Showing posts with label mc-adu-muslim-cerita. Show all posts
Showing posts with label mc-adu-muslim-cerita. Show all posts

December 16, 2012

#Scholarship: Australia-Indonesia Young Muslim Leaders Exchange Program (MEP)

 THE MOST WANTED SCHOLARSHIP IS COMING BACK!!!
Photo di Opera House Sydney, June 2012. MEP 2012.

The Australia – Indonesia Young Muslim Leaders Exchange Program (MEP) began in 2002 with the aim of building links between Muslim communities in both countries and promoting greater understanding and recognition of religion and its role in each society.

Funded by the Australian Government and run through the Australia-Indonesia Institute (AII), it was decided in 2005 to establish this program as one of the AII’s flagship programs. So far, 42 Australians and 112 Indonesians have participated in the program.
The program involves visits of several weeks duration to Australia by groups of young Indonesian Muslim community leaders (such as writers, bureaucrats, academics and workers in non-governmental organisations and religious bodies), and visits to Indonesia by their Australian counterparts. The focus is on building a greater understanding for Australians of the nature of mainstream Islam in Indonesia and, for Indonesians, a greater awareness of Australia’s multicultural society.
Candidates are interviewed and selected by an independent selection panel based on their extensive networks and capacity to act as ambassadors and participate in interfaith dialogue.
Requirements for Indonesian participants:
  1. Applicants (male/female) must be under 40 years of age.
  2. Demonstrated fluency in English through TOEFL (international or institutional standard) with minimum score of 450.
  3. Completion of the Application Form (available on both Paramadina University www.paramadina.ac.id / and Australian Embassy’s websites www.indonesia.embassy.gov.au)
Applications must be lodged by Thursday 17 January 2013 at 16:00 WIB. Applications can be posted to Paramadina University, Jl. Gatot Subroto Kav.97, Mampang, Jakarta Selatan 12790 or emailed to panitiamep2013@paramadina.ac.id.
Further information will be available on the AII Website: www.dfat.gov.au/aii.

***
Kalau Anda Mau baca-baca Pengalaman Saya mengikuti Program MEP tahun 2012, silakan anda dalam CERITA AUSTRALIA !!!
***
Download application form (click here)

October 10, 2012

#Opini_Ramadhan dan Toleransi (Sisa Ramadhan)

Bagi kita,
Teis dan ateis bisa berkumpul
Muslim dan Kristiani bisa bercanda, Artis dan elit bisa bergurau.
Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan.
Tapi,
Pluralisme dan anti pluralisme tak bisa bertemu.

Photo from naturemoms.com
Begitu tulis Ahmad Wahib dalam catatannya tanggal 16 Agustus 1969. Dalam banyak catatannya, Ahmad Wahib sangat menekankan pada nilai-nilai toleransi dan pluralisme. Kalau Ahmad Wahib meninggalkan pesan toleransi dalam catatanya yang sudah dibukukan, bulan ramadhan juga mengajarkan kita esensi toleransi yang tidak tertulis melalui berbagai praktek ibadah.

Perbedaan dalam memulai hari pertama ramadhan saja sudah menunjukkan bahwa ramadhan adalah media untuk mempraktekkan toleransi. Hampir setiap tahunnya, ada banyak kelompok di seluruh seantaro Indonesia memulai puasa ramadhan di hari yang berbeda. Tahun 1433 Hijriah kali ini, ada kelompok Islam yang puasa hari pertama tanggal 20 Juli dan kelompok lainnya berpuasa pada hari sabtu, 21 Juli 2012.

Pihak yang memulai lebih awal pasti mempunyai alasan dan landasan tersendiri, sedangkan kelompok yang berpuasa pada hari berikutnya juga bersandar pada kepercayaan dan kelompoknya. Kita patut bersyukur kalau perbedaan dalam mengambil hari pertama bulan ramadhan tahun ini tidak diwarnai dengan perdebatan yang berakhir anarkis.
A photo from demotivatedposters.com
Praktek selanjutnya yang penuh dengan nilai-nilai toleransi adalah ibadah shalat terawih. Ibadah yang satu ini mengajarkan ummat muslim nilai toleransi dalam prakteknya. Sudah berpuluhan tahun di Indonesia, praktek terawih yang dilakukan setelah shalat isya tersebut berbeda jumlah rakaatnya antara penganut ummat Islam sendiri.

Banyak masyarakat yang shalat dua puluh rakaat, namun tidak sedikit juga yang shalat delapan rakaat. Menariknya banyak rumah ibadah seperti Musallah, Surau, Mesjid, Musalla, dan sebagainya yang mempraktekkan shalat delapan dan dua puluh rakaat pada saat bersamaan di dalam satu tempat ibadah.

Mesjid Baiturrahman Aceh adalah salah satu buktinya. Di Mesjid yang terletak di pusat kota Banda Aceh ini mempunyai dua model jama’ah terawih. Ketika sudah selesai delapan rakaat shalat terawih, kelompok yang dua puluh rakaat keluar dari barisan dan mempersilakan kelompok delapan rakaat untuk melanjutkan dengan shalat witir sebanyak tiga rakaat.

Setelah selesai shalat witir, dilanjutkan oleh jamaah yang shalat dua puluh rakaat, dan giliran kelompok yang delapan keluar dari barisan shalat. Menariknya, jumlah jamaah yang dua puluh rakaat lebih banyak secara kuantitas dibandingkan dengan pengikut delapan rakaat. Namun mereka mau “mengalah” dengan jumlah yang lebih kecil.

Hebatnya lagi, ketika mulai shalat isya hingga delapan rakaat, kelompok delapan dan dua puluh melakukannya dalam satu jama’ah. Artinya tidak dipisahkan antara dua kelompok tersebut. Tidak hanya itu, panitia mesjidpun mempersiapkan dua imam shalat yang memiliki tanggung jawab berbeda setiap malamnya. Shalat witir jama’ah yang delapan dan dua puluh rakaat dipimpin oleh imam yang berbeda. Ketika selesai kelompok yang delapan rakaat, maka imampun diganti untuk kelompok dua puluh rakaat yang melanjutkan dua belas rakaat shalat terawih dan tiga rakaat witir.

Cara melakukan ibadah terawih di mesjid Baiturrahman yang jamaahnya mencapai ribuan setiap malamnya adalah manfaat nyata dari implementasi nilai-nilai toleransi. Sepengetahuan saya, praktek seperti di Baiturrahman tidak hanya ada di satu mesjid, namun banyak tempat ibadah lainnya yang menjalankan model serupa. Ibadah ini menunjukkan betapa beragamnya masyarakat Indonesia. Agama yang berfungsi sebagai payung bertugas untuk melindungi penganutnya dalam berbagai hal, termasuk juga kebebebasan dalam beribadah.

Kalau kita melihat praktek ibadah terawih, begitu toleransinya Indonesia. hidup terasa sangat indah ketika toleransi itu diimplementasikan dengan sebenarnya. Bayangkan kalau saja ada kelompok masyarakat yang tidak bisa menerima perbedaan dengan cara ibadah terawih, saya yakin setiap malam ada konflik, setiap malam ada tindakan-tindakan anarkis, bahkan tidak tertutup kemungkinan aka ada yang hilang nyawa kalau setiap malam bersiteru dengan jumlah rakaat shalat terawih.

