Showing posts with label mc-publishing-articles. Show all posts
Showing posts with label mc-publishing-articles. Show all posts

November 18, 2012

Kalau Aku Jadi Ketua KPK, Aku Akan Batasi Transaksi Tunai

Banyak kasus korupsi bermodus transaksi tunai seperti kasus suap Bupati Buol, Jaksa Urip, Kepala Kantor Pajak Bogor, Petugas Bea Cukai, Hakim Imas Dianasari, Hakim Tipikor di Semarang, dan sederatan kasus tertangkap tangan lainnya oleh KPK ketika sedang melakukan transaksi tunai.
Photo Saya Ambil dari http://blogs.thenews.com.pk
Belajar pada kasus-kasus tersebut, saya akan mengadvokasi regulasi yang mengatur tentang pembatasan transaksi tunai. Saya sepakat dengan Bang Napi yang mengampanyekan untuk waspada karena kejahatan terjadi bukan karena ada niat tetapi karena ada kesempatan. Dengan melakukan pembatasan, maka ruang-ruang untuk korupsi akan semakin sempit. Ketika kesempatan semakin terbatas, secara otomatis praktek korupsi akan semakin berkurang. Inilah semangat preventive actions yang akan saya wujudkan.

Untuk mewujudkan good-will tersebut, Saya yakin tidak mudah karena banyak pihak yang melakukan upaya resistensi. Untuk itu, melakukan pendekatan dengan Presiden dan lobbying ke DPR untuk melahirkan payung hukum adalah keniscayaan. Disamping itu, membangun kerjasama dengan instansi lain seperti Menkeu, BI, PPATK adalah langkah strategis. Pada saat sinergisitas dengan lembaga-lembaga tersebut termasuk pihak penegak hukum, terutama polri terbangun langgeng dengan mengedepankan prinsip mutual respect dan benefits, saya yakin akan mendapat dukungan penuh. Pada titik ini, maka tidak akan muncul percekcokan antara sesama penegak hukum, tidak ada istilah cicak-buaya jilid 3, 4, 5, dan seterusnya.

Terlepas dari itu, dengan wewenang dan kekuatan yang dimiliki oleh KPK seperti tercantum dalam UU No 30 Tahun 2002, maka saya yakin langkah untuk membatasi transaksi tunai akan segera terwujud ketika kepemimpinan berada di tangan Saya.

October 10, 2012

#Opini_Ramadhan dan Toleransi (Sisa Ramadhan)

Bagi kita,
Teis dan ateis bisa berkumpul
Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan elit bisa bergurau.
Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan.
Tapi,
Pluralisme dan anti pluralisme tak bisa bertemu.

Photo from naturemoms.com
Begitu tulis Ahmad Wahib dalam catatannya tanggal 16 Agustus 1969. Dalam banyak catatannya, Ahmad Wahib sangat menekankan pada nilai-nilai toleransi dan pluralisme. Kalau Ahmad Wahib meninggalkan pesan toleransi dalam catatanya yang sudah dibukukan, bulan ramadhan juga mengajarkan kita esensi toleransi yang tidak tertulis melalui berbagai praktek ibadah.

Perbedaan dalam memulai hari pertama ramadhan saja sudah menunjukkan bahwa ramadhan adalah media untuk mempraktekkan toleransi. Hampir setiap tahunnya, ada banyak kelompok di seluruh seantaro Indonesia memulai puasa ramadhan di hari yang berbeda. Tahun 1433 Hijriah kali ini, ada kelompok Islam yang puasa hari pertama tanggal 20 Juli dan kelompok lainnya berpuasa pada hari sabtu, 21 Juli 2012.

Pihak yang memulai lebih awal pasti mempunyai alasan dan landasan tersendiri, sedangkan kelompok yang berpuasa pada hari berikutnya juga bersandar pada kepercayaan dan kelompoknya. Kita patut bersyukur kalau perbedaan dalam mengambil hari pertama bulan ramadhan tahun ini tidak diwarnai dengan perdebatan yang berakhir anarkis.
A photo from demotivatedposters.com
Praktek selanjutnya yang penuh dengan nilai-nilai toleransi adalah ibadah shalat terawih. Ibadah yang satu ini mengajarkan ummat muslim nilai toleransi dalam prakteknya. Sudah berpuluhan tahun di Indonesia, praktek terawih yang dilakukan setelah shalat isya tersebut berbeda jumlah rakaatnya antara penganut ummat Islam sendiri.

Banyak masyarakat yang shalat dua puluh rakaat, namun tidak sedikit juga yang shalat delapan rakaat. Menariknya banyak rumah ibadah seperti Musallah, Surau, Mesjid, Musalla, dan sebagainya yang mempraktekkan shalat delapan dan dua puluh rakaat pada saat bersamaan di dalam satu tempat ibadah.

Mesjid Baiturrahman Aceh adalah salah satu buktinya. Di Mesjid yang terletak di pusat kota Banda Aceh ini mempunyai dua model jama’ah terawih. Ketika sudah selesai delapan rakaat shalat terawih, kelompok yang dua puluh rakaat keluar dari barisan dan mempersilakan kelompok delapan rakaat untuk melanjutkan dengan shalat witir sebanyak tiga rakaat.

Setelah selesai shalat witir, dilanjutkan oleh jamaah yang shalat dua puluh rakaat, dan giliran kelompok yang delapan keluar dari barisan shalat. Menariknya, jumlah jamaah yang dua puluh rakaat lebih banyak secara kuantitas dibandingkan dengan pengikut delapan rakaat. Namun mereka mau “mengalah” dengan jumlah yang lebih kecil.

Hebatnya lagi, ketika mulai shalat isya hingga delapan rakaat, kelompok delapan dan dua puluh melakukannya dalam satu jama’ah. Artinya tidak dipisahkan antara dua kelompok tersebut. Tidak hanya itu, panitia mesjidpun mempersiapkan dua imam shalat yang memiliki tanggung jawab berbeda setiap malamnya. Shalat witir jama’ah yang delapan dan dua puluh rakaat dipimpin oleh imam yang berbeda. Ketika selesai kelompok yang delapan rakaat, maka imampun diganti untuk kelompok dua puluh rakaat yang melanjutkan dua belas rakaat shalat terawih dan tiga rakaat witir.

Cara melakukan ibadah terawih di mesjid Baiturrahman yang jamaahnya mencapai ribuan setiap malamnya adalah manfaat nyata dari implementasi nilai-nilai toleransi. Sepengetahuan saya, praktek seperti di Baiturrahman tidak hanya ada di satu mesjid, namun banyak tempat ibadah lainnya yang menjalankan model serupa. Ibadah ini menunjukkan betapa beragamnya masyarakat Indonesia. Agama yang berfungsi sebagai payung bertugas untuk melindungi penganutnya dalam berbagai hal, termasuk juga kebebebasan dalam beribadah.

Kalau kita melihat praktek ibadah terawih, begitu toleransinya Indonesia. hidup terasa sangat indah ketika toleransi itu diimplementasikan dengan sebenarnya. Bayangkan kalau saja ada kelompok masyarakat yang tidak bisa menerima perbedaan dengan cara ibadah terawih, saya yakin setiap malam ada konflik, setiap malam ada tindakan-tindakan anarkis, bahkan tidak tertutup kemungkinan aka ada yang hilang nyawa kalau setiap malam bersiteru dengan jumlah rakaat shalat terawih.

Kalau kita tarik dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya setiap agama sangat menjunjung tinggi perbedaan. Perbedaan dalam memilih calon pemimpin, beda pilihan partai politik, beda pendapat dalam menanggapi isu atau setiap permasalahan. Seandainya perbedaan-perbedaan tersebut disikapi layaknya seperti menerima perbedaan dalam menjalankan ibadah terawih, saya yakin akan sangat indah.
photo from nittgritt.com
ketika perbedeaan disikapi dengan pikiran jernih, dan dikedepankan dialog atau diskusi, tidak ada kekerasan, tidak ada perusakan tempat-tempat umum, tidak ada perkelahian antar kelompok, tidak muncul kelompok yang membenci atau menolak organisasi tertentu dengan berbagai alasan, dan berbagai aksi-aksi lainnya yang selama ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kita berharap kalau kesediaan kita untuk menerima perbedaan dan mempraktekkan toleransi tidak hanya dalam ramadhan saja, tetapi juga pada bulan-bulan selanjutnya. Kalau agama saja menjunjung tinggi perbedaan, kenapa kita harus bertengkar? Atau kita ganti saja “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi “Bhinneka Tinggal Duka”.

Written by: Muhamamd Adam adalah Peserta Youth Muslim Exchange Program Indonesia-Australia 2012 dan Sekjend Komunitas Demokrasi Aceh Utara 2011.  

August 08, 2012

[Viva.co.id] Evolusi ala Viva

“Creativity starts when you cut a zero from your budget, if you cut two, much better”. Ungkapan yang sangat inspiratif dan penuh dengan nilai-nilai motivasi tersebut dinyatakan oleh Jeime Lerner.  Kata bijak yang keluar dari mulut mantan walikota Curitiba, Brazil ini selaras dengan semangat Viva yang berevolusi dari Viva.com menjadi Viva.co.id.

Substansi dari ungkapan diatas adalah semangat kreatifitas yang muncul ketika ada tantangan. Kreatifitas akan kosong ketika tidak ada hambatan dan tantangan. Sebenarnya Lerner ingin menyampaikan pesan kepada pekerja dan aktifis lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Brazil pada saat itu untuk tidak selalu bergantung pada donatur. Supaya ada perubahan, dia mengatakan “supaya anda kreatif, coba anda kurangi satu “nol” dari total anggaran anda, tapi kalau anda mau mengurangi dua “nol”, maka lebih baik”. Artinya ketika mendesak, mau tidak mau, anda harus kreatif, anda harus menciptkan perubahan. Semakin besar desakan, semakin pula usaha anda untuk berkreasi. 

Menurut saya, perubahan situs viva juga membawa nilai dan semangat yang sama. Saya tidak bisa banyak menilai dari sisi konten, tampilan, dan sebagainya dalam wajah baru viva sekarang, karena saya tidak terlalu paham dengan dunia “IT”. Tapi sebagai orang yang mengambil mengkonsumsi dan manfaat dari viva selama ini, saya berpikir ada lesson-learned penting yang bisa saya ambil pelajarannya yaitu semangat untuk menciptakan perubahan karena tuntutan.



Persaingan tidak selamanya memberi dampak negative, justru sebaliknya tidak sedikit maha karya besar lahir ketika ada kompetisi. Banyak tokoh-tokoh besar dunia lahir dengan berbagai keterbatasan baik ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Namun keterbatasan tersebut justru menjadi inner-power mereka untuk berubah dan sukses.

