menghargai perbedaan yang ada, toleransi, dan sebagainya. Tentu saja, proses belajar mengajar dan apa yang mereka terima selama di bangku pengajian sangat mempengaruhi pemikiran mereka nantinya ketika jadi kepala desa, imam di mesjid, dosen di kampus, birokkrat di kantor, legislatif di DPR, dan sejumah profesi lainnya.

Alasan kedua yang sangat memberikan self-motivation kenapa saya harus mengambil kesempatan ini adalah untuk belajar atau membekali diri. Saya percaya bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengajar dan kebanyakan ilmunya akan lebih bertahan lama dan mengikat dalam pikiran apabila ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Artinya tidak hanya disimpan di dalam otak sehingga membeku karena tidak pernah dituturkan, dibicarakan, dan diajarkan.

Di sisi lain, sekarang saya merasa sangat “kosong” hidupnya ketika pengetahuan agama saya sangat minim. Belakangan saya sering mempertanyakan bagaimana dengan shalat saya, puasa saya, bacaan al-qur’an saya, dan sebagainya. Artinya saya masih sangat ragu dengan amalan saya karena kekurang pengetahuan saya dalam bidang agama, khususnya berkenaan dengan tauhid dan fiqh. Makanya ketika ada kesempatan seperti ini, saya berpikir ini kesempatan yang tepat untuk membekali diri juga.

Alasan ketiga, saya menilai kalau ini adalah “kesempatan”. Karena ini adalah kesempatan belum tentu saya mendapatkan kesempatan seperti ini pada masa mendatang. Sekarang Abati* sedang “mendengar suara saya” dan beliau ingin saya lebih maju dari sekarang, belum tentu keingan seperti itu akan terus ada buat saya. Lumrahnya hidup, ada naik, ada turun, siang malam, hitam putih, disenangi dibenci, dikasihi dimarahi, disanjung dilecehkan, itu semua adalah sunnatullah yang tidak bisa kita elakkan. Sebagai manusia, seyogianya kita harus melakukan yang terbaik setiap saat.

Di sisi lain, kenapa saya merasa bimbang ketika ada Abati meminta saya untuk mengajarkan kitab arab kepada santri adalah:

Satu, saya mempertimbangkan kemampuan saya saat ini. Kapabilitas saya dalam ilmu agama boleh dibilang BIG ZERO. Apalagi kitab-kitab arab yang banyak digunakan dalam pengajian. Untuk informasi saja bagi anda yang membaca catatan harian saya ini, dayah Terpadu Ruhul Islam memadukan pendidikan umum dengan agama. Pelajaran umum dipelajari di sekolah yang berada dibawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara. Untuk membekali santri degan pengetahuan agama, santri diajarkan ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab arab seperti fiqh, nahwu, saraf, dan sebagainya seperti yang digunakan di dayah-dayah murni atau salafi* pada umumnya.

Dua, saya khawatir dengan kekonsistensi, komitmen, dan kedisipinan pribadi saya. Hari ini, karena niat saya yang terlalu tinggi untuk belajar dan mengajar, maka saya ambil langsung tawaran ini. Namun besok lusa, semangat saya turun, komitmen saya mulai berkurang, karena kesibukan saya tidak disiplin atau ketidakmampuan saya untuk mengatur waktu, akibatnya saya tidak bisa fokus. Apalgi saya juga menerima tawaran dari STAIN untuk mengajar pada semester ini. Pada titik ini, santri yang menjadi korban, saya tidak totalitas, dan akibatnya terkesan saya mempermainkan pimpinan dan dewan guru lainnya yang sudah percaya kepada saya. Karena to be honest, selama ini saya menilai diri saya kurang konsisten, melakukan sesuatu tergantung pada mood dan kondisi. Tidak disiplin. Tapi di sisi lain, saya juga berpikir mungkin saja dengan disuruh mengajar, saya bisa juga membentuk kedisplinan diri. karena setiap hari saya harus mengulang dan belajar sebelum mengajar, siapa tau secara perlahan bisa membentuk sikap dan menumbuhkan semangat belajar, yang pada saatnya nanti akan menjadi budaya pribadi saya. Sehingga pada titik ini, kedisplinan dengan sendirinya akan terbentuk.

Alasanya urgen lainnya adalah keinginan untuk melanjutkan study master. Saya tidak tau kalau ini tuntutan atau hanya sebatas wacana yang saya sering bicarakan dan diskusikan dengan orang-orang sehingga terkesan mendesak untuk saya lakukan. Memang di satu sisi, saya tidak ingin bermunafik, kalau saya ingin berkarir sebagai dosen, tentu saja saya harus punya S2. Belum lagi saya harus membiyai adik-adik saya yang sedang dalam pendidikan karena orang tua tidak sanggup lagi bekerja karena faktor usia. Memang ketika saya menuliskan seperti in, terkesan kalau dengan mengaji seolah-olah tidak akan mampu membiayai hidup saya dan keluarga. Memang dalam hal ini agak paradoks.