Kalau kita tarik dalam konteks yang lebih luas, sebenarnya setiap agama sangat menjunjung tinggi perbedaan. Perbedaan dalam memilih calon pemimpin, beda pilihan partai politik, beda pendapat dalam menanggapi isu atau setiap permasalahan. Seandainya perbedaan-perbedaan tersebut disikapi layaknya seperti menerima perbedaan dalam menjalankan ibadah terawih, saya yakin akan sangat indah.
photo from nittgritt.com
ketika perbedeaan disikapi dengan pikiran jernih, dan dikedepankan dialog atau diskusi, tidak ada kekerasan, tidak ada perusakan tempat-tempat umum, tidak ada perkelahian antar kelompok, tidak muncul kelompok yang membenci atau menolak organisasi tertentu dengan berbagai alasan, dan berbagai aksi-aksi lainnya yang selama ini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Kita berharap kalau kesediaan kita untuk menerima perbedaan dan mempraktekkan toleransi tidak hanya dalam ramadhan saja, tetapi juga pada bulan-bulan selanjutnya. Kalau agama saja menjunjung tinggi perbedaan, kenapa kita harus bertengkar? Atau kita ganti saja “Bhinneka Tunggal Ika” menjadi “Bhinneka Tinggal Duka”.

Written by: Muhamamd Adam adalah Peserta Youth Muslim Exchange Program Indonesia-Australia 2012 dan Sekjend Komunitas Demokrasi Aceh Utara 2011.  

August 27, 2012

#Catatan Harian; Antara Menerima atau Menolak

Santriwati yang Sedang berolahraga.
“The best way to acquaire knowldge is teaching it”. Kalimat tersebut yang memotivasi saya untuk berpikir ulang ketika pimpinan dayah saya menyuruh saya untuk mengajarkan pengajian kepada santri. Saya sudah tinggal di dayah terpadu Ruhul Islam selama 8 tahun yang terdiri dari 3 tahun belajar pada masa SMA dan 5 Tahun yang saya lalui sambil kuliah di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Meskipun sudah 8 tahun, saya tetap merasa canggung dan berkecamuk antara menerima atau menolak ketika kondisi seperti ini.Tentu saja ada plus minusnya kalau saya mengambil kesempatan ini, begitu juga sebaliknya.

Pertimbangan kenapa saya harus saya menerima:

Pertama, saya ingin mengajarka pengetahuan agama Islam kepada santri secara komprehensif semampu saya. Artinya saya tidak hanya berfokus pada kitab-kitab kuning* saja. Tetapi saya ingin membekali juga dengan pengetahuan islam yang kontemporer yang sangat dibutuhkan pada zaman modern. Saya ingin mengajak mereka berpikir kritis tentang kasus atau phenomena yang terjadi pada masa kini yang sebagiannya dulu mungkin belum ada pada masa rasulullah ataupun perlu 'dimodifikasi' untuk konteks kekinian.

Contoh kecil, bagaimana seorang muslim yang membela bangsanya pada even olah raga international, namun pertandingannya pada bulan ramadhan? bagaimana hukum puasa diatasnya? Atau kenapa zakat sekarang tidak berimplikasi terhadap kesejahteraan orang miskin? Untuk kontek Indonesia, bagiaman kita harus memaknai perbedaan dalam memulai puasa atau berahari raya? Bagaimana kalau seandainya ijab qabul pernikahan dilakukan via conference untuk kondisi-kondisi tertentu?. Menurut saya kondisi-kondisi tersebut rentan terjadi pada masa sekarang apalagi untuk 20 atau 30 tahun yang akan datang. Intinya saya ingin mendoktrin santri untuk tidak hanya fokus pada teks tetapi juga bagaimana menghubungkannya dengan kontek kekinian.
Salah satu suasana pengajian.

Hukum-hukum yang bersumber pada teks-tek alqur’an hanya dijadikan pedoman dan fondasi untuk kemudian berijtihad sesuai dengan kebutuhan sekarang. Dengan kata lain, saya ingin mengajak mereka untuk berpikir lebih terbuka (open-minded), menghargai perbedaan yang ada, toleransi, dan sebagainya. Tentu saja, proses belajar mengajar dan apa yang mereka terima selama di bangku pengajian sangat mempengaruhi pemikiran mereka nantinya ketika jadi kepala desa, imam di mesjid, dosen di kampus, birokkrat di kantor, legislatif di DPR, dan sejumah profesi lainnya.

Alasan kedua yang sangat memberikan self-motivation kenapa saya harus mengambil kesempatan ini adalah untuk belajar atau membekali diri. Saya percaya bahwa cara terbaik untuk belajar adalah mengajar dan kebanyakan ilmunya akan lebih bertahan lama dan mengikat dalam pikiran apabila ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Artinya tidak hanya disimpan di dalam otak sehingga membeku karena tidak pernah dituturkan, dibicarakan, dan diajarkan.

Di sisi lain, sekarang saya merasa sangat “kosong” hidupnya ketika pengetahuan agama saya sangat minim. Belakangan saya sering mempertanyakan bagaimana dengan shalat saya, puasa saya, bacaan al-qur’an saya, dan sebagainya. Artinya saya masih sangat ragu dengan amalan saya karena kekurang pengetahuan saya dalam bidang agama, khususnya berkenaan dengan tauhid dan fiqh. Makanya ketika ada kesempatan seperti ini, saya berpikir ini kesempatan yang tepat untuk membekali diri juga.

Alasan ketiga, saya menilai kalau ini adalah “kesempatan”. Karena ini adalah kesempatan belum tentu saya mendapatkan kesempatan seperti ini pada masa mendatang. Sekarang Abati* sedang “mendengar suara saya” dan beliau ingin saya lebih maju dari sekarang, belum tentu keingan seperti itu akan terus ada buat saya. Lumrahnya hidup, ada naik, ada turun, siang malam, hitam putih, disenangi dibenci, dikasihi dimarahi, disanjung dilecehkan, itu semua adalah sunnatullah yang tidak bisa kita elakkan. Sebagai manusia, seyogianya kita harus melakukan yang terbaik setiap saat.

Di sisi lain, kenapa saya merasa bimbang ketika ada Abati meminta saya untuk mengajarkan kitab arab kepada santri adalah:

Satu, saya mempertimbangkan kemampuan saya saat ini. Kapabilitas saya dalam ilmu agama boleh dibilang BIG ZERO. Apalagi kitab-kitab arab yang banyak digunakan dalam pengajian. Untuk informasi saja bagi anda yang membaca catatan harian saya ini, dayah Terpadu Ruhul Islam memadukan pendidikan umum dengan agama. Pelajaran umum dipelajari di sekolah yang berada dibawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara. Untuk membekali santri degan pengetahuan agama, santri diajarkan ilmu agama yang bersumber dari kitab-kitab arab seperti fiqh, nahwu, saraf, dan sebagainya seperti yang digunakan di dayah-dayah murni atau salafi* pada umumnya.