Kreatifitas dan inovasi situs Viva.co.id yang mengalami perubahan hampir secara total dalam semua aspek tersebut juga lahir karena persaingan dalam dunia industry berita online. Pada saat ini, pertumbuhan media massa online di alam maya berkembang begitu pesat, dengan menyajikan informasis secara lebih cepat dan akurat, semuanya berlomba menjadi yang terhebat. Pertanyaanya, kalau viva tetap mempertahankan dengan gaya dan bentuk yang lamanya tanpa berusaha menciptakan inovasi baru, akankah viva mampu survive?. Kalaupun tidak mati, hiduppun akan segan pastinya.

Kalau kita mau tarik kedalan ruang lingkup yang lebih luas, sebenarnya hampir di semua lini kehidupan kita juga berlaku hukum yang sama. Ketika ada kompetisi, maka akan muncul ide-ide dan gagasan-gagasan baru. Kita ingin berpacu ketika ada yang mengejar kita. Sebagai contoh, ketika ada China-ASEAN Free Trade Area (CAFTA) ditandatangani, banyak pengusaha-pengusaha Indonesia yang berjuang lebih keras, menciptakan inovasi-inovasi baru, meningkatkan produktifitas, meminimalisir biaya produksi, membangun pasar yang lebih luas, meningkatkan layanan konsumen, nah meskipun ada yang kalah cepat dengan pengusaha China, namun tidak sedikit juga yang mampu bersaing dengan pedagang dan pengusaha dari China. Apalagi didukung dengan keseriusan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kemampuan daya saing pengusaha Indonesia. Salah satu dukungannya seperti diberitakan oleh Viva.co.id. (saat itu masih Viva.com) tanggal 23 Juni 2010 bahwa pemerintah menggelar Pameran yang bertama "Ready for CAFTA, Through Fostering Indonesia Industry" sebagai ajang untuk memamerkan produk Indonesia ke pasar International.

Contoh sederhana lainnya adalah kompetisi yang terjadi diantara pelajar untuk memperebutkan juara atau prestasi. Semakin ketat persaingan yang ada, maka akan semakin rajin pula siswa untuk belajar, lebih banyak membaca, memperbaiki sikap, disiplin dalam menyerahkan pekerjaan rumah, dan sejenisnya. Dampaknya besar sekali yaitu meningkatnya kualitas siswa-siswa yang tidak mau ketinggalan apalagi kalah dengan kawan sekelasnya.

Dalam konteks persaingan,  Bapak Ekonomi dunia, Adam Smith, mengatakan laissez faire (persaingan bebas) artinya siapa yang qualified dan berkualitas, maka akan menang. Saya tidak ingin terburu-buru mengclaim kalau Viva sudah menang atau terdepan dibandingkan dengan situs-situs berita lainnya di dunia maya, namun kualitas tersebutlah yang hari ini ditunjukkan oleh Viva. Dengan perubahannya yang baru, tampilannya lebih bagus, tingkat kelengkapan beritanya semakin maksimal, keberagamannya semakin berwarna, dan segudang kemajuan lainnya. Capain dan kualitas seperti yang dimiliki viva hari ini, tentu bukan hasil kerja semalam atau semudah mengambil jemuran. Namun viva sudah mengalami proses yang panjang, perancanaan yang matang, survey pasar yang lama, pertimbangan kelebihan dan kekurangan yang pasti, diskusi dan perdebatan yang panjang, dan segenap persiapan lainnya.

Viva bergerak karena ada persaingan, viva bekerja keras karena ada lawan.  Sekarang viva sudah berovolusi dengan berbagai inovasi dan kreasi yang siap saji, dan inilah Evolusi ala Viva. Selamat Berevolusi Vivaku. I love you!!!


July 07, 2012

[Episode 12_Note for MEP Australia] Amanah Sukarno di Negeri Kangguru

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Rabu 13 Juni 2012 // 03.02 Melbourne Time.

Adam berdiri photo disamping "Bali Memorial".
Ada ukiran nama-nama yang nyawanya hilang pada saat Bom Bali.
Photo diambil oleh Lusi pada tanggal 15 Juni 2012.


Di hari kedua, kami memulai aktifitas dengan mengunjungi Musium Imigran terbesar yang terletak di Kota Melbourne. Setalah Eeqbal membayar kami 10 dolar Australia untuk setiap orang, kami langsung menulusuri semua ruang yang mempunyai tiga lantai tersebut.

Dari setiap ruang yang saya masuk, saya merasa seperti kembali pada masa abad lampau. Betapa tidak, semua barang yang saya lihat adalah barang-barang yang digunakan oleh para imigrasi yang datang ke Australia mulai ratusan, bahkan ribuan tahun lalu.

Memang faktanya Australia adalah homelands of Migrant. Orang dari ratusan Negara berimigrasi ke Australia dari dahulunya. Dan ini juga yang membuat Australia begitu kaya dalam budaya dan bahasa, meskipun first language mereka adalah Bahasa Inggris.

Di ruang pertama, saya melihat koper zaman dahulu yang masih menggunakan belahan kayu tebal-tebal dan besar. Saya masuk ke ruang tengah di lantai 2, ada sejumlah photo-photo ummat muslim yang berimigrasi ke Australia, selanjutnya saya melihat ada ratusan passport dari Negara-negara yang berbeda dipajang di salah satu ruang dalam museum tersebut.

Ketika saya masuk ke ruang tengah di lantai 2, ada kapal laut yang dilengkapi dengan kasur, ruang rapat, jam, cangkir, goni-goni, dan sejenisnya dengan arsitektur yang membuat pengunjung seperti berada di jazam aslinya apalagi ditambah dengan audio-audio suara ombak, suara orang ikut rapat, anak nangis, dan sebagainya.  Menarikanya ada juga dokemntasi imigran Indonesia yang berasal dari Malang yang sudah menjadi penduduk permanent Australia semenjak tahun 1999.

Ada yang penting untuk kita pelajari dan anda para bloggers, netters, dan readers yaitu belajar untuk menghargai pentingnya sejarah. Sejarah penting untuk mengingat masa lalu dan untuk dijadikan kebanggaan sekaligus pelajaran pada sekarang untuk kemudian digunakan pada saat mendatang.

Banyak bukti, sejarah kita diotak-otik dan kita tidak punya dokumentasi dan data yang valid. Di Aceh misalkan, tidak ada cerita yang jelas tentang kisah perjuangan Cut Mutia, hanya 1 atau 2 orang yang bisa baca semua tulisan Persia yang ada di Nissan Sultan Malikussaleh, tidak sedikit generasi muda yang tidak ingat lagi kapan tsunami terjadi, dan sebagainya.

Akibat kekurangan pengetahuan dan bukti sejarah yang ada, akhirnya kita mudah dipengaruhi...sebagai contoh, sekarang hamper semua orang membenci PKI di Indonesia, namun berapa banyak yang tau tentang idiologi dan perkembangan PKI di Indonesia…resiko lainnya adalah sering orang mengatakan kalau anda ingin mengetahui tentang sejarah Indonesia, anda belajar ke Belanda. karena disana ada bukti-bukti fisik "Ke-Indonesiaan" terdahulu. Coba anda pikirkan dengan normal, apa gak tersentuh nasionalisme anda, kalau di Belanda ternyata lebih banyak bukti-bukti sejarah dibandingkan di Indonesia?

Dalam kondisi seperti itu, dilihat secara ekonomi, orang Belanda jelas mendapatkan manfaatnya. Semakin banyak yang datang, melihat, dan belajar kesana seperti peniliti, akan semakin banyak keuntungang yang mereka dapatkan. Dari sisi ekonomi-wisata juga bisa mengeruk banyak dolar, saya belum pernah ke Belanda, tapi asumsi saya, apabila kita ingin masuk ke Museum mereka pasti harus bayar atau beli tiket. sudah berapa tahun benda-benda Indonesia dipamerkan di Museum mereka? sudah berapa ribu bahkan jutaan orang yang datang dan melihatnya? sudah berapa juta tiket terjual? manfaat itu semua untuk Belanda...bukan Indonesia...belum lagi dari Prestis sebuah bangsa, Belanda juga secara tidak langsung juga masih menjajah Indonesia. Toh buktinya benda-benda itu tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Tidak hanya itu, dalam kontek proses belajar mengajar, dengan adanya museum-museum yang menyimpan benda-benda penting sejarah, juga dapat dijadikan "alat" untuk mengajarkan sejarah tempo dulu kepada generasi muda, terutama pelajar. Ketika kami kunjungi Immigration Museum tersebut di Australia, ada ratusan anak-anak sekolah yang didampingi gurunya melakukan field-trip learning ke Museum. artinya dengan mereka mengharagai sejarah, manfaatnya tidak hanya secara ekonomi, menarik wisatawan, tetapi juga bisa menjadi tempat buat generasi selanjutnya belajar. luar biasa!!!

Dr. Eeqbal mengabadikan kunjungan kami Immigration Museum pada tanggal 12 Juni 2012.

Sebagai informasi saja, ketika saya berkunjung ke Amerika tahun 2010, saya juga melihat hal yang sama disana. Saya pernah mengunjungi Museum yang isinya cuma fossil binatang atau kerangka binatang yang sudah diawetkan. Saya pernah diajak ke Museum Perang Amerika. dan masih banyak lagi museum-museum yang ada disana.

Pertanyaannya sekarang, ada berapa banyak Museum di Indonesia? seberapa besar kita mengahargai sejarah? sebarapa penting, kisah-kisah perjuangan terdahulu buat kita sekarang? apakah kita pernah berpikir, bahwa kita hari ini berkat perjuangan dan rintisan mereka terdahulu?. Untuk binatang saja yang sampai hari ini masih ada keturunannya, tapi mereka tetap mengharganya. Bagaimana dengan ribuan nyawa manusia yang hilang dengan musibah alam, gempa dan tsunami di Aceh?. Semoga saja museum Tsunami di Banda Aceh dapat mencontohi apa yang mereka lakukan. (Ditambahkan pada saat posting)

Karenanya Sukarnoe yang begitu futuristik (berpikir ke depan) sudah berpesan kepada kita puluhan tahun lalu,,,,J.A.S.M.E.R.A.H…jangan sesekali melupakan sejarah. Namun sayangnya pesan tersebut tidak didengar oleh orang Indonesia, justru didengar oleh Kangguru di Australia!!!

Semoga Bermanfaat!

Ini adalah suasan jamuan Makan Malam dengan Consulate Jendral Indonesia di Melbourne.
Photo diabadikan tanggal 15 Juni 2012.


[Episode 10_Note for MEP Australia] Teaching by Leading

Written in:
Darling Towers, Melbourne.
Rabu, 13 Juni 2012 // 02.07 Melbourne Time.

Photo diambil oleh Mas SidQie ketika sedang berlangsung pertemuan dengan Board of Imam Victoria
tanggal 16 Juni 2012.


Setelah tiba di rumah Eeqbal Hassiem dari Bandara pada hari pertama tanggal 11 Juni 2012 sekitar pukul 10 waktu Australia. Eeqbal dan Istrinya berdiskusi banyak hal dengan kami. Salah satu topic yang menjadi atensi penting kita adalah pola pendidikan.