Karena faktanya, tanpa ijazah orang-orang hebat di Indonesia tidak bisa banyak berkiprah, apalagi di birokrat atau akademisi yang ruangnya hampir tertutup untuk mereka. Saya pikir ini adalah salah satu PR besar pemerintah. Supaya orang tidak perlu lagi khawatir dengan ijazah atau tidak ada ijazah, selama mereka punya kemampuan, idealanya mereka tetap mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang lain. Nah dalam hal ini, menurut saya perlu campur tangan pemerintah untuk membuat kebijakan, membangun sistem dan melakukan monitoring serta evaluasi yang komprehensif dalam prakteknya. Ironi memang, disatu sisi kita mengagung-agungkan kalau Indonesia adalah negara dengan penduduk beraga Islam terbanyak di dunia. Tapi disisi lain, kita tidak menghargai orang-orang yang mempunyai ilmu agama, bahkan mendiskriminasi. Lantas, dimana bukti keislamana negara dan pemimpin kita?

Balik lagi kepada niat saya mau kuliah, karena ambisi saya ingin kuliah keluar negeri, saat ini saya memang sedang menunggu beberapa kesempatan/pengumuman. Pertama, beasiswa Pemerintah Aceh tahun anggaran 2012 dimana tahapannya sudah pada seleksi TPA, psikotes, dan wawancara. Program Pembibitan Alumni Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sebagai calon dosen. Sedang menunggu jadwal interview. Terakhir, applikasi Australian Development Scholarship (ADS) sudah saya kirimkan dan menunggu pengumuman. Kalau ada salah satu kesempatan ini saya dapatkan, sudah pasti saya tidak bisa lagi di Dayah karena harus ikut persiapan bahasa. Untuk beasiswa Pemda Aceh, belajarnya di Banda Aceh, beasiswa Pembibitan dari DITPERTAIS (direktorat pendidikan tinggi Islam), kursusnya di Jakarta sedangkan ADS biasanya di Jakarta atau Bali.

Mempertimbangkan hal inilah yang membuat saya bimbang. Karena saya menginginkan idealita kalau saya sudah memutuskan untuk mengajarkan kitab, saya harus totalitas. Setiap hari saya harus mengulang, saya harus berdiskusi dulu dengan dewan guru senior lainnya yang mahir dalam kitab kuning. Ya Allah...saya benar-benar bingung untuk mengambil jalannya.

Tapi sebenarnya saya masih punya alternatif yang lain yaitu dengan menunda 2 tahun niat saya untuk study. Sekarang saya bisa fokus membekali diri dengan pengetahuan agama dengan mengajar, terutama untuk bisa membaca kitab-kitab arab dan meningkatkan kemampuan bahasa inggris, khususnya TOEFL.

Nilai lebihnya saya bisa mendapatkan 2 hal pada saat bersamaan, namun kekurangannynya adalah kalau saya ikut proses pembelajaran yang ditanggung ADS, DITPERTAIS, atau Pemerintah Aceh tentu saja akan lebih terarah dan berkualitas karena mereka sudah punya sistem yang established. Berbeda kalau saya secara otodidak yang kedisplinan saya juga masih sangat miskin.

Kekurangan lainnya adalah pertimbangan umur. Kalau saya bisa melanjutkan S2 tahun depan, 2 tahun kedepan saya sudah mendapat gelar master. Tapi kalau saya menunda 2 tahun lagi, berarti saya harus bersabar 4 atau 5 tahun lagi untuk bisa dapat gelar master. Karena umur saya sekarang 25 tahun (1 oktober nanti), pada usia 30 tahun saya baru bisa berkarir. Nah kalau pada usia tersebut, saya juga harus memikirkan untuk berumah tangga...wow complicated banget ya!!!

Saya menuliskan ini, terutama untuk bisa memetakan secara jelas kekurangan, kelebihan, resiko, dan manfaat yang akan saya dapatkan ketika saya menerima atau menolak kesempatan ini. Karena sejujurnya ini termasuk keadaan yang berat untuk saya putuskan karena menyangkut hidup saya kedepan. Manfaat kedua dengan saya mempublikasikannya di blog, akan menjadi self-evaluator sekaligus self-motivator buat saya untuk tetap berkomitmen terhadap apa yang saya putuskan.

Dengan saya mempublikasikannya di blog, tentu saja akan menjadi konsumsi publik, saya mengharapkan ini akan menjadi tanggung jawab moral saya yang akan mendrive saya untuk berkomitmen. Kalau saya tidak menuliskanya, mungkin saja saya tidak berpikir manfaat begini, resikonya seperti itu. Tapi setelah saya tuliskan, semuanya tergambarkan dengan jelas plus dan minusnya.

Kepada anda yang membaca curhatan saya ini, pelajaran yang bisa anda ambil adalah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Belajar ketika anda memiliki kesempatan. Jangan tunda sampe esok, mensyukuri nikmat tuhan, usia yang sudah diberikan, waktu yang ada,  lakukan sekarang dan mulai pada saat anda dianugerahi kesempatan. Kalau saja saya dahulu ketika masa-masa SMA sadar untuk belajar ilmu agama, tentu saja kemampuan saya membaca kitab kuning, sudah ada dasarnya walaupun tidak baik. Dan ibadah sayapun semakin berkualitas. Tapi karena saya dulu tidak patuh dan hanya belajar asal-asalan, yang penting masuk, tidak mau mengulang, tidak fokus, akibatnya sekarang saya dihadapkan pada keadaan seperti ini. Ya...yang namanya penyesalan tidak pernah datang duluan, kalau duluan ya bukan penyesalan namanya? He...............
Suasana Pengajian pada malam hari.