Dua, saya khawatir dengan kekonsistensi, komitmen, dan kedisipinan pribadi saya. Hari ini, karena niat saya yang terlalu tinggi untuk belajar dan mengajar, maka saya ambil langsung tawaran ini. Namun besok lusa, semangat saya turun, komitmen saya mulai berkurang, karena kesibukan saya tidak disiplin atau ketidakmampuan saya untuk mengatur waktu, akibatnya saya tidak bisa fokus. Apalgi saya juga menerima tawaran dari STAIN untuk mengajar pada semester ini. Pada titik ini, santri yang menjadi korban, saya tidak totalitas, dan akibatnya terkesan saya mempermainkan pimpinan dan dewan guru lainnya yang sudah percaya kepada saya. Karena to be honest, selama ini saya menilai diri saya kurang konsisten, melakukan sesuatu tergantung pada mood dan kondisi. Tidak disiplin. Tapi di sisi lain, saya juga berpikir mungkin saja dengan disuruh mengajar, saya bisa juga membentuk kedisplinan diri. karena setiap hari saya harus mengulang dan belajar sebelum mengajar, siapa tau secara perlahan bisa membentuk sikap dan menumbuhkan semangat belajar, yang pada saatnya nanti akan menjadi budaya pribadi saya. Sehingga pada titik ini, kedisplinan dengan sendirinya akan terbentuk.

Alasanya urgen lainnya adalah keinginan untuk melanjutkan study master. Saya tidak tau kalau ini tuntutan atau hanya sebatas wacana yang saya sering bicarakan dan diskusikan dengan orang-orang sehingga terkesan mendesak untuk saya lakukan. Memang di satu sisi, saya tidak ingin bermunafik, kalau saya ingin berkarir sebagai dosen, tentu saja saya harus punya S2. Belum lagi saya harus membiyai adik-adik saya yang sedang dalam pendidikan karena orang tua tidak sanggup lagi bekerja karena faktor usia. Memang ketika saya menuliskan seperti in, terkesan kalau dengan mengaji seolah-olah tidak akan mampu membiayai hidup saya dan keluarga. Memang dalam hal ini agak paradoks.

Karena faktanya, tanpa ijazah orang-orang hebat di Indonesia tidak bisa banyak berkiprah, apalagi di birokrat atau akademisi yang ruangnya hampir tertutup untuk mereka. Saya pikir ini adalah salah satu PR besar pemerintah. Supaya orang tidak perlu lagi khawatir dengan ijazah atau tidak ada ijazah, selama mereka punya kemampuan, idealanya mereka tetap mendapat kesempatan yang sama dengan orang-orang lain. Nah dalam hal ini, menurut saya perlu campur tangan pemerintah untuk membuat kebijakan, membangun sistem dan melakukan monitoring serta evaluasi yang komprehensif dalam prakteknya. Ironi memang, disatu sisi kita mengagung-agungkan kalau Indonesia adalah negara dengan penduduk beraga Islam terbanyak di dunia. Tapi disisi lain, kita tidak menghargai orang-orang yang mempunyai ilmu agama, bahkan mendiskriminasi. Lantas, dimana bukti keislamana negara dan pemimpin kita?

Balik lagi kepada niat saya mau kuliah, karena ambisi saya ingin kuliah keluar negeri, saat ini saya memang sedang menunggu beberapa kesempatan/pengumuman. Pertama, beasiswa Pemerintah Aceh tahun anggaran 2012 dimana tahapannya sudah pada seleksi TPA, psikotes, dan wawancara. Program Pembibitan Alumni Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sebagai calon dosen. Sedang menunggu jadwal interview. Terakhir, applikasi Australian Development Scholarship (ADS) sudah saya kirimkan dan menunggu pengumuman. Kalau ada salah satu kesempatan ini saya dapatkan, sudah pasti saya tidak bisa lagi di Dayah karena harus ikut persiapan bahasa. Untuk beasiswa Pemda Aceh, belajarnya di Banda Aceh, beasiswa Pembibitan dari DITPERTAIS (direktorat pendidikan tinggi Islam), kursusnya di Jakarta sedangkan ADS biasanya di Jakarta atau Bali.

Mempertimbangkan hal inilah yang membuat saya bimbang. Karena saya menginginkan idealita kalau saya sudah memutuskan untuk mengajarkan kitab, saya harus totalitas. Setiap hari saya harus mengulang, saya harus berdiskusi dulu dengan dewan guru senior lainnya yang mahir dalam kitab kuning. Ya Allah...saya benar-benar bingung untuk mengambil jalannya.

Tapi sebenarnya saya masih punya alternatif yang lain yaitu dengan menunda 2 tahun niat saya untuk study. Sekarang saya bisa fokus membekali diri dengan pengetahuan agama dengan mengajar, terutama untuk bisa membaca kitab-kitab arab dan meningkatkan kemampuan bahasa inggris, khususnya TOEFL.

Nilai lebihnya saya bisa mendapatkan 2 hal pada saat bersamaan, namun kekurangannynya adalah kalau saya ikut proses pembelajaran yang ditanggung ADS, DITPERTAIS, atau Pemerintah Aceh tentu saja akan lebih terarah dan berkualitas karena mereka sudah punya sistem yang established. Berbeda kalau saya secara otodidak yang kedisplinan saya juga masih sangat miskin.

Kekurangan lainnya adalah pertimbangan umur. Kalau saya bisa melanjutkan S2 tahun depan, 2 tahun kedepan saya sudah mendapat gelar master. Tapi kalau saya menunda 2 tahun lagi, berarti saya harus bersabar 4 atau 5 tahun lagi untuk bisa dapat gelar master. Karena umur saya sekarang 25 tahun (1 oktober nanti), pada usia 30 tahun saya baru bisa berkarir. Nah kalau pada usia tersebut, saya juga harus memikirkan untuk berumah tangga...wow complicated banget ya!!!

Saya menuliskan ini, terutama untuk bisa memetakan secara jelas kekurangan, kelebihan, resiko, dan manfaat yang akan saya dapatkan ketika saya menerima atau menolak kesempatan ini. Karena sejujurnya ini termasuk keadaan yang berat untuk saya putuskan karena menyangkut hidup saya kedepan. Manfaat kedua dengan saya mempublikasikannya di blog, akan menjadi self-evaluator sekaligus self-motivator buat saya untuk tetap berkomitmen terhadap apa yang saya putuskan.

Dengan saya mempublikasikannya di blog, tentu saja akan menjadi konsumsi publik, saya mengharapkan ini akan menjadi tanggung jawab moral saya yang akan mendrive saya untuk berkomitmen. Kalau saya tidak menuliskanya, mungkin saja saya tidak berpikir manfaat begini, resikonya seperti itu. Tapi setelah saya tuliskan, semuanya tergambarkan dengan jelas plus dan minusnya.

Kepada anda yang membaca curhatan saya ini, pelajaran yang bisa anda ambil adalah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Belajar ketika anda memiliki kesempatan. Jangan tunda sampe esok, mensyukuri nikmat tuhan, usia yang sudah diberikan, waktu yang ada,  lakukan sekarang dan mulai pada saat anda dianugerahi kesempatan. Kalau saja saya dahulu ketika masa-masa SMA sadar untuk belajar ilmu agama, tentu saja kemampuan saya membaca kitab kuning, sudah ada dasarnya walaupun tidak baik. Dan ibadah sayapun semakin berkualitas. Tapi karena saya dulu tidak patuh dan hanya belajar asal-asalan, yang penting masuk, tidak mau mengulang, tidak fokus, akibatnya sekarang saya dihadapkan pada keadaan seperti ini. Ya...yang namanya penyesalan tidak pernah datang duluan, kalau duluan ya bukan penyesalan namanya? He...............
Suasana Pengajian pada malam hari.

Ya Allah... show me the way to lead..I am strongly believe what are you currently giving for me is the best. Amin ya Allah.