Ada perbedaan signifikan antara pendidikan yang ada di Indonesia dan Australia yang mungkin bisa anda petik pelajarannya juga. Perbedaan utama itu ada seputar nilai (value) atau yang terkenal di Indonesia itu Pendidikan Berkarakter.

Perbedaanya ada pada proses belajar mengajar. Di Australia, peserta didik tidak diajarkan bahwa Agama ini atau itu mewajibkan makhluknya untuk berperillaku sabar, jujur, disiplin, tolerasi, saling membantu, dan sebagainya. Tetapi mereka mendidik siswa untuk BERPIKIR KENAPA mereka HARUS bersikap sabar di lampu lalu lintas misalkan, atau kenapa mereka harus berlaku jujur pada saat membeli barang yang tidak ada penjualnya, atau mengajarkan kenapa Islam menyuruh perempuan untuk menutup aurat.

Mereka memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, untuk kemudian berpikir secara kritis KENAPA mereka harus melakukan ini, kenapa mereka dilarang melakukan itu, kenapa mereka tidak dihalalkan makan binatang ini, kenapa haram makan itu, dan sejenisnya. Model pembelajaran seperti ini mereka menyebutnya Inquiry-Based Learning.

Selanjutnya, di sekolah juga terjadi interaksi yang sangat berbeda dengan di sekolah kita pada umumnya antara guru dan murid. Anak-anak dapat menegur guru setiap kali berjumpa tanpa rasa takut, bertanya apa saja meskipun tidak ada hubungannya dengan pelajaran atau tema yang mereka pelajari, konsultasi tugas atau PR, bahkan bisa memeluk gurunya.  Tidak hanya itu, dalam hal-hal tertentu, adakalanya pendidik belajar dari peserta didik, artinya tidak selamanya pendidik mendidik peserta didik. Ada saling tukar menukar informasi dan pengetahuan, dan inilah sebenarnya esensi dari Learning and Teaching Process atau Proses Belajar Mengajar.

Pelajara Penting bagi anda bloggers, readears, dan netters dalam catatan kali ini adalah pentingnya memberi contoh. Tidak akan berefek, apalagi dalam waktu yang lama, apabila anda mengajarkan kesabaran, apabila anda sendiri sering marah kalau ada anak-anak yang tidak bisa menghafal rumus matematika. Tidak akan elok kelihatannya pada saat anda mengajarkan anak jangan merokok, tapi anda sendiri merokok dalam ruangan kelas. Atau juga anda mengajarkan disiplin, tapi anda sering masuk telat dan keluar cepat.

Praktek seperti ini, tidak akan berlangsung lama, dan tidak mendidik siswa untuk berubah sampai kepada tingkah laku mereka. namun anda harus mendidik mereka dengan mempraktekkannya juga, akan sangat bagus kalau anda bisa memberi contoh lebih duluan sebelum anda mengajarjan peserta didik anda. Dan inilah yang saya sebut dengan Teaching by Leading.!

Photo di dekat Lake Burley Griffin, Canberra.
Photo diambil oleh Mas Aan tanggal 19 Juni 2012.

Dalam hal ini, Orang Terpengaruh No 1 di Dunia dalam buku Michael Hart, Rasulullah kita, Muhammad SAW mengajarkan dan menyebarkan agama Islam juga dengan memberikan contoh. Islam mengatakan bahwa "Muhammad itu diutuskan sebagai suri tauladan". Dalam banyak kesempatan memang begitu prakteknya, Misalkan beliau membuang duri di Jalan, mengajarkan kesabaran dengan tidak membalas orang yang meludahinya atau yang ingin membunuhnya dengan pedang, mengajarkan keberanian pemimpin dengan selalu dibaris depan ketika berperang, dan pulang di baris belakang, dan Mengajarkan kedisiplinan dengan datang pertama ke Mesjid, dan masih banyak lagi tindakan-tindakan yang beliau lakukan itu menjadi teladan. Menurut saya, dalam kontek pendidikan, Rasulullah ingin mengajarkan kita bahwa Mengajar itu dengan memberi contoh terlebih dahulu. Again, teaching by leading.


Kondisi yang kontradiktif justru dipraktekkan oleh banyak orang di negeri kita dewasa ini. Misalkan Pemerintah, mengimbau Masyarakat Indonesia untuk cintai produk dalam negeri. Tapi pemerintah sendiri mulai dari tas, baju, hingga make upnya barang impor dari Paris. Suruh Rakyat konsumsi makanan traditional supaya meningkatkan pendapatan home-industry, tapi mereka makan fast-food yang pajaknya ke Amerika atau Israel. Suruh Rakyat mencintai lagu-lagu daerah dan nasional khas Indonesia, tapi mereka nonton jazz yang tiketnya 2.5 Juta/orang. Minta rakyat tingkatkan kepedulian terhadap sesama, saling menghargai, tapi DPR rapat di gedung rakyat yang LIVE berkelahi dan melempar botol aqua. Belum lagi kita bicara masalah Korupsi, kedisplinan, clean goverment, dan sebaginya. Masya Allah...masih banyak PR bangsa ini...dan ini menjadi tanggung jawab Saya, anda, dan kita semua, terutama generasi muda. !!! (Editing ketika posting)

Semoga bermanfaat!
Dinner dengan Artist dari Islamic Museum of Australia and Muslim Artist
di La Paella Restaurant, Melbourne tanggal 23 Juni 2012.



[Episode 8_Note for MEP Australia]_“Kantin Kejujuran” di Mesjid Melbourne

Written in:
Melbourne, 12 Juni 2012 // 23.15 Melbourne Time

Catatan:
Artikel di bawah ini awalnya saya kirimkan untuk Citizen Reporter ke Media Serambi Indonesia. Namun yang dimuat malah laporan saya berjudul "Merakyatnya DPR Australia" edisi 24 Juni 2012.
Lokasi photo ini di depan Darling Tower, Kota Melbourne, tempat kami nginap.
Photo diambil oleh Neng Elis pada tanggal 14 Juni 2012.


“Advanced Country does not need police”. Begitu salah satu ucapan Eeqbal Hassim, Ph. D dalam proses dialog di Islamic Victoria of Council (ICV) yang terletak di  sebelah barat Melbourne, Australia. 

Saya bersama empat delegasi lainnya dari seluruh Indonesia mendapat kesempatan untuk mengunjungi Australia dalam program Pertukaran Tokoh Muda Muslim antara Indonesia dan Australia (Muslim Exchange Program). Program yang didanai oleh Autralia Indonesia Institute (AII) ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkunjung ke Australia selama 14 hari.

Kami mempunyai kesempatan untuk mengunjungi beberapa organisasi Islam, Perguruan Tinggi, Akademisi, NGO, Peniliti, Guru Besar, aktivis, dan bahkan organsisasi atau komuntias non-muslim di 4 kota Australia yaitu Melbourne, Shepparton, Canberra, dan Sydney mulai tanggal 11-24 Juni 2012.

Pada hari pertama kemarin tanggal 11 Juni 2012, kami mengikuti diskusi singkat dengan Dr.Eeqbal Hassim di salah satu Mesjid yang ada di Kota Melbourne. Dr. Eeqbal sehari-hari mengajar di Universitas Melbourne untuk bidang Asian Studies. Disamping itu, pria yang kelahiran Singapura ini juga sebagai salah satu pengurus Mesjid Islamic Council of Victoria (ICV).

Ada yang langsung menarik perhatian kami ketika memasuki ICV di ruang utama yaitu adanya minuman dan makanan yang berada persis di samping pintu masuk. Awalnya saya pikir, itu minuman buat tamu-tamu yang berkunjung. Kemudian Dr. Eeqbal menjelaskan kalau makanan dan minuman tersebut untuk dijual.

Menariknya tidak ada penjualnya yang berdiri dekat kulkas dan rak makanannya, jadi kalau kita mau membeli, silakan meletakkan uang di atas meja yang sudah disediakan. Untuk anda ketahui, tempat minuman tersebut tidak sama seperti minuman-minuman yang dijual di Bandara yang dikunci rapi memakai serta camera CCTV dan anda harus memasukkan koin untuk bisa mengambil minumannya. dan sebelum meninggalkan Melbourne, Saya sempat diajak sama Mas Reza ke Mesjid,namanya Melbourne Madinah. Reza menjadi relawan di Cumminity Center pada devisi Mercy Mission Madinah, dan you know waht ???ternyata mereka juga punyan layanan sejenis itu. (Edit ketika posting).

Photo tersebut diambil oleh Mas Zainal di ICV.

Dr. Eeqbal menyebutnya dengan Istilah “Honesty Canteen” atau kalau di Indonesia kita sering mengatakan Kantin Kejujuran. Ketika Indonesia demam dengan kantin kejujuran, banyak sekolah-sekolah di Aceh juga ikut membuat kantin dengan konsep yang sama. Ada sekolah yang melakukannya dengan sangat serius, ada juga hanya karena tidak ingin dikatangan enggak ikut zaman atau hanya sekedar ikut-ikutan. Akibatnya banyak kantin kejujuran tersebut tidak bertahan lama, bahkan tidak sedikit yang sudah gulung tikar.

Ketika kami bertanya kenapa kantin tersebut bisa bertahan lama?. Eeqbal menceritakan banyak hal berkenaan tentang kejujuran yang bisa kita ambil pelajarannya. Alumnus Universitas Melbourne tersebut menjelaskan bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, kesabaran, saling menghargai, dan sebagainya sudah tertransfer kedalam perilaku setiap orang di Australia, dan bahkan sudah menjadi budaya. Artinya tidak lagi sebatas tiori yang dipelajari dari buku atau guru agama di sekolah formal, tapi sudah masuk ketahap praktek dan menjadi sikap.

Sebagai salah satu contoh, Eeqbal menyebutkan di persimpangan jalan raya. Di jalan-jalan raya yang banyak pernyeberangannya seperti simpang 4, 5, bahkan lebih, anda tidak akan melihat adanya polisi lalu lintas. Para pengendara mobil pasti tidak akan menerobos jalan atau melanggar lalu lintas, meskipun tidak ada orang atau mobil yang melintas, bahkan di malam hari. Karenanya tidak berlebihan kalau dia mengatakan “Negara maju tidak butuh polisi lalu lintas di persimpangan (Advance country does not police)”.

Contoh lainnya, Eeqbal menyebutkan, apabila ada tulisan “Selling Apples” di sebuah kebun, kemudian apel tersebut diletakkan dalam sebuah tempat lengkap dengan harga perkilogramnya, kebanyakan pemiliknya tidak menjaga apel tersebut. Menurut dia, jarang sekali, bahkan hampir tidak ada pembeli yang tidak meletakkan uangnya sesuai dengan jumlah apel yang diambilnya.