Ya Allah... show me the way to lead..I am strongly believe what are you currently giving for me is the best. Amin ya Allah.

Ruhul Islam-Aceh Utara
27 Agustus 2012,

~Adam~

Keterangan:
*) Kitab Kuning adalah Istilah lain dari kitab-kitab Arab yang tidak ada baris atau disebut
   juga Kitab Gundul.
*) Abati adalah Istilah yang kami gunakan untuk memanggil pimpinan dayah.

July 23, 2012

Kompilasi “Notes From Australia”

Photo diabadikan oleh Mas SidQie tanggal 17 Juni 2012
di Kyabram Fauna Park, Shepparton.


Alhamdulillah, Saya diberikan kesempatan oleh Allah melalui Australia Indonesia Institute (AII) untuk Berkunjung ke Australia melalui program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia Austra atau Muslim Exchange Program (MEP). Saya bersama 4 orang rekan lainnya se Indonesia mendapatkan kesempatan berkeliling Australia dari tanggal 11 sampai dengan 24 Juni 2012. Kami melewati 2 minggu dengan agenda yang sangat padat di 4 daerah yaitu Melbourne, Shepparton, Canberra, dan Sydney.

Mendapat kesempatan berkungjung ke Luar Negeri tentu saja banyak sekali manfaatnya. Dalam program MEP ini, dari substansi program, jelas sudah manfaatnya yaitu untuk menggali informasi sebanyak mungkin tentang kondisi ummat muslim di Australia dalam interaksinya dengan masyarakat agama lain dalam berbagai sendi kehidupan; politik, sosial, ibadah, agama, budaya, ekonomi, dan sebagainya.

Menariknya ketika berkunjung ke Luar Negeri adalah banyak hal yang berbeda yang kita temui di sana. Dari apa yang saya dengarkan, saya baca, dan saya lihat, Saya mencoba untuk menurunkannya dalam bentuk catatan series sebanyak 25 episode.

Menyangkut dengan catatan tersebut, ada beberapa hal yang perlu anda ketehui terlebih dahulu:

Pertama, Semua catatan ini adalah PENGALAMAN pribadi saya. hampir semua notes tersebut bersifat subjektif dan itu penilain pribadi saya dari apa yang saya lihat, saya baca, dan saya dengarkan. Artinya, tentu saja kita punya point of view yang berbeda dari setiap apa yang saya tuliskan. Karena ini sifatnya personal experience, ya ini sangat bergantung pada tingkat ketajaman analisis saya dan kemampuan saya untuk menarasikannya.

Kedua, catatan-catatan tersebut ada yang bersifat informative, dokumentative dan evaluative. Artinya itu hanya point of view saya. ketika saya membaca, mendengarkan, atau melihat sesuatu kemudian saya coba interpretasikan dan saya temakan dengan bahasa-bahasa yang terkadang terlalu hiperbola. Namun, sekali lagi itu hanya masalah permainan bahasa.

Ketiga, sebenarnya saya menuliskan catatan tersebut ketika saya masih berada di Australia. Namun baru bisa saya posting ketika sudah tiba di Indonesia. karena tidak sempat saya posting serentak, makanya agak lama. Terutama dalam pemilihan photo-photo yang berkenaan dengan tulisan yang sedang saya uraikan.

Keempat, tujuan dari saya menuliskan catatan ini adalah [1] untuk menunaikan janji saya dengan kawan-kawan yang minta sharing pengalaman saya dari MEP. [2] saya percaya bahwa banyak orang lain yang ingin mendapatkan kesempatan serupa, namun karena banyak alasan  mereka belum mendapatknya, disamping keterbatasan dana yang dimiliki oleh AII, juga mungkin mereka tidak memenuhi syarat untuk mendaftar atau alasan-alasan lainnya. Jadi sharing pengalaman melalui tulisan ini dapat menjadi bagian dari kontribusi saya setelah mendapatkan kesempatan langka ini. [3] selanjutnya adalah saya ingin mendokumentasikan setiap momen dari perjelanan ini, mungkin kalau sekarang tidak terlalu bernilai buat saya, tapi suatu saat nanti catatan-catatan ini akan sangat bermanfaat. [4], tujuan terakhir, orang bilang “Sekali tepuk, 2 nyamuk mati”. Saya berharap dengan menulis, dapat memperbaiki kemampuan writing skill saya.

MEP adalah kali kedua saya bisa ke luar negeri. Pertama kali adalah waktu mengikuti Program belajar Bahasa Inggris (academic purpose) di Universitas Ohio, Amerika Serikat tahun 2010. Namun sayangnya waktu itu, saya tidak banyak menulis catatan, dan itu yang saya sesali juga. Karenanya dalam program MEP, jauh-jauh hari saya sudah merencanakan setiap moment dari proses perjalanan MEP.