Ruhul Islam-Aceh Utara
27 Agustus 2012,

~Adam~

Keterangan:
*) Kitab Kuning adalah Istilah lain dari kitab-kitab Arab yang tidak ada baris atau disebut
   juga Kitab Gundul.
*) Abati adalah Istilah yang kami gunakan untuk memanggil pimpinan dayah.

July 23, 2012

Kompilasi “Notes From Australia”

Photo diabadikan oleh Mas SidQie tanggal 17 Juni 2012
di Kyabram Fauna Park, Shepparton.


Alhamdulillah, Saya diberikan kesempatan oleh Allah melalui Australia Indonesia Institute (AII) untuk Berkunjung ke Australia melalui program Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia Austra atau Muslim Exchange Program (MEP). Saya bersama 4 orang rekan lainnya se Indonesia mendapatkan kesempatan berkeliling Australia dari tanggal 11 sampai dengan 24 Juni 2012. Kami melewati 2 minggu dengan agenda yang sangat padat di 4 daerah yaitu Melbourne, Shepparton, Canberra, dan Sydney.

Mendapat kesempatan berkungjung ke Luar Negeri tentu saja banyak sekali manfaatnya. Dalam program MEP ini, dari substansi program, jelas sudah manfaatnya yaitu untuk menggali informasi sebanyak mungkin tentang kondisi ummat muslim di Australia dalam interaksinya dengan masyarakat agama lain dalam berbagai sendi kehidupan; politik, sosial, ibadah, agama, budaya, ekonomi, dan sebagainya.

Menariknya ketika berkunjung ke Luar Negeri adalah banyak hal yang berbeda yang kita temui di sana. Dari apa yang saya dengarkan, saya baca, dan saya lihat, Saya mencoba untuk menurunkannya dalam bentuk catatan series sebanyak 25 episode.

Menyangkut dengan catatan tersebut, ada beberapa hal yang perlu anda ketehui terlebih dahulu:

Pertama, Semua catatan ini adalah PENGALAMAN pribadi saya. hampir semua notes tersebut bersifat subjektif dan itu penilain pribadi saya dari apa yang saya lihat, saya baca, dan saya dengarkan. Artinya, tentu saja kita punya point of view yang berbeda dari setiap apa yang saya tuliskan. Karena ini sifatnya personal experience, ya ini sangat bergantung pada tingkat ketajaman analisis saya dan kemampuan saya untuk menarasikannya.

Kedua, catatan-catatan tersebut ada yang bersifat informative, dokumentative dan evaluative. Artinya itu hanya point of view saya. ketika saya membaca, mendengarkan, atau melihat sesuatu kemudian saya coba interpretasikan dan saya temakan dengan bahasa-bahasa yang terkadang terlalu hiperbola. Namun, sekali lagi itu hanya masalah permainan bahasa.

Ketiga, sebenarnya saya menuliskan catatan tersebut ketika saya masih berada di Australia. Namun baru bisa saya posting ketika sudah tiba di Indonesia. karena tidak sempat saya posting serentak, makanya agak lama. Terutama dalam pemilihan photo-photo yang berkenaan dengan tulisan yang sedang saya uraikan.

Keempat, tujuan dari saya menuliskan catatan ini adalah [1] untuk menunaikan janji saya dengan kawan-kawan yang minta sharing pengalaman saya dari MEP. [2] saya percaya bahwa banyak orang lain yang ingin mendapatkan kesempatan serupa, namun karena banyak alasan  mereka belum mendapatknya, disamping keterbatasan dana yang dimiliki oleh AII, juga mungkin mereka tidak memenuhi syarat untuk mendaftar atau alasan-alasan lainnya. Jadi sharing pengalaman melalui tulisan ini dapat menjadi bagian dari kontribusi saya setelah mendapatkan kesempatan langka ini. [3] selanjutnya adalah saya ingin mendokumentasikan setiap momen dari perjelanan ini, mungkin kalau sekarang tidak terlalu bernilai buat saya, tapi suatu saat nanti catatan-catatan ini akan sangat bermanfaat. [4], tujuan terakhir, orang bilang “Sekali tepuk, 2 nyamuk mati”. Saya berharap dengan menulis, dapat memperbaiki kemampuan writing skill saya.

MEP adalah kali kedua saya bisa ke luar negeri. Pertama kali adalah waktu mengikuti Program belajar Bahasa Inggris (academic purpose) di Universitas Ohio, Amerika Serikat tahun 2010. Namun sayangnya waktu itu, saya tidak banyak menulis catatan, dan itu yang saya sesali juga. Karenanya dalam program MEP, jauh-jauh hari saya sudah merencanakan setiap moment dari proses perjalanan MEP.

Last but Not Least!!!
Sebagai blogger pemula, saya sangat butuh dukungan semangat dari para pembaca supaya saya tetap menulis and ngeblog...Kata Mas Nukman Luthfie "Blog tanpa komentar, bagi banyak narablog, bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan"....terlebih lagi saya blogger pemula...SO PLEASE TINGGALKAN KOMENTAR PEDAS, MANIS, ASIN, atau APAPUN RASANYA SETELAH ANDA MEMBACA SETIAP CATATAN INI!!!

Terakhir...
Thanks in Deep for Australia Indonesia Institute (AII) selaku funding dari Program ini. Terus Mbak Mila yang super bertanggung jawab sebagai Direktor Program MEP. Thanks Mbak  buat semuanya, pendampingan, bimbingan, saran, dan kesuksesan program ini, sebagian besar adalah kontribusi Mbak...I don't know how to thank you Mbakkkkkkkkkkkkkkkkk !!May God Bless you ever!!!amin......................

Buat Universitas Paramadina selaku Implementing Agency yang sudah nyeleksi kami di Indonesia. Buat Mas Wawan, SidQie, Mbak Angky, dan Mas Tony yang sudah mewarnai dan memperkaya pasukan MEP. Untuk Dr. Eeqbal Hassim dan Istrinya, Struan Jones dan Faza Fauzi yang bersedia menamani kami selama di Melbourne.


Next, Brother Nail dan Maryam Bekris dari Islamic Council of Victoria yang super mega friendly and outstanding.  Buat Pengurus Islamic Museum of Australia. Then, Untuk kawan-kawan Alumni MEP seperti Asmaah Helal, Sana Gillani, Omar, dkk...Moga kalean juga tidak kalah mendapatkan pengalaman yang sama seperti kami ke negara kalian.  dan special buat mereka-mereka yang kami temui dalam program ini. Informasi, Saran, dan Bimbingan yang Bapak/Ibu berikan  sangat bernilai buat kami. and above all, buat Mbak Anindita dari Kedutaan Australia Jakarta yang sudah mengurus kami sebelum dan selama di Jakarta. Thanks for All Mbak ya!!!

enndddddddddddddddddd the last is for FOUR of my Friends; Mas Ridho dari Wonosobo, Mas Zainal dari Tulung Agung, Lusi dari Batam, dan Mbak Elis dari Cianjur...you guys being part of my story already!!!

Selamat Membaca, Silakan klik judul-judul di bawah untuk membacanya!!!

Semoga ada manfaatnya buat anda!!!amin………….


  1. Usaha Sekali Saja Tidak Cukup
    Photo diambil oleh Mas SidQie di Kyabram Fauna Park, Shepparton, Melbourne.
    Tanggal 17 Juni 2012.