Terlepas dari sisi-sisi negative lainya, praktek-praktek seperti inilah yang kadang membuat kita ummat Muslim di Indonesia, terutama di Aceh untuk berkaca kepada Negara-negara barat seperti Australia. Sebagai salah satu bukti bahwa kita belum kaffah mempraktekka apa yang diajarkan oleh Islam tentang kejujuran, misalkan masih banyak sandal atau motor yang hilang di Mesjid.

Sebagai informasi tambahan tentang ICV, banyak Masyarakat Muslim Melbourne menyebutnya sabagai City Mosque atau Mesjid Kota. Banyak tempat-tempat ibadah ummat Islam di Australia, seperti ICV tidak hanya difungsikan untuk shalat jama’ah harian atau shalat terawih dan lebaran saja namun juga difungsikan untuk berbagai kegiatan-kegiatan lainnya baik bersifat sosial maupun keagamaan.

Ada mesjid yang mempunyai pusat-pusat study untuk gender, multikulturalisme antar agama, dan interfaith dialogue, namun ada juga mesjid yang mempunyai tim sepakbola, renang, bahkan piano. dan itu bermanfaat juga untuk mempersatukan masyarakat yang multi etnik, budaya, kebangsaan, strata sosial, dan bahasa. Di Australia ada sekitar 40 persen penduduknya baragama Islam, menariknya 2,5 persen diantara mereka berasal dari Indonesia. Sedangkan Melbourne sendiri saat ini memiliki 12.000 Muslim dari lebih 100 negara yang berbeda.

Semoga Bermanfaat ya!!!
Group Picture dengan Ibu Marianne Hale dari Korowa Anglican Girls' School di Melbourne.
Photo diambil oleh Mas Wawan pada tanggal 14 Juni 2012.

July 05, 2012

[Episode 6_Note for MEP Australia]_Yang Ditolak Hati, Itulah Dosa

Written in:
Jakarta, 10 June 2012 // 7.36 WIB


Latar photo adalah Victoria State Library di Melbourne.
Photo diambile Mas Ridha tanggal 13 Juni 2012.

Kemarin saya extremely exhausted mencari kebutuhan-kebutuhan sebagai persiapan untuk ke Australia. Untuk kali ini saya lumayan sibuk untuk mempersiapkan tetek bengek itu, mungkin karena terlalu phobia dengan winter kali ya…dasar kurus!!hee…

Setelah beli kepiting dan udang di Keramat Jati Jakarta yang membutuhkan 1 Jam perjalanan dari Kayu Manis untuk PP, terus masak udang asam pedhassss ala Aceh, kemudian saya dan N2N (nama kerennya), sahabat saya dari Aceh yang sudah menjadi pengurus di PB HMI keluar dan nongkrong di “7 Eleven”.

Sambil menikmati Kopi Moka Small Size, kita saling sharing dan berbagi cerita satu sama lain. Atmosphir di lantai 2 “7 Eleven” memang kurang bersahabat dengan saya, banyak banget anak-anak muda Jakarta yang lagi “dugem” sambil menikmati minuman. Bahkan saya sempat merasa minder, apa kita salah tempat ni ya? Tanyaku dalam hati. Masalahnya semua tamu lain pada ngerokok, bahkan cewek2nya juga smoking. Dan hanya kawan saya itu yang memakai jilbab. Karena jam sudah menunjukkan sekitar pukul 11.30 Malam, akhirnya kita tetap duduk di situ, g munkin cari tempat lain..

Meskipun kondisinya kurang bersahabat, namun tidak membuat “diskusi ringan” kami terganggu, malah kami tidak care dengan kondisi di sebelah yang lagi ha ho hi sesama mereka. kita bercerita banyak sekali mulai dari pendidikan, target tahun ini, masalah yang kita hadapi, kondisi sekarang, keuangan, dan yang paling lama itu ketika ngomongin tentang hati. Hoooooooooo….cinta cinta cinta…..

N2N bercerita banyak apa yang dia rasakan tentang dunia cinta dia sekarang. Dari gaya dia bercerita, kata-kata yang dia gunakan, saya dapat menilai bahwa dia begitu cinta dengan pria yang sedang menjalin hubungan dengan dia sekarang. Setiap kali saya sampaikan asumsi-asumsi negative saya terhadap pria tersebut, selalu dia nyangkal dengan fakta-fakta yang dia alami bersama sang pria..ya…memang begitulah cinta, kalau sudah cinta mau dikatakan apapun ya tetap cinta…dan menurut N2N dia sudah komit untuk melanjutkan hubungan yang serius dengan pria tersebut, bahkan target untuk menikah. Amin…May Allah blesses you sister!!!

Memang dilihat dari segi umur dia sudah saatnya untuk membina keluarga..umurnya sekarang sudah 25 tahun. Terlebih dia lagi ngomong semalam, kalau dia ingin punya anak dan ingin mangasuhnya. Saya suka dengan kekhwatiran dia, kalau dia terlalu lama menunda untuk merid, takutnya akan tiba rasa bosan dan tidak mau merid lagi. Wow,,,,emang ada yang tiba pada titik itu???entahlah, dia itu wanita, wajar mengkhawatirkan hal itu.

Sebenarnya saya pribadi juga ada mengalami hal-hal yang kadang membuat saya bosan. Di sekolah misalkan, dahulunya saya sering banget manggil anak-anak yang nakal dan berprestasi untuk saya nasehati, beri motivasi, cerita pengalaman hidup, cerita perkemabangan dunia luar, persaingan yang semakin ketat, pertumbuhan arus teknologi yang begitu pesat, dan sebagainya. Namun setahun terakhir ini, entah kenapa saya merasa malas banget untuk melakukan hal seperti itu, marasa bosan, merasa tidak ada manfaat, dan merasa jenuh.  Mungkin kondisi seperti itu yang dikhawatirkan oleh N2N…

Ayoeeeeeee Adam..apa poin menarik yang ingin disampaikan kali ini????can’t wait???
Okelah kalau begitu..okelah kalau begitu…okelah kalau begitu…ayoe lagu siapa itu? Kalau bisa jawab, dapat hadiah title “Pengamat Musik” dari saya. he…

Well…ketika saya bercerita ke N2N bahwa saya sedang mengalami masa-masa transisi setelah selesai kuliah S1, yang terkadang membuat saya inferior, kurang percaya diri, tidak mensyukuri atas capain-capain saya, dan masih banyak lagi dilemma pribadi.

Dari sharing kita yang semakin lama semakin hangat, sampailah pada titik “hati”, menurut N2N rasionalitas akan dikahalahkan oleh hati. Ketika aku mencoba untuk merasionalisasikan hal-hal yang perlu dikhawatirkan oleh N2N sebelum mengambil keputusan untuk merid dengan pria itu, toh dalam hati N2N Cuma ada dia, and buat sekarang menurut saya hamper bisa mengusai selurung ruang cinta yang ada dalam hatinya. So, apapun yang coba saya rasionalkan, tetap tidak akan bisa mempengaruhi hati dia.

Menurut N2N, untuk memperkuat hati itu, jalan satu-satunya hanyalah harus sering berkomunikasi dengan sang Khalik, Allah SWT. “Bicaralah masalahmu kepada Allah, Adam!”, begitu saran dia ketika mendengar curhatanku. And I am totally agree dengan pendapat dia. Kemudian N2N melanjutkan, “ Adam, perlu kamu ketahui bahwa APA YANG DITOLAK OLEH HATI, ITULAH YANG NAMANYA DOSA”.

Selain Peserta MEP, ada Mbak Angky dari Kedutaan Australia Jakarta
dan Wartawan, Mas Tony dari Strategic Review.
Foto diambil oleh Mas SidQie di depan Kyabram Fauna Park, Shepparton tanggal 17 Juni 2012.


Masya Allah, luar biasa banget sahabat saya yang satu ini….sungguh pernyataan itu sangat memberikan saya kekuatan untuk bangkit dan mendekatkan diri ke pada sang peguasa. Sangat powerful statementnya…
Iya emang begitu kondisinya,…pengalaman pribadi saya, kalau misalkan mau meninggalkan shalat atau bolong karena alasan-alasan duniawi, namun dalam hati saya sebenarnya bereaksi…ada rasa-rasa kayak gundah, khawatir, enggak tenang, mikirin takut mati setelah ini gimana, dan gejolak-gejolak sejenisnya. Mungkin inilah bantahan hati terhadap kemungkaran yang kita lakukan. In cases, memang kadang suara hati kalah dengan rayuan nafsu syaitan, namun ada kala juga kata hati menang.

Dear readers, netters, dan bloggers…pelajaran penting buat anda lewat catatan ini adalah:
Pertama….Untuk sesering mungkin memupuk hati anda, supaya tetap suci. Bisa dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban personal (fardhu ‘ain) seperti shalat, puasa, zakat, dan sejenisnya. Disamping itu, bisa juga dengan meningkatkan keshalihan sosial seperti saling menolong, bersedekah ide minimal, disiplin dalam memenuhi janji, disiplin dalam belajar, memberi contoh dalam menjaga kebersihan, atau bergabung dengan komunitas yang bermanfaat, ya semua komunitas banyak manfaatnya dong ya!

Kalau hati anda sering dipupuk dengan hal-hal diatas, tentu saja semakin matang dan kuat hati anda, dan manfaatnya adalah akan menjadi penjaga raksasa buat anda dalam menjalani kehidupan. Dia akan menjadi alarm ketika anda dekat dengan kemaksiatan. Dia akan mengatakan “NO” ketika anda mau mengambil punya orang lain. Dia akan meringankan tangan anda ketika ada pengemis di jalanan atau terminal. Dia akan melawan keinginan anda untuk menunda shalat. Dia akan berdemontrasi ketika anda tidak shalat jum’at. Dan sebagainya.

Dan inilah sebenarnya yang disebutkan Islam, bahwa dalam hati manusia itu ada segumpal daging. Apabila daging itu baik, maka baiklah anda, apabila daging itu busuk, maka busuklah semua perangai dan tingkah anda. Dan daging yang dimaksud disini adalah H.A.T.I.

Pesan penting kedua yang ingin saya sampaikan sekarang adalah, pilihlah teman dalam curhat atau sharing. Sebagai manusia, tidak bisa dipungkiri kalau kita butuh “orang” untuk berbagi atau bercerita. Entah itu hal-hal baik maupun sebaliknya. Memang terkadang orang cenderung bercerita apabila dia lagi ada masalah, tapi kalau lagi senang jarang curhat..he…….pengalaman pribadi ni ya!!!he……….

Oke balek lagi kepada lawan curhat tadi…saran saya supaya anda pilih kawan dalam berbagi. Karena prinsipnya, anda ingin berbagi untuk mengurangi masalah sebenarnya atau at least ada orang yang mau mendengar masalah anda. Bayangkan apabila anda memilih orang yang salah, bukan malah berkurang justru akan bertambah atau bahkan malah anda dapat masalah baru dengan anda bercerita ke dia. Kalau seperti itu, kan fatal banget.