Last but Not Least!!!
Sebagai blogger pemula, saya sangat butuh dukungan semangat dari para pembaca supaya saya tetap menulis and ngeblog...Kata Mas Nukman Luthfie "Blog tanpa komentar, bagi banyak narablog, bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan"....terlebih lagi saya blogger pemula...SO PLEASE TINGGALKAN KOMENTAR PEDAS, MANIS, ASIN, atau APAPUN RASANYA SETELAH ANDA MEMBACA SETIAP CATATAN INI!!!

Terakhir...
Thanks in Deep for Australia Indonesia Institute (AII) selaku funding dari Program ini. Terus Mbak Mila yang super bertanggung jawab sebagai Direktor Program MEP. Thanks Mbak  buat semuanya, pendampingan, bimbingan, saran, dan kesuksesan program ini, sebagian besar adalah kontribusi Mbak...I don't know how to thank you Mbakkkkkkkkkkkkkkkkk !!May God Bless you ever!!!amin......................

Buat Universitas Paramadina selaku Implementing Agency yang sudah nyeleksi kami di Indonesia. Buat Mas Wawan, SidQie, Mbak Angky, dan Mas Tony yang sudah mewarnai dan memperkaya pasukan MEP. Untuk Dr. Eeqbal Hassim dan Istrinya, Struan Jones dan Faza Fauzi yang bersedia menamani kami selama di Melbourne.


Next, Brother Nail dan Maryam Bekris dari Islamic Council of Victoria yang super mega friendly and outstanding.  Buat Pengurus Islamic Museum of Australia. Then, Untuk kawan-kawan Alumni MEP seperti Asmaah Helal, Sana Gillani, Omar, dkk...Moga kalean juga tidak kalah mendapatkan pengalaman yang sama seperti kami ke negara kalian.  dan special buat mereka-mereka yang kami temui dalam program ini. Informasi, Saran, dan Bimbingan yang Bapak/Ibu berikan  sangat bernilai buat kami. and above all, buat Mbak Anindita dari Kedutaan Australia Jakarta yang sudah mengurus kami sebelum dan selama di Jakarta. Thanks for All Mbak ya!!!

enndddddddddddddddddd the last is for FOUR of my Friends; Mas Ridho dari Wonosobo, Mas Zainal dari Tulung Agung, Lusi dari Batam, dan Mbak Elis dari Cianjur...you guys being part of my story already!!!

Selamat Membaca, Silakan klik judul-judul di bawah untuk membacanya!!!

Semoga ada manfaatnya buat anda!!!amin………….


  1. Usaha Sekali Saja Tidak Cukup
    Photo diambil oleh Mas SidQie di Kyabram Fauna Park, Shepparton, Melbourne.
    Tanggal 17 Juni 2012.

  2. 3 Minggu, 2 Kedutaan, 5 Rahmat

    Group Picture dengan Komunitas Alumni Muda Indonesia (KAMI)
    Photo diabadikan  tanggal 2 Juni 2012 di @America Pacific Place Jakarta.


  3. Ketika Kristiani Mengurus Muslim

    Photo diabadikan oleh Mas Ridha di Sydney Tanggal 22 Juni 2012.

  4. Alhamdulillah "God Saved Me"

    Group Picture di Kyabram Fauna Park.
    Photo diabadikan Mas SidQie tanggal 17 Juni 2012.
  5. Prepare Tomorrow, Today
    Photo diabadikan oleh Mas SidQie ketika pertemuan dengan
    Boards of Imam ICV, Melbourne tanggal 16 Juni 2012.

  6. Yang Ditolah Hati, Itulah Dosa
    Photo diabadikan oleh Mas Ridha di Sydney tanggal 22 Juni 2012.


  7. Saatnya Menjadi Manusia Wool

    Photo diabadikan oleh Mas SidQie di
    Kyabram Fauna Park, Shepparton.
    Tanggal 17 Juni 2012.


  8. Kantin Kejujuran di Mesjid Melbourne
    Photo di Depan State Library Victoria, Melbourne tanggal 13 Juni 2012.


  9. Harapan Baru untuk Islam
    Photo di Depan Darling Tower Melbourne
    Photo diabadikan oleh Mbak Elis tanggal 14 Juni 2012.

  10. Teaching by Leading

    Group Picture di dekat Danau Barley Griffin, Canberra.
    Photo diabadikan oleh Mas Aan tanggal 19 Juni 2012.

  11. Antara Minoritas dan Manyoritas
    Photo di Halaman University of Melbourne.
    Diabadikan oleh Mas Zainal 15 Juni 2012.


  12. Amanah Sukarno di Negeri Kangguru
    Photo ini diabadikan oleh Mas Ridha di Sydney tanggal 222 Juni 2012.

  13. Berda'wah di Gereja
    Photo Bareng dengan Prof. Islamil Albayrak di Australian Catholic University, Melbourne.
    Photo diabadikan oleh Lusi tanggal 12 Juni 2012.