  2. 3 Minggu, 2 Kedutaan, 5 Rahmat

    Group Picture dengan Komunitas Alumni Muda Indonesia (KAMI)
    Photo diabadikan  tanggal 2 Juni 2012 di @America Pacific Place Jakarta.


  3. Ketika Kristiani Mengurus Muslim

    Photo diabadikan oleh Mas Ridha di Sydney Tanggal 22 Juni 2012.

  4. Alhamdulillah "God Saved Me"

    Group Picture di Kyabram Fauna Park.
    Photo diabadikan Mas SidQie tanggal 17 Juni 2012.
  5. Prepare Tomorrow, Today
    Photo diabadikan oleh Mas SidQie ketika pertemuan dengan
    Boards of Imam ICV, Melbourne tanggal 16 Juni 2012.

  6. Yang Ditolah Hati, Itulah Dosa
    Photo diabadikan oleh Mas Ridha di Sydney tanggal 22 Juni 2012.


  7. Saatnya Menjadi Manusia Wool

    Photo diabadikan oleh Mas SidQie di
    Kyabram Fauna Park, Shepparton.
    Tanggal 17 Juni 2012.


  8. Kantin Kejujuran di Mesjid Melbourne
    Photo di Depan State Library Victoria, Melbourne tanggal 13 Juni 2012.


  9. Harapan Baru untuk Islam
    Photo di Depan Darling Tower Melbourne
    Photo diabadikan oleh Mbak Elis tanggal 14 Juni 2012.

  10. Teaching by Leading

    Group Picture di dekat Danau Barley Griffin, Canberra.
    Photo diabadikan oleh Mas Aan tanggal 19 Juni 2012.

  11. Antara Minoritas dan Manyoritas
    Photo di Halaman University of Melbourne.
    Diabadikan oleh Mas Zainal 15 Juni 2012.


  12. Amanah Sukarno di Negeri Kangguru
    Photo ini diabadikan oleh Mas Ridha di Sydney tanggal 222 Juni 2012.

  13. Berda'wah di Gereja
    Photo Bareng dengan Prof. Islamil Albayrak di Australian Catholic University, Melbourne.
    Photo diabadikan oleh Lusi tanggal 12 Juni 2012.


  14. Membangun Tanpa Merusak
    Group Picture (Peserta MEP) di Halaman Australia Parliament House tanggal 19 Juni 2012.


  15. Indonesia-Australia di Mata Prof. Tim Lindsey
    Photo ini diabadikan oleh Lusi di salah satu danau di Shepparton tanggal 17 Juni 2012.

  16. Ketika Presiden Minta Ma'af
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal di Melbourne University tanggal 15 Juni 2012.

  17. Ketika Teh, Kopi, dan Susu Bercampur dalam 1 Gelas

    Photo Bareng dengan David Schutz (Sekretaris JCMA) Melbourne.
    Photo diabadikan oleh Mas Ridha tanggal 13 Juni 2012.

  18. It's not about WHAT, but WHY
    Photo di Australian International Academy of Education (Islamic School), Melbourne.
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tanggl 14 Juni 2012.

  19. Tangan Tuhan di Australia

    Group Picture di Depan Parliament House Australia.
    Photo diabadikan oleh Mas Aan tanggal 19 Juni 2012.

  20. Pesan Tuhan Lewat Tulisan
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tanggal 15 Juni 2012 di Uni of Melbourne.

  21. You're the Product of the Environment

    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tanggal 15 Juni 2012 di Uni of Melbourne.

  22. Ketika Kafir Mengajar Islam Kepada Muslim

    Photo di Manly Beach Sydney.
    Photo diabadikan oleh Mas Zainal tangal 23 Juni 2012.


  23. Tidak Hanya Sebatas Simbol

    Photo diabadikan oleh Mas SidQie 17 Juni 2012.

  24. Merakyatnya DPR Australia
    Group Picture di depan Parliament House Australia tanggal 19 Juni 2012.

  25. Walikota Islami yang Tidak Islam
    Photo dengan latar Opera House Sydney.
    Photo diabadikan oleh Mas Ridha oleh Lusi tanggal 23 Juni 2012.




July 22, 2012

[Episode 25_Note for MEP Australia] Walikota Islami yang tidak Islam


Written in:
Forrest Inn Hotel and Apartment, Canberra
Selasa, 19 June 2012 // 22.22 Canberra Time

Photo diabadikan Mas Zainal di Manly Beach Sydney tanggal 23 Juni 2012.

Pada hari kedua kami berada di Shepparton, kami berkunjung ke Ethnic Council of Shepparton dan ke tempat pelatihan RED R, sebuah NGO yang bergerak di bidang pelatihan untuk para pekerja, petugas, dan relawan yang berkontribusi untuk pengungsi baik yang datang dan ditampung di camp-camp di Australia maupun di luar negeri. Seperti Bencana Alam Tsunami di Aceh, banjir di Thailand, Bencana di Srilanka dan lain-lainnya, RED R mengirim timnya untuk memberikan bantuan dalam banyak hal seperti makanan, air, sanitasi, penginapan, dan sebagainya. Nah tim tersebut dilatih secara intensif di Gedung Kampus Fakultas Pertanian Universitas Melbourne yang berlokasi di Shepparton (sekitar 2-3 Jam perjalanan dari Kota Melbourne).

Bapak Chris (1 kiri) dan Salah satu staff RED R di Shepparton.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012.

Kami kesana ditemani oleh Chris Hazelman yang menyambut kami pertama kali di Ethnic Council of Shepparton. Dia juga ikut menamani kami pada siang hari ketika kami berkunjung ke tempat pusat pelayanan masyarakat Aborigin di kawasan Shapperton, namanya Rumbala Aborginal Co-operative Ltd. Menariknya ketika berkunjung ke Rumbala, kami dikasih bingkisan ketika pulang, mereka memberikan kami gelas cantik dan gantungan kunci. Hal ini justru sebaliknya, kami tidak memberikan apa-apa untuk Rumbala. Malah kami kasih ketika kami kunjungi tempat lain, yang tidak memberikan ke kami..he….minta imbalan ni ye????..he……….sorry Mr Leon Sauners.

Oleh-Oleh buat Bapak Chris dari Pasukan MEP 2012.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012.


Dalam agenda hari kedua di Shepparton, ada satu pelajaran penting yang juga mungkin berguna buat anda yaitu sikap humble Bapak Chris. Beliau adalah walikota Shepparton yang sudah memimpin Shepparton selama 25 tahun. Dia adalah walikota…walikota…sekali lagi saya ulangi, dia adalah walikota lhoe….coba bayangkan, dia menyambut kami, terus membawa kami ke training center RED R yang menghabiskan waktu sekitar 30 menit by car, terus makan siang bersama, dan lanjut ke Rumbala Center. Seharian dia menghabiskan waktunya bersama kami yang hanyak anak-anak muda dari Indonesia.

Makan Siang dengan Bapak Chris di Restaurant China yang memberikan Kerupuk Gratis..hee..
Photo diabadikan oleh Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012.

Tidak hanya itu, dia sangat ramah, sederhana, disiplin, fleksibel, dan mandiri. Dia mengendarai mobilnya sendiri, padahal dia punya staff. Di tengah perjalanan, dia melihat pemandangan yang unik di Australia, dia menghentikan mobilnya supaya kami bisa photo-photo. Dia ikut makan satu meja dengan kami.

Bapak Chris Hazelman mempresentasi apa yang dia lakukan dan keadaan masyarakat di Shepparton.
Photo diabadikan oleh Mas SidQie pada tanggal 18 Juni 2012.