Meskipun ini bersifat sangat subjektif, namun saya yakin anda pasti bisa mengerti apa yang saya maksud dengan “teman yang tepat”. Memang ini wilayah abstrak, tapi apa yang kita rasakan akan menjadi ukuran apakah dia orang yang tepat untuk curhat atau tidak. Anda dapat merasakannya sendiri kan???

Saya punya banyak teman enta itu ditempat kerja, di kampus, di kampung, ditambah lagi dengan alam maya facebook dan twitter. Namun tidak lebih dari 3 orang yang menurut saya wajar untuk saya sharing apapun. Saya akan merasa nyaman kalau sudah bercerita dengan dia. Meskipun faktanya masalah yang saya alami juga tidak selesai dengan bercerita kepada dia, tapi at least saya merasa lega sedikit setelah bercerita.

Makanya meskipun sudah larut malam dan super capek, karena cuma tadi malam saya punya kesempatan sebelum ke Australia hari ini, saya paksakan diri untuk keluar dan nongkrong untuk sharing kepada kawan saya.

Sekali lagi untuk menguatkan ingatan anda “Apa yang ditolak oleh Hati, itulah dosa”.

Semoga Bermanfaat!
Group Picture dengan Ibu Vanessa Wood, Direkto IIEF (Kanan barisan depan)
beserta rekan-rekannya di Department of Foreign Affair and Trade, Canberra.
Photo diambil tanggal 20 Juni 2012.

March 14, 2012

Feature_Kok Ibu Mila Pergi?

Milastri Muzakkar-Dokumen Pribadi
Feature ini Sudah dimuat di Majalah Potret Edisi 55. Untuk Mengkases online, silakan click disini

Pagi itu sinar matahari lumayan cerah, cuaca pagi yang bersahabat. Meskipu awalnya Saya ragu untuk ikut rombongan mereka, namun karena ini kesempatan terakhir, akhirnya saya bergabung dalam tim Pustaka Keliling Pengajar Muda Aceh Utara. Menempuh perjalanan sekitar 90 menit, melawati beberapa “bukit” kecil dan ribuan batang sawit juga memberikan keindahan sendiri. Tepat jam 10.40 pagi, kami tiba ditempat tujuan yaitu SDN 4 Langkahan Aceh Utara, tepatnya di Gampong Rumoh Rayeuk. Sudahkah anda pergi ke daerah ini? Atau menimal mendengar namanya? Saya yakin banyak sekali diantara kita yang belum pernah datang ke pedalaman Aceh Utara ini, mungkin melihat dipetapun tidak pernah, atau bahkan ada orang Aceh yang tidak tau kalau Langkahan itu adalah bagian dari Aceh.
Namun bagi Milastri Muzakkar, sarjana muda Univeristas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, SDN 4 yang lokasinya jauh dari kota, yang membutuhkan sekitar 4 Jam perjalanan dari Kota Lhokseumawe tempat dimana pusat pemerintahan Aceh Utara berada. Bagi Ibu Mila, disinilah tempat ia mengabdi, tempat ia berdidikasi untuk negeri, tempat ia merubah nasib anak-anak para petani. Sudah 8 Bulan Ibu Mila bergabung dengan Yayasan Indonesia Mengajar sebagai salah satu Pengajar Muda yang ditempatkan di SDN 4 Langkahan.
Hari itu, kamis 29 Febuari 2012, hari kabisat yang hanya ada setiap empat tahun sekali menjadi hari terakhir Ibu Mila berada di sekolah tersebut. “Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila, Ibu Mila”, begitulah teriakan puluhan anak-anak mungil nan imut begitu mobil pustaka keliling kabupaten Aceh Utara tiba dipintu depan sekolah. “Ibu, Kok trep sekali sudah tidak pulang-pulang”, celoteh salah satu anak yang nampaknya sangat kangen dengan Ibu Mila. Meskipun bahasa Indonesia anak-anak tersebut tidak begitu fasih, masih banyak bercampur dengan bahasa Aceh, namun mereka tetap memberanikan diri bertanya bersama Ibu mila sambil bersalaman.
Saya yang ikut mengabadi beberapa photo-photo dalam rombongan tersebut, sangat merasa terharu dan sedih, milihat anak-anak bersalaman satu persatu dengan Ibu Mila yang tidak bisa melangkah kemana-kemana begitu keuar dari mobil karena dipagari oleh anak-anak yang ingin mencium tangan Ibu Mila. Pada saat itu, terkesan begitu kharismanya Ibu Mila, padahal Ibu Mila baru berusia 25 tahun. “Ibu ada bawa oleh-oleh buat Saya?”, timpal salah satu anak laki-laki dalam kerumunan tersebut.
“Ibu bawakan banyak sekali buku-buku bagus buat anak-anak, tuh ada dalam mobil” jawab Ibu Mila sambil bersalaman dengan kepala Sekolah dan dewan guru yang sudah berdiri berderet bak pasukan yang siap menyambut jenderal.
Satu per satu kardus berisi ratusan buku diturunkan dari Mobil dan diletakkan didepan kantor, sedangkan Ibu Mila bersama rambongan dari Lhokseumawe masuk kedalam ruang kantor dan ngobrol ringan dengan dewan guru dan kepala sekolah. Kedatangan Ibu Mila hari itu mengingatkan saya seperi menyambut Obama atau menyambut alm Hasan Tiro ketika tiba di Aceh. Ada yang menangis, ada tertawa, ada yang sedih, ada yang terus bertanya-tanya, ada yang kangen, dan bermaca-macam emosional lainnya.
Hari itu, agenda utamanya ada 2 yaitu penyerahan buku yang berhasil dikumpulkan oleh Indonesia Menyala dan perpisahan dengan Ibu Mila dengan SDN 4 Langkahan. Agenda pertama, dibalut dengan sangat manarik, sebelum anak-anak diminta membaca buku, mereka dibimbing oleh Pengajar Muda Aceh Utara lainnya yang dibantu oleh kawan-kawan dari Gerakan Pengajar Perubahan (GPP) Aceh.
“Anak-Anak pingin ke Australia”, buka Bapak Duddy Abdullah yang ditempatkan di SDN 7 Paya Bakong, Aceh Utara. Bapak Duddy adalah alumnus Universitas Melbourne Australia yang kemudian memilih jadi pengajar muda dan meninggalkan zona kenyamanannya bersama keluarganya di Ausralia. “Mau Pak” jawab-jawab anak-anak dengan riang. “Coba ditunjuk dipeta, dimanakah Australia?” minta Pak Duddy pada salah satu anak kelas 3 sambil menunjukka peta yang tergantung di dinding depan kelas. “Hana Tupat ya?” Tanya Pak Duddy dengan loghat Bahasa Acehnya yang terdengar lucu ketika melihat anak tersebut bingung mencari Australia didalam peta. “Sekarang mendekat semuanya, biar Pak Duddy tunjukin video gimana pustaka di Australia” kata Pak duddy sambil membuka laptopnya. Karena tidak ada projector, terpaksa anak-anak harus duduk berdekatan kedepan untuk bisa lihat di layar laptop.
“Anak-anak, ayo siapa mau membaca surat dari Perancis?” Tanya Bapak Dimas Sandya alumnus Planologi Institut Teknologi Bandung yang ditempatkan di SDN 25 Araselo Sawang yang tidak ada aliran listrik dan jaringan telpon, apalagi internet. “Saya Pak, Saya Pak, Saya Pak”, jawab anak yang terkesan sudah sangat dekat dengan Bapak Dimas, padahal itu baru kali pertama Bapak Dimas masuk kelas V yang selama ini diasuh oleh Ibu Milastri Muzakkar. “Sekarang siapa mau baca surat sahabat kamu dari Bima”, “Long jeut Pak”, minta seorang anak laki dipojok yang terkesan mengolok sambil diiringi tawaan kawan-kawan sekelasnya.
“Kalau Bapak Bilang Aceh Pintar, kalian jawabnya apa”? Tanya Bapak Dimas yang sudah mengajarin cara jawab sebelumnya. “Mandum Careng” jawab anak-anak dengan sangat serentak layak koor. begitulah beberapa kali Bapak Dimas menyuplai motivasi kedalam pikiran anak-anak kelas V.
Ketika Ibu Mila didandan dengan Pakain Adat Aceh yang nampak seperti Dara Baroe pada saat perpisahan, itulah obat yang dapat menghibur anak-anak dan para guru yang nampak sedih karena mengetahui Ibu Mila bersama 6 pengajar Muda Aceh Utara lainnya akan segera meninggalkan Aceh dan dipindahkan ke Palembang. “Ini permintaan Sekolah” tutur Ibu Mila kepada Saya tentang alasan kenapa dia pakai Baju Pengantin Adat Aceh untuk perpisahan. “Cantik juga” gumam Saya dalam hati melihat Ibu Mila yang dibalut dengan pakain Aceh berwarna hitam.
Iringan lagu “Seulaweut” yang dinyanyikan oleh Akhi Joel dari Gerakan Pengajar Perubahan membuat suasana perpisahan semakin terharu, ada yang tangisannya semakin besar. Bahkan ada anak yang tidak bisa berhanti menangis melepaskan kepergian Ibu Mila. Ibu Mila bersama 6 rekan lainnya yang ditempatkan di SD-SD terpencil lainya di wilayah Aceh Utara terpaksa ditarik oleh Yayasan Indonesia Mengajar karena kondisi Aceh yang sering terjadi penembakan terhadap etnis non Aceh. Padahal, kontrak Ibu Mila dan rekan-rekannya baru akan selesai pada bulan July mendatang dan akan dilanjutkan oleh Pengajar Muda lainya sampai 5 (lima) tahun mendatang.
Ternyata, kondisi politik Aceh menjelang Pilkada yang sering terjadi penembakan tidak hanya merusak perdamain Aceh tetapi juga “memerkosa” hak-hak dan masa depan anak-anak SD terpencil tempat pengajar Muda ditempatkan. Ada suasana yang hampir saja saya tidak bisa menyebunyikan kesedihan saya dalam perpisahan tersebut. Hal itu terjadi ada anak yang bertanya “Kenapa Ibu Mila cepat sekali pergi?” “Terus kenapa Ibu Mila tidak pernah masuk ke kelas kami?” keluh murid kelas II SD yang belum sempat belajar bersama Ibu Mila karena harus mengasuh dari kelas III sampai dengan kelas VI. “Nanti kalau sudah Pilkada, kami mohon supaya ada pengganti Ibu Mila yang dikirim oleh Yayasa Indonesia Mengajar ke Sekolah Kami” harap Bapak Kepala Sekolah dalam kata-kata perpisahannya. “Saya titipkan perpustakaan, pramuka, dan jaga mimpi-mimpi anak-anak ini Bapak Ibu ya”, Iba Ibu Mila menutup pidatonya yang membuat semua anak-anak dan dewan guru tidak sanggup menahan airmata.
(Muhammad Adam adalah Alumnus Sekolah Demokrasi Aceh Utara dan Co-Founder Plus Insitute Aceh)

February 25, 2012

Opini_Hitam Putih Keputusan Dikti

SENSASIONAL, reaksional, dan gegabah. Itulah salah satu komentar awal saya setelah membaca surat edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta tentang Publikasi Karya Ilmiah.