  14. Membangun Tanpa Merusak
    Group Picture (Peserta MEP) di Halaman Australia Parliament House tanggal 19 Juni 2012.


  15. Indonesia-Australia di Mata Prof. Tim Lindsey
    Photo ini diabadikan oleh Lusi di salah satu danau di Shepparton tanggal 17 Juni 2012.

  16. Ketika Presiden Minta Ma'af
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal di Melbourne University tanggal 15 Juni 2012.

  17. Ketika Teh, Kopi, dan Susu Bercampur dalam 1 Gelas

    Photo Bareng dengan David Schutz (Sekretaris JCMA) Melbourne.
    Photo diabadikan oleh Mas Ridha tanggal 13 Juni 2012.

  18. It's not about WHAT, but WHY
    Photo di Australian International Academy of Education (Islamic School), Melbourne.
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tanggl 14 Juni 2012.

  19. Tangan Tuhan di Australia

    Group Picture di Depan Parliament House Australia.
    Photo diabadikan oleh Mas Aan tanggal 19 Juni 2012.

  20. Pesan Tuhan Lewat Tulisan
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tanggal 15 Juni 2012 di Uni of Melbourne.

  21. You're the Product of the Environment

    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tanggal 15 Juni 2012 di Uni of Melbourne.

  22. Ketika Kafir Mengajar Islam Kepada Muslim

    Photo di Manly Beach Sydney.
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tangal 23 Juni 2012.


  23. Tidak Hanya Sebatas Simbol

    Photo diabadikan oleh Mas SidQie 17 Juni 2012.

  24. Merakyatnya DPR Australia
    Group Picture di depan Parliament House Australia tanggal 19 Juni 2012.

  25. Walikota Islami yang Tidak Islam
    Photo dengan latar Opera House Sydney.
    Photo diabadikan oleh Mas Ridha oleh Lusi tanggal 23 Juni 2012.




July 04, 2012

[Episode 3_Note for MEP Australia]~ Ketika Kristiani Mengurus Muslim

Written in:
Jakarta, 10 June 2012 // Pukul 2.01 WIB
Photo ini diambil oleh Mas Ridha di depan Apartemen tempat kami tinggal di Sydney
pada tanggal 22 Juni 2012.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Lhokseumawe menuju Medan selama 8 Jam, kemudian Medan ke Jakarta 2 dengan menggunakan pesawat dilanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan Damri Bandara ke Gambir, akhirnya Saya tiba di tempat kakak saya sekitar pukul 12 siang tanggal 7 Juni 2012.

Memang menjadi kendala tersendiri bagi saya, kalau mau berangkat ke Jakarta pasti menghabiskan waktu 2 hari sebelum hari H dan 1 minimal setelah hari H. Kalau misalkan ada acara hari Sabtu, maka saya harus berangkat Kamis Malam dari Lhokseumawe dengan menggunakan Bus, kemudian lanjut dari Medan ke Jakarta, terus Bandara tempat tujuan. Karena perjalanan jauh, supaya maksimal pasti harus tiba 1 hari sebelum acara. Begitu juga ketika saya kembali ke origin, menghabiskan 1 hari perjalanan.

Sebenarnya yang membutuhkan waktu lebih lama adalah perjalanan dari Medan menuju Lhokseumawe dan sebaliknya dari Lhokseumawe menuju Medan ketika pergi. Perjalanan memerlukan waktu sekitar 7-8 Jam dengan menggunakan bus angkutan umum. Tapi ya itulah, resiko hidup di daerah dimana akses transportasi masih sangat terbatas. Boro2 ngomong akses informasi, toh transportasi aja masih bermasalah. Meskipun ada bandara mini di kota Lhokseumawe, tapi terkesan seperti bandara mati. Mungkin seminggu sekali mendarat pesawatnya di Bandara Malikusaleh yang membutuhkan sekitar 30 perjalanan dari Kota Lhokseumawe.

Well…apa sih yang ingin saya sampaikan “Ketika Kristiani Mengurus Muslim”,….pada penasaran kan???he…baguslah kalau penasaran. Nah ceritanya hari jum’at pagi tanggal 8 Juni 2012 saya bersama peserta lainnya mengikuti briefing di Kedutaan Besar Australia Jakarta. tepatnya di Jl. Rasuda Said Sudirman.

Meskipun briefing kali ini tidak seperti ketika saya ikut program short course IELSP ke USA tahun 2010 lalu, namun sangat membantu juga. Briefing hanya berlangsung selama 3 jam dari pukul 9 sampai dengan 12 siang. Ada beberapa substansi yang ingin disampaikan oleh Panitia kepada kami Peserta Youth Muslim Exchange Program Indonesia-Australia 2012  (MEP) tahun ini.

Pertama, Ingin memberikan gambaran secara umum tentang substansi dari program MEP. Thanks buat Ibu Sanchi Davis dari Atase Budaya Kedutaan Australia.

Kedua, Untuk menjelaskan sekilas kondisi ummat muslim di Australia dalam kaitannya hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia. Thanks to Ibu Fleur Hamilton dari Second Secretary , Political Embassy Australia Jakarta.