Wah……..saya membayangkan kapan ada walikota seperti Christ? Jangankan walikota atau Bupati, Bapak Camat aja susah kita jumpai di Indonesia yang mempunyai kepribadian seperti Christ. Kebanyakan pejabat kita selalu minta dilayani dan dihormati oleh rakyatnya. Kalau turun lapangan harus dipayung. Mobil tidak mau kendarai sendiri. Tas gak boleh pegang sendiri. Pintu harus dibuka oleh staff. Buku dipegang oleh sekretataris. Bungkus nasi siang dibuang petugas. Celakanya dengan pelayanan manja seperti itu, prestasinya banyak mengecewakan. Tidak hanya itu, tidak sedikit dari mereka yang terlibat kasus korupsi, atau criminal lainnya.  Sangat paradok bukan??? Christ yang tidak Islam tapi berperilaku seperti apa yang diajarkan oleh Islam.

Semoga anda dapat mengambil pelajarannya!


Group Picture dengan Kawan-Kawan Mahasiswa Indonesia
yang sedang study di Australian National University, Canberra.
Photo diabadikan tanggal 20 Juni 2012.

[Episode 24_Note for MEP Australia] Merakyatnya DPR Australia

Written in:
Forrest Inn Hotel and Apartment, Canberra
19 June 2012 // 21.30 Canberra Time

Pengantar:
Catatan dibawah ini adalah tulisan yang saya kirimkan ke Media Cetak, Serambi Indonesia dan dimuat pada edisi 24 Juni 2012. Serambi Indonesia (Group Tribun) memberikan ruang kepada warga untuk menuliskan berita-berita menarik apa saja dalam rubrik Citizen Reporter. Silakan klik HERE untuk membaca di website Serambi Indonesia.


Photo ini dibadikan oleh Lusi pada tanggal 19 Juni 2012 di Parliament House Australia.

Saya beserta rombongan Pertukaran Tokoh Muda Muslim Indonesia-Australia (MEP) mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Parliamentary House (PH) Australia pada tanggal 19 Juni 2012. Parliamentary House adalah DPRnya Pemerintah Federal Australia yang berlokasi di pusat Canberra. Canberra sendiri adalah”kota buatan” pemerintah Australia sebagai ibukota Negara pada saat Melbourne dan Sydney bersiteru untuk menjadi ibukota.  Kami disambut oleh salah satu pemandu khusus parlemen. Kami dibawa keliling dan diperkenalkan seluruh bagian parlemen beserta orang-orang penting dalam pemerintahan Australia.

Ada banyak hal yang menarik bagi saya mulai dari sisi bangunannya yang sangat filosofis dan artistic, kegunaannya, sampai dengan anggota parlemennya sendiri. PH dibangun diatas tanah seluas 32 hektar pada masa Ratu Elizabeth II yang kemudian juga meresmikannya pada tanggal 9 Mei 1988. Bagunan yang sangat artistic tersebut adalah hasil rancangan Romaldo Giurgola of Mitchell dan Giurgola & Thorp Architect.

Dilihat dari lokasi bangunannya, PH berada di tempat yang sangat strategis. kalau kita keliling kota Canberra dari sisi apapun tetap Nampak bangunan PH ditengah. Lokasinya memang berada ditaran agak tinggi, tampaknya memang menjadi symbol kota Canberra sendiri, dan Australia pada umumnya. Persis seperti Mesjid Baiturrahman yang menjadi symbol Kota Banda Aceh, dan Masyarakat Aceh pada umumnya serta menjadi symbol Islam di Aceh.


Group Picture dengan Masnun Tahir (4 kiri) setelah selesai seminar di Australia National University, Canberra.
Photo diabadikan Mas Aan pada tanggal 20 Juni 2012.


Parliamentary House dikelilingi oleh kantor-kantor pemerintahan Australia dan Kedutaan, termasuk keduataan Indonesia. Kebetulan juga sempat menghadiri pertemuan dengan pihak kedutaan yang disambut oleh Wakil Duta Besar Indonesia untuk Australia.

Masih dari sisi bangunannya, PH berada persis ditengah-tengan kota Canberra. Karena Canberra sendiri memiliki dataran tinggi dengan bukit-bukit disekelilingnya, jadi bangunan PH lebih rendah dari dataran-dataran tersebut sehingga masyarakatnya dapat melihat gedung PH dari ketinggian. Menurut keterangan petugas yang memandu kami, hal tersebut sengaja dirancang seperti itu. Pesan yang ingin disampaikan bahwa rakyat itu lebih tinggi dari pemerintah. Pemerintah harus memprioritaskan rakyat untuk melayani mereka sebaik mungkin. Bukan malah diminta untuk melayani atau dihargai karena mereka pemerintah.

Karena bangunannya yang sangat artistis dan mewah, banyak pengunjung yang datang setiap hari ke PH. Pengunjung yang datang tidak hanya dari dalam negeri Australia, tetapi juga dari luar negeri. Tidak hanya itu, Saya melihat banyak pengunjung adalah pelajar SMP dan SMA. Mungkin saja mereka sedang belajar tentang ilmu sosial atau sejarah Australia, kemudia mengunjungi gedung parlemen langsung.

Menariknya bagi saya adalah PH menjadi sangat akrab dengan rakyat. Mereka tidak takut untuk masuk kedalam gedung parlemen, karena itu adalah gedung perwakilan mereka. Bahkan gedung parlemen juga menjadi salah satu situs wisata bagi turis-turis domestic dan international. Pelayananya sangat ramah dan bagus. Hebatnya lagi mereka mempersiapkan petugas-petugas yang siap melayani setiap pengunjung dengan ramah dan setia untuk berkeliling seluruh area gedung.


Photo di Parliament House tanggal 19 Juni 2012.
Ada hal lain yang lebih menarik dari DPR Australia yaitu mereka tidak bekerja di gedung parlemen. Mereka bekerja di daerahnya masing-masing. Saat ini, ada 150 anggota DPR dan 76 senator yang mewakili dari setiap Negara bagia Australia. Setiap anggota perlemen dan senat mempunyai kantor di daerah mereka masing-masing. Karenanya anggota parlemen sangat dekat dengan rakyat yang sudah memilih mereka. Masyarakat dapat langsung menyampaikan aspirasi, pendapat, atau masalah-masalah yang terjadi di kawasan pemilihannya. Anggota senat dan DPR hanya bertemu pada waktu-waktu tertentu saja di Parlementary House untuk memusyrawarahkan permasalahan yang terjadi, membuat kebijakan, atau kepentingan-kepentingan lainnya.

Inilah pelajaran penting bagi saya dan anda mungkin. Idealnya pemerintah itu ya merakyat dan melayani, bukan malah meminta untuk dilayani. Kondisi seperti sangat paradok mungkin dengan pemerintah kita yang kebanyakan diantara mereka beragama Islam. Padahal Islam mengajarkan sikap tawadu’, membantu sesame, memimpin dengan adil, dan sebaginya. Namun sayangnya nilai-nilai itu justru dipraktekkan di Negara yang idiologinya tidak Islam.

Semoga Bermanfaat!


Group Picture di depan Parliament House 19 Juni 2012.



July 18, 2012

[Episode 23_Note for MEP Australia] Tidak Hanya Sebatas Simbol



Written in:
Forrest Hotel and Apartments, Canberra
19 June 2012 ///  Canberra Time.