Surat bernomor 125/E/T/2012 ditujukan kepada seluruh rektor, ketua, dan direktur di perguruan tinggi negeri dan swasta seluruh Indonesia. Meskipun surat tersebut masih bersifat informatif bukan instruktif, namun sudah banyak yang cengar-cengir, terutama di dunia maya jejaring sosial, seperti facebook dan twitter.

Dalam surat yang dikeluarkan pada 27 Januari 2012 tersebut menginformasikan bahwa terhitung mulai Agustus 2012, untuk lulus program sarjana (S1) harus menghasilkan karya yang terbit di jurnal ilmiah, untuk lulus program megister (S2) harus telah menghasilkan makalah pada jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi dikti. Sedangkan untuk program doctor (S3) harus sudah menghasilkan makalah yang diterima untuk diterbitkan dalam jurnal international.

Banyak tanggapan yang berkembang di jejaring sosial, kalau keputusan ini dianggap tidak bijaksana, terlalu dipaksakan, dan sebagainya, khususnya untuk mahasiswa sarjana. Namun dalam tulisan ini, saya ingin melihatnya secara lebih jernih hitam dan putihnya menurut analisa saya.

Menurut saya, ada dua poin penting dari keputusan tersebut yaitu permasalahan teknis dan nilai-nilai substansial. Dari segi teknis, keputusan Dirjen Dikti tersebut terlalu dini kalau diukur dengan sumber daya yang kita miliki. Sumber daya pertama adalah infrastruktur yaitu jumlah jurnal yang ada. Itu pun hanya sebagian kecil saja yang baru terakreditasi Dikti.

Kemudian, jumlah mahasiswa di Indonesia yang saat ini cukup besar, kalau kita hitung secara matematis antara jumlah jurnal dengan jumlah mahasiswa, maka sangat berbanding jauh. Kalau satu jurnal terbit hanya satu kali setiap bulan dan hanya mampu mengakomodir lima tulisan, dengan komposisi satu tulisan per mahasiswa, maka dalam satu bulan hanya bisa diterbitkan beberapa tulisan saja.

 Tantangan lain
Tantangan lain soal waktu, faktanya untuk katagori S1, mahasiswa melakukan penilitian (kalau ada) itu semester akhir, antara semester VII atau VIII. Untuk jurusan tertentu, satu penilitian memerlukan waktu paling tidak tiga bulan, kemudian baru menuliskan laporan. Sisa tiga bulan selanjutnya sulit untuk mengejar target bisa dimuat di jurnal. Belum lagi konsultasi dengan dosen pembimbing yang kadang-kadang cukup merepotkan mahasiswa.

Dampak hitam lainnya, dikhawartirkan akan terjadi “politisasi” kampus terhadap jurnal-jurnal yang beredar. Jurnal yang seharusnya tempat orang mengembangkan pengetahuan dan belajar, tidak tertutup kemungkinan akan mengotori dunia akademik. Siapa yang bisa jamin tidak akan terjadi komersialiasasi dalam jurnal-jurnal yang ada nantinya?

Apabila diwajibkan untuk dimuat di jurnal sebagai salah satu syarat kelulusan, menurut saya orang akan melakukan langkah apa pun, tidak peduli fair atau tidak. Praktek kolusi dan nepotismepun dengan terpaksa akan dijalankan nantinya. Pada kondisi seperti ini, maka pemberlakuan wajib publikasi malah akan jadi bumerang dan blunder buat dunia dikti dan dunia akademik kita.

Terlepas dari permasalahan teknis diatas yang sangat ribet, namun apabila kita lihat pesan substansi dari keputusan tersebut perlu kita apresiasi, setidaknya keberanian dikti dalam memutuskan kebijakan tersebut.

Dalam surat yang ditandatangani oleh Dirjen Dikti, Djoko Santoso tersebut secara tersurat dan tersirat dapat saya simpulkan beberapa niat baik. Pertama, untuk mendorong mahasiswa untuk meningkatkan minat menulis. Kalau kita mau berjujur, minat membaca kita masih sangat rendah. Teoritisnya, minat membaca sangat berpengaruh dalam menulis. Logikanya, apa yang akan kita tulis, kalau kita tidak membaca?

Kedua, ada “hajatan” besar pemerintah, terutama Kementerian Pendidikan untuk meningkatkan daya saing pendidikan kita di tingkat dunia. Melalui publikasi-publikasi karya ilmiah mahasiswa, secara perlahan-lahan akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Ketiga, saya yakin dikti punya mimpi, kalau program ini dapat berjalan dengan maksimal, secara bertahap akan terbentuk budaya menulis yang lebih bagus didunia kampus. Dan nilai inilah yang menurut saya harus kita dukung bersama-sama. Faktanya boleh anda lihat pada diri sendiri, berapa menit dalam sehari anda menghabiskan waktu untuk menulis.

Ditinjau dari fase perkembangan masyarakat, saat ini budaya kita masih berada pada kelas tradisional belum melangkah ke tingkat apalagi level literer. Padahal, salah satu ciri negara maju, masyarakatnya sudah berkembang dari literer menuju modern.

 Beberapa solusi
Menyikapi dinamika pro-kontra keputusan Dikti tersebut, ada beberapa solusi yang ingin saya tawarkan. Pertama, pihak Kementerian jangan hanya mengejar target dari segi kuantitas hasil publikasi. Karena dalam surat edaran tersebut jelas disebutkan kalau kita ketinggalan dari segi kuantitas. Kalau tujuannya hanya untuk menunjukkan ke negera-negara lain, terutama negera tetangga kalau kita tidak kalah dengan mereka dalam mempublikasi karya ilmiah. Untuk apa kita mampu mempublikasi, ribuan, bahkan jutaan karya ilmiah setiap bulan, kalau kualitasnya nihil?

Kedua, pemerintah, terutama yang mengurus pendidikan baik di kementerian pendidikan nasional maupun agama harus mempersiapkan semua kebutuhan untuk kelancaran publikasi karya ilmiah dengan maksimal. Anggaran 20% yang sudah diamanatkan konstitusi dari APBN untuk pendidikan harus dikelola lebih baik lagi. Memprioritaskan pembangunan fisik dengan menomorduakan peningakatan kualitas adalah tindakan yang keliru.

Selanjutnya pengelola perguruan tinggi harus melakukan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan minat dan kesadaran mahasiswa untuk melakukan penelitian secara maksimal. Banyak cara yang bisa dilakukan, bisa saja dengan menyelenggarakan kompetisi secara rutin atau dosen melibatkan mahasiswa dalam penelitian-penelitiannya.

Pada saatnya nanti di mana program ini dijalankan, hemat saya untuk tahap-tahap awal jangan bersifat syarat wajib, tapi cukup saja memberikan nilai lebih kepada mahasiswa yang sudah mempunyai karya ilmiah yang diplubikasi. Selain itu, publikasinya pun tidak harus secara cetak. Perkembangan teknologi yang begitu pesat, bisa juga digunakan untuk mempublikasi secara eloktronik.

Dan, terakhir ketika semua infrastruktur dan suprakstrukturnya sudah siap, baru dijalankan dengan maksimal. Pada tahap ini, pemerintah akan tercapai maksudnya, mahasiswa pun tidak merasa dipaksa apalagi dizalimi, sehingga tercapai yang disebut dengan win win solutions. 

* Muhammad Adam, Alumnus IELSP Ohio University, Amerika Serikat dan sekarang sebagai Direktur Plus Institute Aceh.

Tulisan diatas sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Edisi Sabtu 25 Febuari 2012.

February 01, 2012

Kampanye Hemat

“POLITEK, dalam geurupoeh manoek, na itek.” Itulah kiasan Bahasa Aceh yang dapat menggambarkan kondisi politik di Aceh saat ini. Tidak ada yang pasti, tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan. Layaknya kandang ayam (manoek) yang terkadang juga ditempati bebek (itek).

Gugatan, demontrasi, dan atas dasar mengakomodir aspirasi, Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh kembali melakukan perubahan jadwal Pilkada, dan ini adalah perubahan kelima. Dalam perubahan terbaru ini, KIP Aceh sudah menetapkan hari penceblosan tanggal 9 April 2012. Sedangkan masa kampanye akan dimulai dari tanggal 22 Maret samapai dengan 5 April 2012.

Dalam konteks kampanye, Saya ingin mendiskursuskan kampanye hemat dengan menggunakan teknologi atau e-kampanye yang dapat digunakan oleh calon-calon Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Wali Kota/Wakil Wali Kota, yang ditinjau dari berbagai perspektif dan manfaat.

Arus globalisasi
Pertama, sesuai dengan perkembangan zaman. Mewacanakan kampanye dengan menggunakan teknologi tidak terlalu dini untuk Aceh dan hal ini merupakan konsekwensi dari arus globalisasi. Negara-negara lain sudah melakukan pemungutan suara dengan menggunakan alat teknologi (e-voting), untuk pemilihan pemimpin nasional dan daerah. Bahkan, pengalaman penulis belajar di Universitas Ohio, Amerika, pemilihan presiden mahasiswa (BEM) juga dilakukan dengan e-voting.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan akses informasi yang begitu cepat, calon-calon pemimpin kita tidak dapat memisahkan diri dari arus globalisasi tersebut dan seharusnya dapat menggunakan peluang tersebut. Perkembangan jejaring sosial (social network) seperti Facebook dan Twitter bisa menjadi media efektif untuk kampanye. Karena jumlah pengguna internet terus mengalami peningkatan yang sangat drastis.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh MarkPlus Insight, jumlah penggunan internet di Indonesia tahun 2011 sudah mencapai 55 juta orang, meningkat dari tahun sebelumnya di angka 42 juta (tekno.kompas.com). Karenanya, penggunaan internet oleh seorang calon kandidat adalah media yang bagus untuk dapat melakukan penyeberluasan informasi tentang dirinya secara luas, tidak ada batas, dan bebas.

Alasan kedua, efesiensi waktu dan tenaga. Menurut jadwal terbaru yang sudah ditetap KIP Aceh, masa kampanye akan dilakukan dalam rentang waktu 22 Maret-5 April 2012 (Keputusan KIP Aceh Nomor 31 Tahun 2012). Artinya, para kandidat hanya mempunyai waktu 15 hari untuk “menjual” dan mempromosi diri serta program-program, termasuk visi dan misi mereka kepada masyarakat.

Black campaign
Untuk calon gubernur dan wakil gubernur harus mempunyai tim kampanye yang banyak supaya bisa menjangkau seluruh pelosok Aceh. Karenanya jumlah personel kampanye yang tidak mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menjangkau dominan pemilih. Akibatnya, tim tersebut melakukan tindakan-tindakan yang tidak sehat, praktek tidak jujur, mengancam, pemberian uang, pembagian kain sarung, dan sejenisnya yang semuanya mengarah kepada black campaign.