Ketiga, dan ini yang penting, tentu saja untuk menjelaskan kepada peserta apa saja kebutuhan yang perlu dipersiapkan, obat-obatan, winter jacket, sarung tangan, shawl, kaus kaki, and kebutuhan-kebutuhan lainnya yang dianggap perlu.

Terakhir, tujuan dari briefing kemarin adalah menjelaskan secara general schedule perjalanan kami yang sangat super duper padat. Thanks in advance buat Mbak Anindita dari Cultural Section Embassy Australia Jakarta yang udah ngejelasin kebutuhan, schedule, organize ticket, passport, visa, de el el.

And….terkahir adalah Group Picture…nah ini yang lebih penting lagi kan???hee…narsis banget ni saya!!!....ngomong2 soal photo penting lhoe, ini adalah salah satu bukti dari lembaran kehidupan yang nantinya bisa berguna buat anak, cucu, cicit kita…heeeeeeeeeeeeeeee….dah jauh banget ni mimpinya…

So..mana cerita menariknya dong???hee sabar!!!

Anda tau gak, yang mengurus semua keperluan kami (peserta) mulai dari pengurusan visa, kumpulin passport, ngeorganise masalah transportasi, komunikasi dan ngasih informasi, ngatur jadwal briefing dan sebaginya itu diatur oleh Mbak Anindita Kusumawardhani yang bertugas sebagai Cultural Manager di Kedutaan Australia Jakarta. And you know what??? Belakangan saya tau kalau dia itu Kristiani.

(Kiri-Kanan) Neng Elis Aisyah, Mbak Anindita, Mas Zainal, dan Mbak Lusi.
Photo diambil pada saati briefing di Australia Embassy Jakarta tanggal 8 Juni 2012.

Bagi saya hal ini sangat luar biasa. Seorang yang beragama Kristen tapi mengurus program yang sangat erat kaitannya dengan Islam. Meskipun ini tuntutan kerja, namun yang namanya faith tentu saja cenderung seseorang untuk bersikap self-fish.

Namun hebatnya Mbak Anindita memberikan pelayanan yang sangat prima kepada kita, terutama saya pribadi tidak ada keluhan dari segi pelayanan. dari proses yang terjadi sama sekali tidak ada dipengaruhi dengan beda kepercayaan yang dianut oleh Mbak Anindita. Dan mungkin inilah yang mereka sebut “Profesionalisme”.

Dan inilah pelajaran penting bagi saya dan mungkin juga bagi anda para pembaca. Seyogiayanya tidak ada pandang bulu dalam melayani. Seharusnya kita menghormati orang bukan karena kita seide dengan dia. Bukan juga kita senang dengan dia hanya karena kita tidak pernah dibantah dalam berpendapat dengan dia. Atau tidak juga kita membela seseorang hanya karena dia sealiran dengan kita. Dan sebagainya.

Namun seharusnya kita dituntut untuk tetap membantu, saling menghormati, menghargai, berkontribusi, dan berdedikasi tanpa melihat beda kepercayaan, pandangan politik, mazhab yang dianut, apalagi hanya karena beda strata sosial. Terlebih lagi dalam dunia kerja yang dituntut profesionalisme dimana nilai-nilainya harus benar-benar dipraktekkan. Ini yang pelajaran penting pertama bagi saya.

Kedua, sudah saatnya kita sebagai ummat Muslim yang baik untuk membuka diri (open-minded) dengan mempraktekkan nilai-nilai toleransi misalnya. Disamping itu juga, sudah saatnya kita harus siap untuk berbeda tidak hanya dalam bidang ekonomi, politik dan sosial budaya namun juga menerima perbedaan dalam kepercayaan.

Apabila kita ingin berdakwah untuk meyakinkan terhadap kebenaran ajaran agama kita, tidaklah seksi lagi mengedepankan jalan-jalan kekerasan, konfrontatif, fanatic, dan sebagainya. Jalan-jalan yang lebih soft mungkin secara perlahan akan menimbulkan inner-awareness dari target kita dan menurut saya itu akan jauh lebih bertahan lama dibandingkan dengan paksaan dan instan.

Dalam point terakhir ini saya teringat dengan catatan Ahmad Wahib dalam bukunya Pergolakan Pemikiran Islam. Beliau sempat menulis,
“Bagi kita,
Teis dan ateis bisa berkumpul
Muslim dan Kristiani bisa bercanda,
Artis dan elit bisa bergurau.

Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan.
Tapi,
Pluralisme dan anti pluralisme tak bisa bertemu”

Semoga ada manfaatnya buat anda!!!

Photo ini diambil di Rumah Dr. Eeqbal (3 kiri).
Dia adalah Host kami selama di Melbourne.
Foto tersebut diambil tanggal 11 Juni 2012.

May 28, 2012

Pilihan Ungkapan dalam Catatan Harian Ahmad Wahib [1]

Baca ini Dulu YA!!!
Dibawah ini adalah ungkapan, catatan, pernyataan, dan kutipan yang saya ambil dari Buku Catatan Harian Ahmad Wahib (Pergolakan dan Pemikiran Islam). Menurut Saya ungkapan-ungkapan dibawah ini mempunyai nilai positif dan dapat menyuplai nilai-nilai kebijaksanaan, keramahtamahan, toleransi, dan semuanya itu bersifat konstruktif.