Adam berdiri di Info Board Victoria Market, Melbourne.
Photo diambil oleh Lusi tanggal 16 Juni 2012.
Kami diberikan kesempatan untuk Shopping sehari sebalum meninggalkan kota Melbourne.

Setelah meninggalkan Melbourne pada tanggal 17 Juni 2012 pagi, kemi menuju ke Shepparton, salah satu kota di Negara Bagian Victoria. Sekitar 2 jam perjalanan dengan menggunakan mobil untuk tiba di Shepparton dari Melbourne. Kota ini terkenal dengan flora dan faunanya yang sangat kaya. Banyak sekali pohon, kebun, sapi, dan sebagainya.

Pada hari pertama, kami mengunjungi mesjid tertua di Shepparton. Mesjid tersebut adalah mesjid muslim  pertama yang dibangun di Negara bagian Victoria. Mesjid tersebut dibangun sekitar tahun 1960 oleh masyarakat Albania yang berimigrasi ke Australia pada saat itu.

Ada yang menarik dari rumah ibadah ini yaitu karena ada kubahnya. Saya sudah mengunjungi 4 mesjid di kota Melbourne, namun tidak ada satupun yang memiliki kubah. tidak hanya kubah, menurut keterangan Nail, pengurus Islamic Council of Victoria mesjid-mesjid di Australia tidak boleh memasang microphone di bagian luar mesjid sehingga terdengar suara azan keluar. Alasannya suapaya tidak terganggu masyarakat agama lain dengan suara azan, apalagi azannya sampe 5 hari sekali.  Apalagi kalau bulan ramadhan orang-orang ngaji pada malam hari. Menurut Nail, atas dasar itu kenapa di larang kubah dan suara azan keluar.

Agak ironi memang, disatu sisi Australia adalah salah satu Negara yang sangat menjungjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan berkekpresi, namun disisi lain kebebesan tersebut juga tidak diberikan secara mutlak kepada penganut agamanya untuk melakukan apapun, memasang lambang apapun di rumah ibadahanya, dan bereskpresi sesuai seleranya.

Dari kondisi paradok seperti itu, bagi saya menarik untuk dipetik pelajarannya yang mungkin juga bisa bermanfaat bagi anda. Bahwa Agama di Australia tidak hanya sebatas simbolik semata. Tidak penting rumah ibadah ummmat Islam dibagun kubah sebagai tanda untuk membedakan antara rumah ibadah agama lain. Karena mungkin menurut mereka itu hanya symbol saja.

Mungkin bagi mereka symbol tidak penting, namun nilai-nilai pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih penting dari umbul-umbul seperti kubah. kondisi seperti ini, terkadang agak jauh sekali berbeda dengan apa yang terjadi dikampung saya di Aceh. Banyak masyarakat menilai kereligiusitas seseorang dari apa yang dipakainya.

Anda akan dianggap shaleh kalau anda pakai kain sarung dan peci. Anda akan dihormati karena mempunyai pengetahuan agama yang mendalam, karena anda bisa bahasa arab. Anda akan dianggap peduli terhadap Islam,karena banyak menjadi pengurus mesjid. Anda akan dipuji dan disanjung karena anda sering keluar masuk mesjid.

Namun bagaimana dengan pengamalannya?. Menurut saya shalat, puasa, zakat, dan ibadaha-ibadah lainnya adalah cara untuk meningkatkan keshalehan kita saja. Artinya seharusnya semakin rajib kita shalat, semakin sedikit kemaksiatan yang kita lakukan. Semakin banyak harta yang dizakatkan, semakin berkurang kita mengambil milik orang lain seperti korupsi.

Intinya semakin tinggi keshalehan agama kita, seyogianya semakin tinggi juga nilai-nilai itu terefleksi dalam kehidupan kita sehari. Semakin menghargai orang tanpa memandang status sosial dan ekonominya, semakin patuh terhadap rambu lalu lintas tanpa mempertimbangkan apakah ada polisi atau tidak. Dan berbagai praktek lainnya.

Photo diambil oleh Mas SidQie tanggal 18 Juni 2012 di Kyabram Fauna Park, Shepparton.

Namun sayangnya apa yang terjadi di daerah saya justru sebaliknya. Coba kita lihat bagaimana kebersihan di mesjid, bagaimana sikap kita terhadap kebersihan di tempat-tempat umum, bagaimana rasa simpati dan emapati kita terhadap masyarakat miskin. Bagaimana kemauan kita untuk mengambil sampah di jalan. Bagaimana kita mendahulukan pejalan kaki di jalan raya. Seberapa sering kita memberikan sedekah untuk pembangunan mesjid. Bagaiman sikap pejabat terhadap rakayatnya yang sama-sama muslim, bagaimana pelayanan publiknyanya, bagaimana pelajayanan di rumah sakit, bagaimana pelayanan di imigrasi untuk membuat paspor, bagaimana pelayanan di catatan sipil, dan masih banyak lagi praktek-praktek lainnya yang tidak mencerminkan bahwa keshalihan kita beribadah tidak berefek dan mempengaruhi kehidupan sehari-hari kita.

Menghargai orang tidak kita anggap ibadah, menepati janji tidak kita anggap ibadah, memindahkan sampah di jalan bukan ibadah, melayani orang sakit dengan sebaik mungkin tidak dianggap ibadah, memberikan perlindungan kepada rakyat juga tidak dianggap ibadah oleh pejabat. Menepati janji kampanye juga tidak dianggap melanggar nilai-nilai agama oleh politisi, dan sebagainya.

Artinya shalat, puasa, zakat, sedekah, dan lainnya yang kita lakukan ya hanya sebatas ibadah. Memang ini tidak semua, namun kebanyak seperti itu. Shalat semakin rajin, maksiat juga semakit kencang, zakat semakin sering, koropsi juga semakin lihai, puasa tidak ketinggalan, memaki orang juga tidak ditinggalkan. So, what are they for??? Kalau ibadah shalat, zakat, dan puasa tidak mampu mengubah kepribadian kita terutama dalam berinteraksi dengan masyarakat, ya artinya itu hanya sebatas simbolik saja.  Setuju???

Semoga bermanfaat!

Group Picture dengan Bonnie Hermawan (Shawl Kuning)  tanggal 15 Juni 2012.
Bonnie adalah BIDGE Project Team di Asia Education Foundation Sydney Myer Center Univ of Melbourne.



July 12, 2012

[Episode 22_Note for MEP Australia] Ketika Kafir Mengajar Islam kepada Muslim

Written in:
Darling Towers, Melbourne
Sabtu 15 Juni 2012 // 23.50  Melbourne Time


Background photo adalah Opera House.
Photo diabadikan oleh Mas Ridha ketika tour ke Manly Beach Sydney tanggal 23 Juni 2012.

Hari ini adalah hari terakhir kami berada di Melbourne, besok hari Minggu tanggal 17 Juni 2012, pagi-pagi jam 8 kami check out dari Apartemen Darling Towers menuju ke Shapparton untuk melakukan pertemuan disana. Hari ini kami hanya bertemu dengan Boards of Imam Victoria untuk agenda terakhir selama berada di Melbourne.

Untuk agenda beli-beli, kami didampingi oleh Faza, istri Struen Jones sekaligus adik Ipar Eeqbal, shopping ke Victoria Market. Victoria Market kalau di Indonesia kayak pasar rakyat di Tanah Abang atau Pasar Senen. Mulai dari jualan baju, kaus, topi, roti, kue, sayur, ikan, bumbu, bahkan orang jualan obatpun ada.