Padahal apabila para kandidat tersebut mengiringi pola kampanye konvensional dengan menggunakan teknologi seperti Facebook dan Twitter, maka dapat dilakukan pengehematan biaya, waktu, serta tenaga. Cukup membuat sebuah halaman di Facebook, mempublikasi photo, visi, misi, dan program andalannya untuk kemudian mengundang pengguna Facebook lainnya mengakses dan membaca informasi-informasi tersebut. Kalau ini dilakukan secara maksimal, maka akan mengurangi biaya kampanye, waktu, lebih efesien dan efektif.

Ketiga, alasan penting lainnya terhadap urgensi kampanye hemat adalah pertimbangan biaya politik (cost politic). Ekonomi dalam proses sebuah pemilihan mulai dari pemilihan presiden, DPR, kepala daerah, bahkan pemilihan kepala desa sekali pun, faktor materi (uang) selalu menjadi “masalah” utama.

Biaya politik
Sudah menjadi rahasia umum, seorang calon harus mempersiapkan uang miliaran untuk bisa menjadi seorang bupati atau wali kota. Untuk pembiayaan tim sukses, lobby partai politik, dan promosi melalui spanduk, baliho, media massa, dan sebagainya menguras biaya dengan jumlah yang sangat tinggi. Karenanya banyak kandidat yang miskin dan menunggak utang setelah pilkada, apalagi tidak terpilih.

Biaya politik yang tinggi (high cost politic) berdampak pada kepemimpinan dan roda pemerintahan yang terpilih nantinya. Mustahil seorang kepala daerah tidak mau mengembalikan modal yang sudah dikeluarkannnya miliyaran rupiah pada saat proses pemenangannya dalam Pilkada.

Faktanya apabila mengandalkan pendapatan murni dari gaji dan tunjangan, tidak mungkin ia bisa mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan, apalagi bicara keuntungan. Akibatnya, senggol kiri kanan, menginjak yang di bawah, “olah sana, olah sini” dan korupsi supaya bisa mengembalikan kekayaannya.

Karenanya tidak heran, kalau catatan Indonesia Curruption Watch (ICW) dalam kurun 2004-2010 setidaknya ada 18 gubernur, 1 wakil gubernur, 17 walikota, 8 wakil walikota, 84 bupati, 19 wakil bupati totalnya yang sudah diproses oleh KPK dengan berbagai kasus (komisikepolisianindonesia.com).

Cara efektif
Untuk menimalisir biaya politik, melakukan kampanye dengan menggunakan alat teknologi adalah cara efektif. Sangat banyak biaya yang bisa dilakukan penghematan mulai dari pengurangan jumlah spanduk, baliho, sticker, kaus, pulsa, bensin, dan iklan di media massa. Hal ini tidak hanya menguntungkan bagi calon kepala daerah tersebut, namun juga berdampak kepada masyarakat luas nantinya.

Pada saat biaya politik yang dikeluarkan tidak banyak, secara teori pemimpin tersebut tidak perlu korupsi untuk mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan. Dampaknya adalah kualitas kepemipinannya lebih bagus, pelayanan publiknya lebih maksimal, anggarannya lebih partisipatif, pendidikan semakin rata, pelayanan kesehatan semakin baik, dan sebagainya.

Melihat manfaat dan dampak dari perpindahan pola kampanye konvensional menuju kampanye dengan menggunakan teknologi (e-kampanye), rasanya tidak terlalu berlebihan dan harus kita dukung bersama-sama. Setuju?
Penulis adalah Muhammad Adam, 
The Founder of Plus Institute dan Sekjen Komunitas Demokrasi Aceh Utara

Tulisan diatas sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia, Edisi Rabu 1 Febuari 2012.

December 06, 2011

Mencegah Spiral Kekerasan di Aceh

Aceh sepertinya tidak bisa benar-benar tidur nyenyak dengan damai. Kekerasan bersenjata mendadak pecah lagi di kawasan Geurudong Pase, Aceh Utara, Minggu malam (4/12) lalu. Menjelang tengah malam, lima orang bersenjata laras panjang dengan mengenakan penutup muka membantai tiga buruh perkebunan P.T. Satya Agung, hingga tewas dan empat lainnya mengalami luka berat. Korban dibantai dari jarak dekat saat sedang minum kopi di warung dekat dengan tempat tinggal para pekerja. Peristiwa ini mengingatkan kita pada tahun-tahun awal konflik Aceh di tahun 1998, ketika kekerasan di Aceh diawali dengan pembunuhan-pembunuhan acak tanpa motif yang jelas dan boleh dikatakan tidak ada pelaku yang berhasil ditangkap, sehingga istilah “orang tidak dikenal” populer di Aceh.
 
Gejala kekerasan baru di Aceh yang sudah relatip aman dari kekerasan politik dan bersenjata selama tiga tahun terakhir, telah dimulai pada Selasa malam, 30 November lalu, ketika “orang tak dikenal” melemparkan granat ke markas tim sukses Calon Gubernur Aceh Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan di kawasan Lampriek, pusat kota Banda Aceh. Ledakan granat kedua terjadi pada hari Kamis, 1 Desember, dan kali ini melukai tiga warga Banda Aceh yang kebetulan lewat di depan lokasi peledakan granat. Spekulasi tentang latar belakang ledakan granat ini belum lagi usai, ketika kekerasan yang sebenarnya telah menyusul dengan pembantaian tiga buruh pekerja di Aceh Utara.

Bagi orang yang mengamati situasi keamanan di Aceh, khususnya sejak tahun 1998, ketika semua krisis politik dan kekerasan bersenjata dimulai dan memuncak di awal tahun 2000-an, hal ini tidak akan dianggap peristiwa sepele. Karena, gejala dan pola kekerasan yang terjadi jelas menunjukkan bahwa ini bukanlah kriminal biasa. Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen TNI Adi Mulyono kepada surat kabar lokal Serambi Indonesia, Selasa (6/10) mengatakan bahwa “ada skenario dibuat kelompok besar di belakang berbagai peristiwa itu”. Ia juga menegaskan bahwa situasi terakhir ini pasti ada kaitannya dengan soal politik. “Tapi kita tidak bicara politik, melainkan menjaga keamanan”, katanya menjawab wartawan.
Catatan kekerasan tersebut di atas memang berpotensi menimbulkan berbagai spekulasi yang jika tidak disikapi dengan jernih justru akan membuat orang semakin jauh dari fakta sesungguhnya, yang mendasari kekerasan yang terjadi. Spekulasi yang pertama adalah; bahwa kekerasan ini mungkin dilakukan oleh kelompok mantan GAM atau PA (Partai Aceh) yang dianggap sangat kecewa dengan perkembangan politik menjelang Pemilihan Gubernur Aceh, dimana GAM/Partai Aceh tidak jadi mencalonkan pasangan Zaini Abdullah (mantan Menteri Kesehatan GAM)-Muzakir Manaf (Mantan Panglima GAM dan Ketua PA). Pembatalan pencalonan itu karena KIP (Komisi Independen Pemilihan) Aceh tetap melaksanakan Pilkada di Aceh dengan mengakomodasi Calon Independen, sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menetapkan bahwa keikutsertaan Calon Independen di Aceh tetap bisa dilakukan, meski pihak PA beranggapan hal itu tidak sesuai dengan UUPA/UU.No.11/2006. PA juga memerintahkan seluruh kadernya yang akan ikut Pilkada tingkat kabupaten untuk tidak ikut dalam pilkada.
Tetapi pihak PA melalui, Muzakir Manaf, sebelumnya telah menyatakan bahwa PA tidak memboikot Pilkada di Aceh dan tetap komit untuk menjaga perdamaian, meskipun dia tidak bisa menjamin “jika ada aksi rakyat yang kecewa atas keputusan MA” (Serambi, Senin, 28 November). Hal ini tentu maksudnya dengan tidak akan mengganggu jalannya Pilkada atau melakukan kekerasan, meskipun ia dan Zaini Abdullah tidak jadi ikut serta dalam pemilihan Gubernur.
Sepekulasi kedua adalah, bahwa pelemparan granat itu dilakukan sendiri oleh kelompok Irwandi. Tujuannya adalah  untuk membangun persepsi publik bahwa Irwandi dan Muhyan sedang berada dibawah ancaman dan tekanan. Sebagaimana diketahui bahwa keputusan KIP Aceh yang mengacu kepada keputusan MK untuk tetap memberi ruang kepada calon Independen telah memuluskan langkah Irwandi Yusuf sebagai incumbent untuk ikut serta dalam Pilkada yang digelar pada 16 February 2012 yang akan datang. Irwandi Yusuf sendiri yang notabene mantan anggota GAM secara organisasi tidak didukung oleh PA atau partai lain sehingga memilih jalur perseorangan. Disisi lain mantan dosen Unsyiah ini tetap didukung oleh sebagian mantan kombatan GAM di lapangan.
Situasi ini menggambarkan perpecahan ditubuh GAM yang sudah dimulai sejak Pilkada lima tahun lalu, dimana Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar memenangkan Pilkada lewat jalur independen. Sementara pasangan yang didukung secara resmi oleh GAM/PA, yaitu DR. Ahmah Humam Hamid- dr. Zaini Abdullah kalah dalam pemilihan. Perpecahan itu semakin tajam karena PA berhasil memenangkan Pemilu legislatip dan mendominasi komposisi DPR-Aceh. Dampaknya Irwandi sebagai Kepala Eksekutip harus berhadapan dengan PA di Legislatip. Komposisi politik ini kemudian berdampak pada saat DPR-A memutuskan untuk menganulir keputusan MK yang menyetujui diberlakukannya jalur independen di Aceh. Tujuannya adalah agar Irwandi tidak bisa maju melalui jalur independen. Jika dipersempit konflik ini seakan-akan, dan bisa dibaca konflik “internal” bekas GAM.
Sepekulasi ketiga, baik kelompok pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, maupun GAM/PA sebagai orang Aceh tidak akan mungkin membangun kembali spiral kekerasan di Aceh hanya karena kepentingan posisi Gubernur. Spekulasi ini memberi ruang pada kepercayaan bahwa sesama orang Aceh, baik faksi Irwandi maupun faksi Muzakir yang notabene sama-sama orang GAM tidak akan bertindak terlalu jauh untuk mengorbankan rasa aman warga Aceh pasca perdamaian. Selain karena mereka telah belajar beratnya risiko konflik, juga mengingat mereka terikat pada perjanjian Helsinki dan UUPA. Mereka paham betul apa risiko negatip yang bisa timbul jika kekerasan dimulai. Maka munculah, kelompok ketiga yang dalam kaitan ini bisanya disebut sebagai “provokator”, atau sebagaimana disinyalir Pangdam IM sebagai “kelompok besar dibelakang berbagai peristiwa itu”, yang bermotif politik. Tapi siapakah mereka?
Kelompok ketiga ini, siapapun mereka, dalam konteks analisis konflik bisa siapa saja; tapi dengan kepentingan yang tunggal; mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi di Aceh. Kelompok yang sering juga disebut dengan “peace spoiler” ini adalah aktor-aktor dengan “multi-economics and political interest”. Sebut saja misalnya para pedagang senjata atau pedagang narkoba yang mengambil keuntungan ditengah konflik. Termasuk juga para pembalak hutan dan perusahaan pertambangan. Biasanya mereka bekerjasama dengan orang-orang yang berada dalam struktur kebijakan dan kekuasaan.
Sudah bukan rahasia lagi zona konflik adalah wilayah yang sangat aman untuk melakukan berbagai bisnis gelap dan hitam. Di tengah konflik, kelompok yang memiliki kuasa dan mengontrol struktur kekuasaan akan memainkan kebijakan dan diskresi untuk melakukan berbagai kepentingan dengan motip kejahatan bermacam-macam. Kondisi ini biasa disebut dengan “conspiracy theory”. Dalam teori ini, aktivitas intelijen dan kontra intelijen biasanya selalu bermain dengan sangat intens. Dalam teori ini, suatu konflik memang sengaja diciptakan baik sebagai tujuan akhir maupun sebagai tujuan antara. Seringkali sangat kejam dan mengorban siapa saja tanpa terduga. Media juga secara sadar atau tidak selalu digunakan untuk membangun persepsi tertentu. Isu yang mau dibangun misalkan saja, “Aceh ternyata sudah tidak aman lagi”, maka secara bertahap perlu dilakukan suatu tindakan operasi dengan menawarkan opsi-opsi yang cenderung berpotensi mengulangi kekerasan dan membangun konflik baru”.
Inilah yang harus diwaspadai dari fenomena spiral kekerasan yang mulai terjadi lagi di Aceh dalam minggu-minggu terkahir ini. Aceh sudah belajar mengenai situasi dan pola seperti ini sejak tahun 1998 hingga 2004, sampai saat penandatanganan perdamaian. Seharusnya semua orang waspada dan tidak terjebak pada arus logika yang coba dibangun melalui berita-berita kekerasan di media. Untuk itu, sebaiknya setiap komponen di Aceh secepatnya mempelajari fenomena kekerasan yang terjadi di awal Desember ini dan melakukan antisipasi.
Dalam situasi ini peran kepolisian sangatlah penting untuk menekan spiral kekerasan dan mencegah kembalinya konflik (conflict prevention). Sangat penting artinya jika polisi berhasil mengungkap setiap peristiwa kekerasan yang terjadi, menjelaskan motifnya, dan memenjarakan pelakunya. Hal ini bertujuan untuk mengurangi spekulasi apakah suatu peristiwa kekerasan merupakan kejahatan murni atau kekerasan dengan motif politik. Peran media lokal juga sangat penting untuk terus menerapkan prinsip “jurnalisme damai” dan mengambil bagian dalam usaha “conflict prevention” dan selanjutnya mendorong “peace building” di Aceh yang memang masih belum usai. Jika setiap kekerasan bisa ditangani dan dipastikan sebagai kriminal murni, dan bukan kriminal politik, maka potensi kembalinya konflik bisa dicegah. Tapi jika memang bermotif politik, maka pencegahan dini bisa dilakukan.
Kita berharap, baik pemerintah pusat maupun pemerintah Aceh dan seluruh struktur organisasi keamanan dapat merespon dengan cepat berbagai kekerasan bersenjata baik yang terjadi di Aceh, atau dimana saja di Indonesia. Pendekatan dan analisis sosial dengan intervensi sosial sudah banyak direkomendasikan untuk mengatasi masalah-masalah seperti diatas, khususnya diwilayah bekas konflik. Sudah selayaknya hal itu jauh lebih diprioritaskan, dan opsi yang berpotensi mengulang kekerasan serta rasa tidak aman harus dihindari, agar kita tidak terjebak lagi dalam spiral kekerasan yang semakin lama semakin sulit diurai. Proses perdamaian di Aceh mahal sekali harganya. Darah, nyawa dan air mata. Jangan ada lagi yang tertumpah hanya karena kepentingan sesaat saja.