Alasan kenapa Saya memposting di blog, supaya manfaatnya juga bisa didapatkan oleh para narablog dan readers. Kekurangannya dari postingan ungkapan-ungkapan ini adalah interprestasi beragam dari netters atau bisa juga menimbulkan beragam pertanyaan yang menuntut penjelesan lebih lanjut dari ungkapan tersebut. Saya sangat sadar akan potensi itu, karena catatan-catatan dibawah ini ada yang bersifat potongan kalimat, ungkapan langsung dari Ahmad Wahib dan ungkapan dari sumber kedua,dan kesemuanya itu tidak saya catat seluruhnya.

Saya punya alasan substansial menyangkut hal ini. Pertama, dengan timbulnya kebingungan dan kecurigaan untuk ingin tau lebih jauh (curiosity) maka anda akan berusaha untuk aktif dan mencari, artinya anda tidak lagi menunggu dan pasif. Kedua, Saya yakin kalau anda sudah membaca potongan-potongan catatan Ahmad Wahib akan memancing adrenalin anda untuk mengetahui catatan-catatan dia lebih lanjut. Ketiga, Untuk menjawab curiosity anda, saya yakin anda akan mencari referensi atau buku catatan Ahmad Wahib. Keempat, akan semakin bertambahnya orang-orang mengenal dan mengetahui Pemikiran-Pemikiran Ahmad Wahib. Dan Terakhir, harapan saya semoga saja dengan semakin banyaknya pembaca buku pemikiran-pemikiran Ahmad Wahib, akan semakin banyak yang mengetahui betapa hebatnya ide dan pemikiran dia tidak hanya tentang Agama, tetapi juga ekonomi, politik, dan budaya-sosial sehingga nilai-nilai pluralisme akan semakin membumi di Indonesia,setidaknya bagi penganut agama Islam. Amin….


Catatan Penting, setiap ungkapan saya ikut sertakan juga nomor halaman dimana ungkapan itu saya ambil dari bukunya.

Catatan ini akan terus bertambah, seiring saya menyelesaika bacaan buku Ahmad Wahib.

Untuk Mengetahui lebih lanjut tentang Ahmad Wahib, Silakan Anda Biograpinya di blog Sayembara Ahmad Wahib 2012 http://ahmadwahib.com.

Kalau Anda Ingin Membaca Catatan dari Pergolakan Pribadi Saya dari Membaca Buku Ahmad Wahib, silakan anda baca di [Jangan Baca]_Part 1 atau Click HERE.

Selamat Merenung!!!

May 03, 2012

Catatan-Catatan dan Pilihan Kalimat dari Novel "Negeri 5 Menara"


Catatan-Catatan di bawah ini adalah beberapa ungkapan yang Saya ambil dari Novel Trilogi "Negeri 5 Menara" karya Ahmad Fuadi.


Menurut Saya penting dan bermanfaat kalau dibaca dan diintegralisasikan dalam diri pembaca. Tujuan Saya posting catatan ini;
[1] Untuk mendokumentasikan catatan Saya.
[2] Supaya manfaatnya tidak hanya buat pribadi Saya tetapi juga buat semua permbaca.

Catatan-catatan ini terdiri dari kutipan langsung yang saya ambil, atau substansinya saja, atau potongan kalimatnya, atau potongan dialog dalam novel.

Selamat Merenung!





***
  1. Orang-orang yang berilmu dan baradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang  ~ Pesan Imam Syafi’I. [211]

  2. Jangan puas jadi pegawai, jadilah orang yang punya pegawai . [395]

  3. Dulu jual mengkudu, sekarang jual durian, dulu tidak laku, sekarang jadi rebutan. [393]

  4. Pasang Surut suatu Dinasti mengikuti hukum universal. Menurut hukum itu, suatu budaya baru selalu dimulai dari semangat solidaritas kelompok yang sangat kuat. Kelompok ini lalu menjadi penguasa dan membangun budaya dan peradaban yang kokok.   Tapi begitu kekuasaan terbentuk, mereka menhadi lengah, muncul kecumburuan dan satu sama lain berebut kekuasaan. Fase berikutnya, mereka menjadi lemah dan gampang ditaklukkan oleh kelompok baru. Yang punya semangat solidaritas  kelompok yang lebih baru lagi, seperti yang pernah mereka punyai dulu. Dan siklus ini terjadi berkali-kali. Ambruknya peradaban Islam di Spanyoe juga terjadi karena kesalahan yang sama. ~ Ibnu Khaldu (abad ke 13 di Spanyol) dalam bukunya “Mukaddimah”.  Dia adalah ahli hukum, sejarah, sosiologi, dan filsuf. [390]


  5. Dinasti-Dinasti:
    • Dinasti  Nasrid di Spanyol
    • Safavid di Iran
    • Mogul di India
    • Ottoman di Anatolia, Syiria, Afrika dan Timur Tengah. [390]