Namun yang memberi nilai lebih pasar ini adalah one stop market. Artinya semuanya ada ada disini. Mau beli ikan ada, beli obat ada, beli sayur ada, beli baju ada, piring ada, makanan ada, kue pa lagi, pokoknya lengkap semuanya ada disini. Dilihat dari segi efesiensi waktu, pasar seperti ini sangat bagus, karena orang tidak perlu menghabiskan lebih banyak diwaktu di jalan menuju ketempat lain untuk membeli keperluan atau kebutuhan rumah tangga misalnya. Kalau Beli Kaus di Blok A, Beli Sayur di Blok M, dan Beli Ikan di Blok X, tentu saja akan sangat menyita waktu dan tenaga apabila letaknya berjauhan, apa lagi berbeda arah.

Apalagi pada masa kini dimana efesiensi waktu begitu penting, karena orang sangat sibuk dengan berbagai kegaitan dan kesibukannya. Kalau belanja akhir pekan, makanya mereka lebih suka ke Mall atau Supermarket, selain barangnya dibungkus dengan rapi sehingga kelihatan bagus dan berkualitas juga mereka bisa beli berbagai kebutuhan disatu tempat. Inilah salah satu yang membuat capital tumbuh subur di Indonesia umumnya, terutama di Jakarta dan akibatnya pasar-pasar tradisional harus minggat ke pinggir kota.

Melihat kenyataan seperti ini, memang disatu sisi kita marah dengan kapitalisme, tapi disisi lain juga kita harus merefleksi diri bahwa pasar-pasar kita masih banyak kekurangannya dan pada saat bersamaan, kita juga mengambil manfaat dari keserakahan kapitalisme itu.

Malam ini kita tidak disediakan makan malam oleh panitia. Saya tidak tau kenapa, seharusnya memang harus dicover juga karena masih dalam program, ya ini kan full-funded program. Tapi untuk satu kali, bolehlah. Juga terlalu gimana gitu kesannya kalau complain. He......

Group Picture sebelum take off ke Canberra setelah mengikuti program di Melbourne dan Shepparton.
Mas SidQie (Jacket Biru) semenjak SMA sudah tinggal di Australia.
Photo diabadikan oleh Mas Wawan di Melbourne International Airport tanggal 18 Juni 2012.

Kebetulan Reza kewan yang saya kenal lewat Abangnya Dudi Abdullah, Pengajar Muda Aceh Utara, Indonesia Mengajar,  mengajak makan diluar. Tadi juga ditemanin sama Mas SidQie, temannya Reza sekaligus dia juga akan menemani kami ke Shapparton sebagai Pototgrapher Profesional.

Dari banyak topic dan isu yang kita bicarakan di restoran Arab di kawasan Coburg, ada satu hal yang membuat saya sangat terpukau. Yaitu media yang digunakan oleh Pemuda-Pemuda Muslim di Kota Melbourne untuk belajar Al-qu’an. Mereka menggunakan Aplikasi Skype dengan dukungan jaringan internet yang kuat untuk belajar al-qur’an. Sedangkan guru atau tutornya berasal dari kampung-kampung di daerah Mesir.

Fantastic, isn't it??? (Colek Mas Ridha).... Saya sangat menarik sekali ketika mendengar cerita mereka bahwa banyak remaja-remaja Muslim Australia yang mengikuti kursus ini. Ada yang belajar tajwid, dan ada juga yang menghafal al-qur’an. Dan mereka membayar sekitar 20-30 AUD kepada agent yang mengahubungkan antara guru di Mesir dengan murid di Australia. Amazing bukan????

Bagi saya, konsep ini langka sekali dan sangat menarik untuk kita terapkan di Indonesia mungkin. Hanya masalahnya, guru-guru pengajian di Mesir memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mapan untuk mengajar bule-bule Muslim di Australia.
Victoria Market. Photo diabadikan oleh Lusi Afriani tanggal 16 Juni 2012.

Terlepas dari keterampilan bahasa, ada yang menarik untuk kita petik pelajarannya dari konsep ini. Pertama, tidak ada yang tidak mungkin lagi di dunia ini. Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, informasi yang begitu cepat, semuanya sangat mungkin dilakukan. Dunia sudah tidak ada batas lagi.

Kedua, kita bisa belajar dari manapun. Belajar tidah harus selamanya dari buku teks, atau kitab gundul baru dikatakan belajar agama. Tapi juga bisa melalui pengalaman orang lain, belajar pada fenomena alam, belajar pada apa yang kita lihat dan dengarkan, dan juga bisa kita belajar pada benda mati seperti computer yang sekarang memiliki jaringan internet.

Poin ketiga adalah, ketika internet digunakan secara bertanggung jawab  untuk tujuan-tujuan positif, maka manfaatnya akan sangat besar. Dampak positifnya banyak. Begitu juga sebaliknya. Untuk kondisi umum di Indonesia, mungkin boro-boro kita bicara tentang penggunaan internet yang baik dan bertanggung jawab, wong masih banyak orang yang tidak bisa belajar computer.

Disisi lain, kadang-kadang kita juga salah kaprah, menerima perubahan secara mutlak tanpa mempertimbangkan kearifan lokal dan kesiapan kita sendiri,terutama mental kita. Pada saat ini, perkembangan internet di Indonesia begitu cepat dan pesat. Di Aceh, hamper semua warung kopi memiliki fasilitas Free-Speedy. Dan kalau ada warkop yang tidak memiliki fasilitas internet service, pasti peminatnnya kurang. Efek positifnya memang ada, tapi menurut pengamatan saya banyak juga mudharatnya,.

Banyak orang cuma nongkrong seharian di warkop dan online. Tidak memikirkan keluarga lagi bagi yang sudah menikah. Berkurangnya waktu dengan anak-anak bagi ayah yang sibuk kerja. Sering bolos bagi pelajar. Dan celakanya lagi, menggunakan internetpun Cuma untuk main game online dan berjudi. Bukannya dimanfaatkan untuk mencari informasi dan membaca berita penting, malah sebaliknya mejadi ladang dosa.

Dan inilah perbedaan signifikan antara kita dengan Negara-negara maju seperti Australia. Di Australia sangat tidak mudah untuk mencari internet gratis, jangankan tempat-tempat umum, di Hotel aja jarang ada yang gratis, semuanya harus bayar. Karena bagi mereka, informasi itu mahal dan untuk mengakses mendapatkannya, anda harus berkorban, minimal uang.

Coba anda bayangkan, computer dan internet yang berkembang pesat di barat, dan kebanyakan diinovasikan oleh mereka-mereka non-muslim, namun kita sebagai ummat Islam memanfaatkannya untuk belajar Islam. Dengan bahasa lain, inilah saatnya Kafir mengajar Islam tentang Islam.

Semoga bermanfaat!

Melissa Sharif (Australian Federal Police) sedang memperkenalkan diri
dalam sebuah jamuan makan malam dengan Konsulat Jendral Indonesia di Melbourne.
 Anisa adalah Alumni MEP Australia tahun 2012.
Dia bersama 4 rekan lainnya dari Australia berkunjung ke Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta selama program.


 
Web developed by Eka.aSOKA.web.id | Domain Host by aSOKAhost.com
Follow @MuehammadAdam