Penulis adalah Wiratmadinata | Alumni CIDCM (Centre for International Development and Conflict Management)-University of Maryland, USA. Saat ini; Ketua Badan Pengurus Koalisi NGO-HAM Aceh.

November 23, 2011

Baliho

SEMUA hal tercipta melewati dua tahap, tahap pertama terjadi melalui imajinasi dan selanjutnya dibentuk menjadi kejadian yang nyata. Seperti misalnya gambar sebuah gedung adalah berasal dari imajinasi, direalisasikan menjadi sebuah gedung kokoh yang nyata.  Jadi, kota-kota yang besar, gedung-gedung pencakar langit, jalan-jalan yang mulus tanpa hambatan, pertokoan mewah, dan lain-lain, semua terjadi diawali dari imajinasi. Karenanya, bila imajinasi anda berkualitas, maka berkualitas pula yang tercipta. Pembangunan lahir yang berkualitas, pasti berasal dari batiniah seseorang yang berkualitas.

Mari kita amati pembangunan fisik dari kota kita tercinta ini,  ruang-ruang publik yang mulai dipadati kotak-kotak iklan yang luar biasa memenuhi ruang-ruang pribadi. Setiap celah kota bisa ditafsirkan hanya dengan satu kemungkinan bernama baliho. Tidak masalah dengan kehadiran baliho atau papan iklan tersebut, mudah saja menyingkirkannya. Yang menjadi pikiran adalah apa alasannya hingga ditempatkan di ruang-ruang publik seperti itu. Mari merujuk kepada kota yang baik sesuai dengan prinsip good governance.

Friedman (1999) mengatakan salah satu ciri kota yang baik adalah kota yang memiliki pemerintahan yang baik. Dengan kata lain, kota yang baik tercipta dari jiwa kepemimpinan yang baik. Sebuah kota yang dibangun oleh pemerintah yang keliru, maka hasil pembangunannya akan keliru atau tidak tepat sasaran.

Tidak perlu gelar tinggi untuk merasakan sebuah tata kota yang dibangun dengan keliru, cukup menjadi seorang awam seperti saya untuk merasakan hal tersebut. Lihat saja prinsipnya dari lingkungan sekitar kita, orang tua yang baik akan menciptakan anak-anak yang berkualitas, rumah tangga yang diayomi oleh imam sejati yang bertanggungjawab menghasilkan keluarga yang sakinah dan berbahagia. Jadi, jika kota yang dijalankan oleh pemerintah yang baik, entah bagaimana penjelasannya, kriminalitas akan merendah, penduduknya akan berbahagia, merasa aman dan tentram walaupun hidup tidak berkelebihan.

Kalau mau memandang ke atas, lihatlah negara Denmark di Eropa Barat. Perlu sedikit berimajinasi untuk bisa menjadi bangsa yang berbahagia seperti rakyat Denmark. Negara ini menurut survei yang diadakan oleh Universitas Leicester di Inggris disebut sebagai negara dengan penduduk terbahagia di seluruh dunia. Padahal ternyata kehidupan keluarga kebanyakan di ibukota Denmark, Kopenhagen, tidak bisa dikatakan mewah, mereka tidak berkekurangan namun tidak pula berkelebihan. Rumah penduduknya tidak luas, namun tidak ada tunawisma. Denmark adalah negara Demokrasi yang cenderung mengikutt paham sosialis, yang menurut penduduknya, sosialis yang beradab. Tidak perlu memiliki mobil berkelas, bila sepeda sudah cukup dipakai untuk bekerja. Tidak perlu rumah mewah asal ada kesempatan bertemu dengan anggota keluarga setelah bekerja. Itulah yang membuat sebuah negara disebut beradab. Hak-hak dasar masyarakat dijamin oleh pemerintahannya. Sehingga yang dihasilkan adalah masyarakat yang sehat dan terdidik. Di samping besarnya kepercayaan kepada pemerintah dengan membayar pajak hampir setengah dari penghasilannya. Tidak ada kekhawatiran untuk dikorupsi. Tidak perlu menjadi negara superkaya seperti Amerika Serikat, yang walaupun memiliki pendapatan domestik bruto tertinggi di dunia, namun kurang memiliki perasaan positif akan terpenuhinya kepuasan hidup. Tentunya faktor kebahagiaan suatu bangsa tidak bisa dibandingkan dengan bangsa lainnya. Akan banyak melibatkan indikator sosial dan psikologis.  

Maka hasil pembangunan sebuah kota sesungguhnya adalah hasil imajinasi dari kerohaniaan pemimpinnya. Sepertinya pembangunan yang merohani itu makin sulit dicari. Hal tersebut tidak bisa dimanipulasi dari banyaknya gedung-gedung megah, ataupun pusat perbelanjaan mewah. Boleh saja membangun pusat pembelanjaan mewah, sepanjang masih ada kaki-kaki lima yang rapi, atau taman-taman kota yang hijau. Pembangunan yang menonjol kini adalah adanya tabrakan ruang kepentingan yang tidak terkendali. Karena yang paling berhasil saat ini mengacu kepada ukuran persegi panjang. Siapa yang terlebar, terpanjang dan tertinggilah yang menjadi pemenangnya.

Begitu maraknya pemasangan baliho-baliho raksasa bergambar pas foto tersebut. Silahkan saja memecahkan rekor baliho terbesar, karena untuk itu pun sudah ada lembaga rekor sendiri. Jika baliho tersebut hanya dianggap sebagai gambar, maka tidak terlalu bermasalah. Akan tetapi jika itu bermakna gambaran betapa banyaknya orang yang ingin menjadi tokoh, Itulah persoalan utamanya. Sebagian kecil di antaranya adalah tokoh sungguhan, yang meredam ego pribadi demi kepentingan hidup bersama. Malangnya, kebanyakan adalah orang yang ditokoh-tokohkan, atau bahkan menokoh-nokohkan diri. Maka bila itu yang terjadi, sesungguhnya baliho-baliho bergambar tersebut, walaupun semuanya mengumbar kebaikan, nyatanya tidak mengabarkan apa pun kecuali ego kepentingannya sendiri dengan berbagai macam pamrih.

Ketokohan seseorang bukanlah sekadar pencitraan diri yang bersifat  rekayasa. Ketokohan itu ada dalam kehidupan nyata. Seberapa jauh kedudukan kebaikan seseorang di dalam kehidupan nyata, dan kebermanfaatannya kepada umat, itulah ukuran sebenarnya ketokohan seseorang.

Oleh:Nadiya Putri Rusjdi

* Penulis adalah alumnus IAIN Ar Raniry. S2 dari Leipzig University, Germany.

 
Web developed by Eka.aSOKA.web.id | Domain Host by aSOKAhost.com
Follow @MuehammadAdam