  6. Ibnu Rusyd lahir di Spanyol pada abad ke 12. Nama eropanya Averrous. Dia adalah ahli hukum, aritmatika dan kedokteran.  Ikut berperan mempengaruhi filosofi pemikiran Thomas Aquinas dan Albert the Great. [389]

  7. Bagi kita disini, seni penting untuk menyelaraskan jiwa dan mengekspresikan kreatifitas dan keindahan. [34]

  8. Pendidikan di Pondok Madani tidak membedakan agama dan non agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Di Madani, agama adalah oksigen, dia ada di mana-mana. [35]

  9. Man jadda wajada

  10. Mari kita dekap penderitaan dan berjuang keras menuntut ilmu, supaya kita semakin kuat lahir dan batin. [49]

  11. Beruntunglah kalean sebagai penuntut ilmu karena Tuhan memudahkan jalan ke Syurga, malaikat membentangkan sayap buat kalian, bahkan penghuni langit dan bumi sampai ikan paus di lautan memintakan ampun bagi orag berilmu. Reguklah ilmu di sini dengan membuka pikiran, mata, dan hati kalean. [51]

  12. Bahasa ASING adalah anak kunci jendela dunia [51]

  13. Tolong hukuman ini diterima dengan ikhlas sebagai bagian dari pendidikan. [76]


  14. Mandirilah maka kamu akan jadi orang merdeka dan maju [76]

  15. Ketek  banamo, gadang begala. Kecil diberi nama, dewasa diberi gelar. [98]

  16. Man Shabara zhafira. Siapa yang bersabar akan beruntung. [107]

  17. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang kita tuju bukan masa sekarang, tapi ada yang lebih besar dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misnya dalam hidup [106]

  18. Going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata [107]

  19. Jangan  pernah mengizinkan orang diri kalian dipengaruhi oleh unsure di luar kalean. [107]

  20. Hati yang selalu bisa dikuasai pemiliknya adalah hati orang sukses. [108]

  21. Jangan berharap dunia berubah, tapi diri kita lah yang harus berubah. [158]

  22. Ilmu bagai nur, sinar. Dan sinar tidak bisa datang dan ada di tempat yang gelap. Karena itu bersihkan hati dan kepalamu, supaya sinar itu bsia datang, menyentuh, dan menerangi kalbu kalian semua. [190]

  23. Tuhan bisa mendatangkan rezeki kapada manusia dari jalan yang tidak pernah kita sangka-sangka. [205]
     
  24. Dulu jual paku sekarang rambutan, dulu tidak laku sekarang jadi rebutan. [232]
     
  25. Belajar keras adalah gaya hidup yang fun, hebat dan selalu dikagumi. [264]
     
  26. Ikatlah ilmu dengan mencatatnya ~ Pesan Sayidina Ali. [265]
     
  27. I’malu fauqa ma’amilu. Berbuat lebih dari apa yang diperbuat oran. [267]
     
  28. Apabila orang masuk sekolah agama hanya karena tidak lulus ujian masuk sekolah umum, bagaimana kita bisa mengharapkan ahli agama yang cemerlang kalau yang belajar ilmu agama itu banyak dari orang-orang terbuang? [312]
     
  29. Disini adalah tempat memberikan jasa, bukan minta dan mengingat jasa. [353]
     
  30. Setiap barang yang pernah ada di suatu tempat dan kemudian dipindahkan, maka masih ada jejak aura di tempatnya semula. [368].
     
  31. Allahumma zidna ilman warzuqna fahman. Tuhan tambahkanlah ilmy kepada kami dan anugerahkanlah pemahaman kepada kami. [379]
     
  32. Inti hidup adalah kombinasi niat ikhlas, kerja keras,  do’a, dan tawakkal. [382]
     
  33. Saajtahidu fauqa mustawa al- akhar. Berjuanglah dengan usaha di atas rata-rata yang dilakukan oleh orang lain. Filosofinya sedikit saja lebih dari orang lain [383]
     
  34. Napoleon Bonaparte tidak pernah mau ikut ujian. [393]
     
  35. Syair Abu Nawas:
    Wahai Tuhanku…Aku sebetulnya tak layak masuk syurgaMU,
    Tapi, …aku juga tak sanggup menahan amuk nerakaMu,
    Karena itu mohon terima taubatku ampunkan dosaku,
    Sesungguhnya Engkaulah maha pengampun dosa-dosa besar
    Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasit
    Maka berilah ampunkan oh Tuhanku yang maha agung

    Setiap hari umurku terus berkurang
    Sedangkan dosaku terus menggunung,
    Bagaimana aku menaggungkannya?

    Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini
    Datang bersimpuh ke hadapanMu
    Mengakui segala dosaku
    Mengadu dan memohon kepada-Mu

    Kalau Engkau ampuni itu karena
    Engkau sajalah yang bisa mengampuni
    Tapi kalau Engkau tolak, kepada siapa lagi kami mohon
    Ampun selain kepadaMu???

    [143-144]
  36. Apa yang kamu lihat, kami dengar, kami rasakan, kami adalah pendidikan [145]





 
Web developed by Eka.aSOKA.web.id | Domain Host by aSOKAhost.com
Follow @MuehammadAdam